Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, November 03, 2006
Perkici buru

Seribu Intan nomer 4

Burungnya bertubuh mungil, tak sampai sejengkal orang dewasa, hanya 16 cm saja dengan tubuh nyaris hijau seluruhnya, kecuali purutnya yang sedikit kekuningan, pangkal ekor bagian bawahnya berwarna merah dan jidatnya sedikit berwarna biru, yang membuatnya diberi nama Inggris Blue-fronted Lorikeet, diberi nama Indonesia Perkici buru dan bernama latin Charmosyna toxopei. Perkici termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) yang juga terdiri dari kakatua, nuri dan betet. Perkici buru hanya diketahui hidup di pulau kecil dengan reputasi besar, Pulau Buru.

Istimewanya lagi (dalam artian sedih) burung ini tidak pernah terlihat lagi secara pasti sejak pertama kali "ditemukan" oleh seorang penjelajah berkebangsaan Belanda pada tahun 1921. Penjelajah ini lahir pada tanggal 8 September 1894 di Tuban, Jawa Timur dan meninggal karena ditabrak mobil di Bandung pada tanggal 21 Maret 1951, Lambertus Johannes Toxopeus, yang semasa hidupnya pernah menjadi profesor zoology (ilmu hewan) di Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Sekedar catatan, Toxopeus bukan seorang ahli burung (ornithologist), dia dikenal sebagai ahli serangga terutama kupu-kupu.

Kembali ke Perkici buru, burung ini tampaknya hanya terdapat di sebelah Barat Sungai Rana di Pulau Buru, tak jauh dari lokasi yang dikunjungi oleh Toxopeus. Penduduk sekitar menamainya "utu papua" dan mereka mengatakan burung ini memakan madu dan serbuk sari terutama dari bunga pohon "hanimura". Informasi ini berasal dari pertengahan 1990-an (1995-1996) pada saat beberapa anak-anak muda Indonesia dan seorang dari Denmark menjelajahi Buru (Bung Yan, Bung David ... masih ingat kah ale dengan Kapalat Mada?). Burungnya sendiri tak kelihatan wujudnya.

Sebelumnya ada laporan penampakan burung ini di pantai Utara Pulau Buru bagian Barat, dari sekitar Teluk Bara dan Smiet sang pelapor mengatakan burungnya cukup umum di perkebunan, di hutan sekunder dan hutan primer. Hanya saja laporan Smiet ini lantas jadi bahan perdebatan sengit. Peneliti yang mengunjungi tempat di mana Smiet menjumpai burung ini, tak pernah melihat burung ini. Ada yang mengatakan bahwa Smiet hanya melihat satu ekor saja pada bulan November 1980, sementara seseorang bernama Forshaw meragukan hasil identifilasi Smiet dengan mengatakan apa yang dia lihat itu bukan Perkici buru tapi Perkici dagu-merah (Charmosyna placentis). Hanya saja Forshaw ya rada ngawur juga, karena dia menyangka Perkci dagu-merah itu ada di Pulau Buru. Lha kok bisa? Forshaw mengutip tulisan Bemmel, sementara Bemmel salah mengartikan tulisan Vorderman yang dikutipnya.  Vorderman itu diceritai oleh seorang dokter yang mendapatkan Perkici dagu-merah dari Pulau Amblan dekat Pulau Buru .... bukan dari Pulau Buru. Samalah seperti pertunjukan Srimulat di mana ada dua orang yang memandangi pohon cempedak lantas yang seorang berkata .... "ini kayaknya pohon nangka", yang lantas segera dibantah oleh yang satunya "weeee guoblog .... ini bukan nangka, ini tomat".

Bagaimana sekarang nasib dari burung yang lantas diberi status keterancaman tertinggi ini? (Critically Endangered). Entahlah, tampaknya Pulau Buru memang masih harus dijelajahi kembali. Tempat Toxopeus menangkap burung dengan getah di pohon yang sedang berbunga di sebelah Barat Danau Rana perlu didatangi lagi mumpung hutannya belum habis dibabati untuk keperluan lain. Ada laporan dari seorang pekerja di perusahaan penebangan kayu pada tahun 1998 yang mengatakan ada yang menangkap seekor burung paruh bengkok kecil berwana hijau di sebelah Barat Danau Rana dan laporan begini juga masih perlu diperiksa kebenarannya. Hanya saja tampaknya Perkici buru yang perlu buru-buru dicari lagi belum juga diburu buru-buru oleh para peneliti .... mudah-mudahan tidak buru-buru diburu para pemburu dan keburu punah dari Pulau Buru .... yang berarti juga punah dari muka bumi.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 01:11 am by Sir Mbilung

tito
November 3, 2006   04:22 AM PST
 
Ayo buru-buru dicari, Sir
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry