Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, August 10, 2006
Bumbu Dapur -- Bagian 4

Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.

Portugis telah menjadi negara adidaya seperti yang telah saya sebut di cerita sebelumnya, dan itu berlangsung hingga dua dasawarsa sebelum abab gemilang bagi Portugis  tersebut berakhir. Untuk mengetahui mengapa sang adidaya runtuh bahkan pernah "hilang" dari peta dunia di akhir abad ke-16 itu saya ndobosnya harus balik lagi ke akhir abad ke-15, teriring ucapan terimakasih bagi Mbak QQ yang damai yang seolah mengingatkan saya kalau masa-masa itu jangan  disaring dengan alasan menyingkat cerita karena itulah salah satu awal mula titik balik kehancuran sang adidaya. Mari kita mulai lagi .... layar dibuka dan gamelan ditabuh.

Ingat pada waktu Columbus "menemukan" benua Amerika tahun 1493 yang disangkanya adalah sisi Timur dari Indies? (lihat bagian satu dari seri cerita ini). Lha ... karena Spanyol merasa mereka sudah menemukan tanah rempah-rempah mereka lantas bersabda sak enak udelnya sendiri, daerah yang mereka temukan itu adalah miliknya dan ndak boleh diaku-aku jadi milik orang lain. Portugis yang dengan susah payah bisa tiba di Tanjung Harapan tentu saja mencak-mencak seperti butho cakil ketemu Janoko. Bagaimana Portugis tidak pentalitan, karena mereka yakin bahwa Tanjung Harapan adalah gerbang menuju sisi Barat dari tanah rempah-rempah dan jika maunya Spanyol itu lantas diamini saja, mereka bisa kehilangan hak untuk mendapatkan rempah. Ndak bisa ... ndak terima,  begitu kata Portugis. Perkelahian dua negara Katolik tersebut akhirnya di bawa ke Vatikan untuk dicari pemecahannya. Vatikan lantas memutuskan untuk membagi dunia menjadi dua, garis lurus pembagi lantas ditarik.

Tetapi rupanya tak semudah itu, garis itu tempatnya masih dipertentangkan oleh Spanyol dan Portugis, hingga akhirnya mereka bersepakat di mana garis tersebut di tarik. Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Tordesillas yang ditandatangani pada tahun 1494. Letak garis itu kira-kira 1700-an kilometer sebelah Barat Kepulauan Cape Verde yang ada di pantai Barat Afrika. Garis itu lebih ke Barat dari yang telah ditetapkan oleh Vatikan (Paus Alexander VI). Dalam peta modern garis itu praktis memotong Brazil. Wilayah sebelah Barat garis itu boleh dimiliki oleh Spantol, sementara Timurnya oleh Portugal. Lha wong namanya orang jaman itu yang belum percaya kalau dunia itu bundar, satu garis untuk sebuah bidang datar ya cukup untuk membaginya, tetapi kalau dunia itu seperti bola, ruwet jadinya. Kalau susah membayangkannya coba ambil bola tenis, lantas bikin satu dari kutub atas ke kutub bawah, satu saja, dan jangan memutari bola itu. Makin jauh kita dari garis itu, makin ndak jelas siapa punya apa kan, tumpang tindih. Ini nantinya diselesaikan dengan Perjanjian Saragossa pada tahun 1529 (simpan saja soal ini buat nanti).

Begitulah kemudian Spanyol ngubek-ngubek daerah sisi Barat dari garis Tordesillas mencari rempah. Sampai negara hampir bangkrut, rempah tak juga ditemukan padahal modal harus kembali. Amerika boleh-boleh saja tidak punya rempah, tetapi mereka memiliki barang berharga lain yang laku jual ... perak dan emas. Asiknya lagi ada perak dan emas yang tinggal ambil, karena sudah diolah dengan catatan kalau berani ngambil. Logam berharga siap comot itu dimiliki oleh penduduk asli Amerika, orang-orang Indian. Ada tiga suku Indian besar di Amerika yang daerahnya sedang diacak-acak oleh Spanyol, yaitu Inca, Maya dan Aztec.

Inilah bahayanya jika pedagang dan tentara lantas menggunakan Agama sebagai tunggangan, sehingga muncul istilah "Gold, Glory and Gospel" yang dengan sempurna diperagakan oleh para Conquistador. Untuk mendapatkan emas dan perak itu, ya harus perang dulu dan Spanyol tidak hanya menang teknologi (mesiu) mereka juga secara tak sadar memiliki senjata pemusnah masal, senjata biologis ...  cacar, sipilis dan penyakit Eropa lainnya. Tahun 1521, Aztec hancur dan tahun 1572 Inca juga bernasib sama. Indian Maya yang memiliki pola pemerintahan yang berbeda terbukti lebih sulit ditaklukan, walaupun akhirnya Maya juga hancur pada tahun 1697. Padahal dari ketiga suku besar itu, suku Maya adalah yang pertama bertemu dengan Spanyol. Begitulah, emas dan perak serta ditambahi kayu dan beberapa hasil bumi lain sebagai kudapan menjadikan Spanyol mampu bertahan dari keadidayaan Portugis dan pada suatu saat, situasi tersebut lantas berbalik. Bukan karena Spanyol lantas lebih kaya daripada Portugis, tetapi (salah satunya) karena urusan politik, urusan ketiadaan penerus Raja Portugis.

Sebelum saya ndobos masalah tahta, mari kita lihat kembali keadaan Portugis di penghujung abad ke-16. Kala itu kapal-kapal dagang Portugis dari Maluku dan Banda disesaki dengan rempah-rempah, satu kapal bisa mengangkut puluhan bahkan ratusan ton rempah, tetapi Portugis sendiri hanya menerima dalam jumlah sedikit hasil penjualannya. Lha kenapa? Korupsi sodara-sodara ... para pejabat tinggi hingga karyawan tanpa pangkat gagah yang bertugas di sepanjang jalur perdagangan rempah ngentit dan menjualnya sendiri kepada para pedagang dari Timur-Tengah. Akibatnya, Portugis agak kesulitan untuk meperbesar armada, menjaga jalur dagangnya dan yang pasti menggaji para karyawannya yang tukang korupsi itu.

Selain korupsi, kelakuan orang-orang Portugis juga nggilani sehingga tak disukai oleh para penguasa setempat. Mereka sering memalak penduduk setempat dan ngamuk kalau dibantah, merasa berhak untuk ikut-ikutan urusan orang lain terutama urusannya keluarga kerajaan setempat. Karena kelakuan tak terpujinya tersebut, Portugis akhirnya diusir dari Ternate pada tahun 1575. Di banyak tempat situasi serupa juga terjadi, Portugis melemah dan mulai kehilangan pijakannya.

Situasi makin parah ketika pada tahun 1578 Raja Portugis, Sebastian I yang baru berumur 24 tahun wafat tanpa meninggalkan keturunan sama sekali. Gosip-gosipnya Sebastian I adalah seorang homosexual. Portugis kisruh, orang-orang yang merasa memiliki hak untuk memegang tahta saling berebut. Akhirnya sesudah melalui pertarungan intrik tingkat tinggi yang mbingungi pol, suap dan segala cara sikut menyikut, pada tahun 1580 Raja baru berhasil di dapat ... Philip I of Portugal. Akan tetapi ... Philip I ini juga adalah Philip II raja Spanyol!! Sampeyan boleh ndlongop, tapi itu faktanya, Raja Spanyol dan Raja Portugis itu orangnya sama, cuma beda nama saja, dan akibatnya Portugis dinyatakan sebagai bagian dari Kerajaan Spanyol ... Portugis sang adidaya itu, lenyap dari peta dunia.

Belum genap setahun berkuasa Philip menghadapi masalah di Belanda (yang kala itu bernama Perserikatan Tujuh Propinsi) yang memberontak terhadap kekuasaan Spanyol. Pemberontakan Belanda dipimpin oleh William I yang bergelar Prince of Orange, yang akhirnya terbunuh. Tetapi itu bukan berarti pemeberontakan selesai, jalan terus. Agama menjadi (dijadikan) latar belakang perseteruan ini. Baru saja Philip bernafas lega sebentar, pada tahun 1587 terdengar lagi kabar, Mary, Ratu Skotlandia (yang Katolik) mati dihukum pancung setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan penghianatan dalam upaya membunuh Ratu Elizabeth I. Apa yang tampak seperti urusan antara Skotlandia dan Inggris itu sangat mempengaruhi Philip.

Philip bercita-cita untuk menggabungkan Inggris ke dalam kesatuan kerajaan Katoliknya. Dia pernah mengawini Ratu Mary I dari Inggris pada tahun 1554. Perkawinan yang hanya berumur 4 tahun itu berakhir dengan meninggalnya Mary. Inggris kemudian diperintah oleh Elizabeth I yang Protestan. Pupuskah cita-cita Philip? Belum sodara-sodara sekalian, karena Philip lantas memutuskan untuk menggenakan jalan langsung-langsung saja .... invasi. Perang yang dikenal dengan nama Perang Anglo-Spanyol ini berlansung antara tahun 1585 hingga 1604, padahal Philip mangkat tahun 1598 sementara Elizabeth tahun 1603.

Kita lihat sekarang  di penghujung abad ke-16 itu, Portugis lenyap, Spanyol muncul menjadi kekuatan adidaya baru yang ditantang oleh Inggris dan Belanda. Spanyol kemudian disibukan dengan perang melawan Belanda dan Inggris. Pada tahun 1588, armada Spanyol yang terkenal tak terkalahkan itu bisa dibuat babak belur oleh Inggris di Selat Dover. Dari 131 kapal dan 35.000 yang dimiliki Spanyol untuk maju perang, pada akhirnya hanya 67 kapal dan 10000 orang yang bisa kembali. Sementara Inggris tidak kehilangan satu kapalpun sedangkan jumlah korban jiwanya dilaporkan "minimal".

Tetapi setelah itu, Inggris dijadikan bulan-bulanan oleh Spanyol, walaupun kisah kehebatan Inggris mengalahkan armada Spanyol itu tetap hidup sampai sekarang sebagai bukti bahwa Inggris adalah yang paling jago di lautan. Mungkin sama dengan analogi Piala Dunia dalam sepakbola, di mana Inggris sekali juara di kandangnya sendiri tetapi selalu jadi bulan-bulanan  setelahnya. Inggris kemudian berhenti perang dengan Spanyol (sementara) melalui Perjanjian London pada tahun 1604. Perang Inggris lawan Spanyol ini masih terjadi lagi paling tidak empat kali setelah yang pertama ini usai. Armada Spanyol sendiri baru bisa digebuk setelah Belanda menghajar habis Spanyol pada tahun 1639 dalam Battle of the Downs.

Masa-masa konflik ini benar-benar dimanfaatkan oleh Inggris dan Belanda untuk berpacu menuju tanah rempah-rempah, apalagi Spanyol dapat musuh lain selain Inggris dan Belanda ... Perancis. Ternyata mengeroyok Spanyol memang efektif, walaupun armada Spanyol itu kuat banget tapi dikeroyok begini ya sibuk juga, belum lagi mereka harus mempertahankan koloninya di Amerika. Sementara Spanyol sibuk itulah Inggris dan Belanda balapan ke tanah rempah-rempah. Hasilnya Francis Drake (Inggris) berhasil tiba di Maluku pada tahun 1579 (pada saat Philip sedang sikut-sikutan untuk merebut tahta Portugis) mengikuti rute pelayaran ekspedisi Magellan, Inggris bisa sampai di Tanjung Harapan pada tahun 1591, dan pada tahun yang sama James Lancaster tiba di Malaka. Tahun 1595 Cornelis de Houtman (Belanda) tiba di Banten, tahun 1599 Jakob van Neck (Belanda) pulang dari Banten ke Belanda dengan muatan luar biasa.

Ada masa Inggris dan Belanda itu tuker-tukeran pelaut untuk mencapai tanah rempah-rempah. Salah satunya yang terkenal adalah John Davies yang tiba di Aceh dengan menggunakan kapal berbendera Belanda pada tahun 1599. Kemudian Davies berhasil myakinkan Inggris bahwa Aceh bisa dijadikan sekutu dagang. Nasehat Davies ini diikuti dan Lancaster yang pernah sampai ke Malaka berlayar lagi ke Aceh pada tahun 1601 dan malah bisa meneruskan pelayarannya hingga ke Banten pada tahun 1602. Lancaster lantas bisa kembali ke Inggris pada tahun 1603 dengan muatan kapal yang luar biasa. Lancaster membawa pulang sekitar setengah juta kilogram lada, yang kira-kira setara dengan seperempat kebutuhan lada Eropa masa itu. Tetapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan hasil yang dibawa Belanda pada tahun itu ... satu setengah juta kilogram lada!

Saya tutup dulu bagian empat dari seri bumbu dapur ini, besok saya ndobos soal persaingan Inggris dan Belanda di tanah rempah-rempah. Sampeyan pernah dengar nama New York atau Manhattan, lha bagaimana dengan nama Pulau Run? apa hubungan antara keduanya? dan bagaimana akhirnya dagang bumbu dapur menjadi tidak lagi menarik.

-- ... bersambung ... sekaliiiii lagi ... --


Gambar diambil dari sini, sini dan sini.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung

irian
April 27, 2009   03:04 AM PDT
 
thanks ya bro...


irian
minah indon
August 23, 2007   12:14 AM PDT
 
lou suma ngomong apa ni dehh???
mpokb
August 11, 2006   07:40 PM PDT
 
bener nggak pak, orang eropa berjaya karena domestikasi kuda dan bawa bedil? bahkan konon orang indian pada ketakutan lihat pasukan spanyol naik kuda berderap2..
Eny
August 10, 2006   02:42 PM PDT
 
bussyyeeetttt....:D "ndlongop kagum"
kalo udah kelar mo tak kliping ah :D


psst pakdhe, kata janoko boleh2 ntar diwakili aku wae hahahaha
Qq
August 10, 2006   05:02 AM PDT
 
Waduh, ternyata yg namanya korupsi, suap, dan senjata biologis itu udh berumur sangat tua ya Pakde, udh ada sejak abad ke 16 ... ga nyangka ... hehehe

Ngomong soal Inca, Maya dan Aztec bikin Qq inget obsesi lama: pengen ke Machu Pichu di Peru sana ... duh, kapan yaaa? Makin sering baca, liat foto dan film ttg ini bikin makin kepengen .. huehueheuehue
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry