Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, November 09, 2006
Delman

Tulisan ibu guru ini paling tidak sejenak membawa saya ke alam masa kecil pada saat saya begitu menikmati bertetirah di Bukit Gundaling, Brastagi di Sumatra Utara sana dengan delman. Naik delman dan berebut dengan adik saya untuk duduk di samping pak kusir. Agak besar sedikit, setiap kali kami ke Bandung atau Purwokerto, delman juga kerap ditunggangi, sekali lagi berebut dengan adik saya untuk memperoleh tempat duduk di samping pak kusir.

Kereta yang dihela oleh satu atau lebih kuda, beroda dua atau lebih, dengan kusir/sais yang memegang pecut/cambuk kecil sambil sesekali pak kusir berseru ck ck ck ck pada kudanya yang berkaca mata tanpa kaca itu. Lima orang bisa diangkut delman kecil, empat duduk di belakang pak kusir, satu lagi di sampingnya. Delman ada yang dilengkapi dengan penampung kotoran kuda ada pula yang tidak. Ada ember kecil berisi dedak yang selalu tergantung di delman dan ada bunyi-bunyian untuk menyatakan kehadiran delman pada pengguna jalan lain, pak kusir menginjaknya ... ding dong.

Di banyak tempat di kota-kota besar, delman sudah mulai menghilang. Kalaupun ada lebih banyak yang berfungsi bukan sebagai alat transportasi tetapi lebih sebagai kelengkapan berwisata atau kelengkapan acara lain seperti kawinan atau wisuda. Persis seperti apa yang pernah dinyanyikan dengan riang oleh Ivo Nilakreshna (tanya sama mbah sampeyan kalo ndak tau) pada suatu masa yang sudah lama tentang kusir delman / tukang sado:

tukang sado datang dari bekasi .... yahoi
masuk kota banyak bemo dan taksi
lagu ini lagu jakarte asli .... yahoi
nenek dengar inget jaman mude lagi

tukang sado narik ke tanah abang .... yaya
bermuatan sepasang pengantin baru
biar sumpah sungguh cinta dan sayang .... yaya
pasti lupa kalau ada yang baru


Bemo menggantikan delman dan lantas giliran bemo digantikan angkot, pernik dari masa kecil banyak yang sudah tergusur. Menjadi juragan delman di kota besar? siapa pula yang sekarang bermimpi untuk menggeluti profesi ini. Profesi yang pada suatu masa dulu bisa menyunting hati nyai kembang seperti di kisah Nyai Dasima-nya SM Ardan. Sami'un juragan delman dari Kwitang yang sudah beristri Hayati (yang bergelar setan ceki) bisa menarik hati (dan ditarik hatinya) oleh Dasima, seorang nyai dari Pejambon. Hanya saja ini dulu. Kalau sekarang? Tengok saja lanjutan dendang Ivo Nilakreshna tadi :

tukang sado narik dari pekojan .... yahoi
pulang-pulang dapet uang sekeranjang


beuh .... kelar ngrampok di mana bang?!

Foto diambil dari sini.


Posted at 01:04 am by Sir Mbilung

pitik
November 9, 2006   05:10 PM PST
 
Lagunya sopo tho itu pak Dhe?Mau nanya simbah..lha wong simbah saya sudah dipanggil sama Yang Mbikin kuda...piye coba??
tito
November 9, 2006   04:33 PM PST
 
cerita tentang bajingan dong...
bangsari
November 9, 2006   04:03 PM PST
 
di kampung saya dari dulu tak pernah ada andong paklik. gimana mau ada andong, wong jalannya pating jrenggul ngga rata gitu je.. maklum belum diaspal. he..he..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry