Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, August 11, 2006
Bumbu Dapur -- Bagian 5

Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.

Bagian ini adalah bagian akhir (mudah-mudahan) dari seri bumbu dapur. Dalam bagian ini saya ingin konsentrasi ndobos perkara persaingan Inggris dan Belanda dalam memperebutkan rempah-rempah. Belanda dengan gayanya yang langsung-langsung saja dan cenderung "kasar" dan Inggris yang malu-malu. Perlu dicatat bahwa persaingan yang terjadi di tanah yang sekarang bernama Indonesia ini sering kali lepas dari apa yang terjadi di Eropa, tetapi apa yang terjadi di tanah ini sangat mempengaruhi Eropa. Apa yang terjadi di tanah ini adalah sebagian besar disebabkan oleh kepentingan ekonomi, bukan politik. Bisa saja Inggris perang lawan Belanda di Eropa sana (mereka empat kali berperang) tetapi di tanah ini mereka bisa bekerjasama untuk nggebuk Spanyol, atau bisa saja mereka sedang damai di Eropa sana tetapi di sini saling gebuk.

Inggris tiba duluan di Maluku pada tahun 1579 melalui jalur Pasifik. Ekspedisi ini dipimpin oleh Francis Drake dan Drake lantas membuat perjanjian persahabatan dengan Sultan Baabulah dari Ternate. Tetapi keberhasilan ini tidak lantas ditindak lanjuti, padahal Drake sewaktu pulang ke Inggris dia mengangkut begitu banyak rempah dan disambut bak pahlawan. Inggris lantas mencoba masuk melalui rute Afrika, tetapi justru Belanda yang tiba lebih dahulu di Banten di bawah pimpinan  Cornelis de Houtman yang tiba di Banten tahun 1595. Keberhasilan ini ditindak lanjuti oleh Belanda dengan mengirim ekspedisi besar-besaran. Sepanjang tahun 1597 hingga 1601 saja, Belanda mengirim tidak kurang dari 65 kapal, beberapa bahkan ada yang sampai di Jepang, belum lagi rute Pasifik yang juga dijajal Belanda (oleh Oliver van Noort). Pos-pos dagang Belanda juga berdiri di mana-mana, termasuk di Banten, Maluku dan Banda. Inggris yang sementara hanya bisa ngiler melihat keberhasilan Belanda bukannya malah buru-buru berangkat malah sibuk mendirikan serikat dagang dulu (Inggris sekaleeeee).

Pada tanggal 31 Desember 1600 berdirilah British East India Company (EIC) dan baru dua bulan kemudia EIC mengirim ekspedisinya pertama di bawah pimpinan James Lancaster. Lancaster akhirnya tiba di banten tahun 1602 ... Belanda sudah nangkring duluan di sana dan sudah angkut-angkut rempah dari Banda dan Maluku. Jauh di Eropa sana pada tahun 1602,  Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) atau Serikat Dagang Hindia Timur yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persahaan multinasional pertama di dunia yang  diberi hak monopoli selama 21 tahun oleh Republik Belanda (pada waktu itu Belanda adalah Republik) dan daerah kerjanya mencakup seluruh Asia. Sejak itu "pertempuran dagang" yang terjadi adalah antara dua perusahaan dagang ini, VOC lawan EIC.

Pada tahun 1605, Henry Middleton berangkat ke Ternate, dan ternyata surat perjanjian pertemanan yang ditandatangani oleh Drake dan Sultan Baabulah masih berlaku, kapal-kapal Middleton langsung ditimbuni oleh rempah-rempah ... lha konco lawas je. Inggris tampaknya lebih mendapat simpati dari penduduk setempat dalam berdagang, mungkin karena ndak brangasan seperti Belanda. Banda yang kala itu sudah dikuasai Belanda susah sekali dimasuki Inggris, maklum saja, pala hanya ada di tenpat ini dan Belanda tak hendak kehilangan monopolinya. Tetapi ada dua pulau kecil di Kepulauan Banda yang akhirnya bisa didapat Inggris yaitu Pulau Ai dan Pulau Run, dua pulau terluar di sisi Barat dari kepulauan Banda (coba sampeyan cari di peta), dan dari dua pulau seumprit ini pasokan pala untuk Inggris didapat. Belanda masih bisa mentolerir hal tersebut, paling kapal Inggris diganggu saja. Sampai akhirnya Belanda tak tahan lagi dan Pulau Ai diserbu dan direbut tahun 1616, sementara Pulau Run praktis direbut tahun 1621, walaupun Inggris masih menganggap Pulau itu adalah milik mereka.

Lha ditengah-tengah "perang dagang" itu ada sebuah kejadian yang membuat tanah yang nantinya bernama Indonesia ini  hampir dijajah Inggris. Begini ceritanya ... pada tahun 1619 Inggris dan Belanda menandatangani sebuah perjanjian yang isinya sepertiga rempah boleh dimiliki oleh Inggris, sementara duapertiganya dimiliki Belanda. Tetapi Inggris diam-diam tetap saja mengambil lebih dari jatah, ketahuan dan ribut hingga akhirnya Inggris menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1623. Babak belur Belandanya dan tinggal sedikiiiiiit lagi Belanda bisa habis, ... lha malah tidak dihabisi. Kapal Belanda yang masih belum hancur malah dibiarkan pergi ... lari ke Ambon.

Begitu sampai Ambon, mereka langsung menyerang pos Inggris dan menawan sepuluh orang Inggris, sembilan tentara bayaran Jepang (samurai) dan satu orang Portugis. Tawanan ini disiksa hebat ... termasuk diledakan tangan dan kakinya, kalau masih hidup, walaupun sudah disiksa begitu, lantas dibunuh. Setelah kejadian itu, Inggris mulai menarik diri dari Hindia dan hanya berkonsentrasi dagang di India saja ... mungkin mereka sadar, serumah sama orang gila agak susah, Inggris akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Banda dan Maluku tahun 1624, kemudian meninggalkan Batavia ke Banten tahun 1628 dan mundur total dari Jawa tahun 1683. Inggris sudah melihat tak ada untungnya bertahan di Hindia, lagipula harga rempah-rempah juga mulai jeblog karena over supply sejak tahun 1660. Hal ini terjadi sebagian karena Belanda begitu aktif "menyemangati penduduk setempat" untuk menanam rempah, selain itu juga karena "pinternya" Inggris, karena sebelum mereka keluar dari Maluku dan lari dari Pulau Run, mereka tak lupa membawa oleh-oleh berupa bibit rempah. Bibit-bibit itu kemudian disebar di beberapa koloninya sehingga rempah berharga tinggi itu sudah tidak lagi sulit didapat.

Di tempat lain Inggris juga "nakal". Setelah Perang Inggris-Belanda jilid 1 selesai pada tahun 1654, mereka malah menyerbu dan merebut New Amsterdam dan Pulau Manhattan di Amerika. Perkelahian dua negara itu kemudia berlangsung lagi pada tahun 1665 dan dikenal dengan Perang Inggris-Belanda jilid 2. Perang itu berakhir tahun 1667 dengan ditandatanganinya Perjanjian Breda. Dalam Perjanjian Breda ada tertera soal ganti rugi yang harus dibayar Belanda akibat menyiksa dan membunuh orang-orang Inggris di Maluku (1623) dan juga tertera bahwa Belanda melepas klaimnya terhadap New Amsterdam dan Pulau Manhattan yang direbut Inggris pada tahun 1654 dan menyerahkannya kepada Inggris, tetapi sebagai gantinya .... Inggris harus melepas klaim mereka terhadap Pulau Run. Haiyaaaaah, apa sampeyan tahu? itu yang namanya New Amsterdam sekarang bernama New York. Lha sekarang coba sampeyan cari di peta .... di mana New York? Gampang? Naaaah...sekarang sampeyan coba cari di mana letak Pulau Run.

Inggris yang akhirnya mundur total dari Maluku dan Banda praktis memberikan Belanda kontrol penuh terhadap Hindia. Belanda jadi raja dunia sekarang .... dengan sedikit variasi kecil seperti Amerika yang ikut-ikutan mencoba dagang rempah (terutama lada) dengan Sumatera. Merosotnya harga rempah menjadi salah satu sebab VOC bubar tahun 1798 dengan hutang yang gila-gilaan, selain karena faktor salah urus dan masalah komunikasi dengan Amsterdam yang jauh dari Batavia. Lha bagaimana ndak repot kalau perusahaan sebesar VOC dengan puluhan ribu karyawan tetapi surat menyurat baru sampai 9 bulan kemudian. Apa sampeyan tahu kalau semua aset dan hutang VOC itu lantas diambil alih oleh Republik Batavia??!!

Sudah habiskah perjalanan rempah-rempah? ... ya belum. Amerika yang tadinya dikira tak berempah itu toh akhirnya menyumbang Vanilla dan Cabe. Rempah-rempah telah menjadi pemicu bagi ekplorasi besar di bumi ini. Eksplorasi yang akhirnya membawa begitu banyak bahan makanan ke meja-meja makan di seluruh dunia, tidak hanya rempah lho ... dari mulai jagung, tomat, kentang, cabe, vanilla, coklat, kayu manis, cengkeh, pala, kemiri, dan masih banyak lagi. Eksplorasi yang akhirnya memunculkan perbudakan, penjajahan dan pemusnahan bangsa. Saat inipun rempah-rempah tampaknya masih terus mengembara menyertai perjalanan manusia mencari "dunia baru" ... rempah-rempah terbang ke bulan! dibawa oleh awak Apollo 11 tahun 1969 dalam makanan mereka. Kemana berikutnya? Mars?

Nah sekarang coba sampeyan ambil lada, cengkeh atau kayu manis dari dapur, pandangi barang itu dan ingat-ingat cerita ini.

Begitulah sederek sedoyo, karena saya sudah mengi sementara bayi tikus untuk obat mengi di sini ndak ada (Mas Tito mau ngirimi saya?), cerita bumbu dapur yang "agak panjang" ini saya sudahi saja dengan ucapan kalau ada sumur di ladang ... sampeyan mbok nimba. Mudah-mudahan ada gunanya.

Ucapan terima kasih: Buat Suster Bernadeth yang pertama kali ndongengi saya soal rempah dan buat Herman Teguh sang teman dalam duka yang rajin mengabarkan soal buku berlatar belakang sejarah dan teman diskusi ngalor ngidul soal sejarah.
Beberapa sumber yang saya pakai: Wikipedia tentu saja; bukunya Giles Milton, Nathaniel's Nutmeg; bukunya John Keay, the Spice Route; bukunya Boxer, Dutch Merchants and Marines in Asia; bukunya Holden Furber, Rival Empires of Trade in the Orient 1600 -1800; bukunya Hanna Willard dan Des Alwi, Turbulent Times Past in Ternate and Tidore.

Gambar diambil dari sini, sini dan sini.

-- TAMAT --

Posted at 12:08 am by Sir Mbilung

yudhi
August 11, 2006   11:31 PM PDT
 
hebbbbatttttttttttttttt
gandrik
August 11, 2006   10:27 PM PDT
 
mantap!!!!
FarahPutri
August 11, 2006   07:44 PM PDT
 
walah2 mas..saya jadi serasa kelas 2 SMP lagi nih..VOC2 an..lumayan buat inget2 memory..he3
mariskova
August 11, 2006   03:17 PM PDT
 
Yang satu gila, yang satu nakal... weleh weleh...... kasihan banget sama ras yang lain lah.

Btw, Pak Dhe, saya baru tamat baca Laura Ingalls. Ternyata sejarah dunia ter-representasi di dunia kecil si Laura juga ya..
badu
August 11, 2006   01:24 PM PDT
 
woohoo! informatif pol! saya simpen ya Mas. hmmm, Des Alwi, yeah yeah yeah, dia bahkan punya video dokumentasi waktu Chaplin ke Indonesia. bahkan lagi, pernah ketemu Chaplin langsung di Swiss, katanya. huhuhu...

*saya fans berat Chaplin*
nengjeni
August 11, 2006   01:05 PM PDT
 
tengkyu... tengkyu .. pak'e ...
Eny
August 11, 2006   12:43 PM PDT
 
maturnuwun...akhirnya saya jadi rada melek dengan sejarah...terutama boemboe dapoer :D kliping saya pun dah komplit heheheh isih mengi pak? disetrum wae :D
koeaing!
August 11, 2006   12:26 PM PDT
 
edan tenan kowe boeng. mistih tebel jij poenja katja mata.....
Qq
August 11, 2006   10:25 AM PDT
 
Aha! Sekarang semua pertanyaan terjawab Pakde ... makasih banyak udh mau mendongengi kami para blogger dengan versi yang lebih baik daripada di sekolah kami dulu.

Sungguh memang urusan perut itu bikin orang sedunia kalap ... Dan ironisnya para penguasa ini takluk karena alasan-alasan yang di luar konteks adu kekuatan, yaitu karena ketiadaan generasi penerus, korupsi, dll. Ini mengingatkan bahwa judul pidato Bung Karno yg berjudul jas merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) emang harus dijadikan rujukan, bahwa kita bisa belajar banyak dari sejarah (masa lalu) untuk masa sekarang dan yang akan datang.

Wah ... ini mah bisa jadi postingan di blog ya pakde? :D
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry