Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, November 11, 2006
Bapak Macam Apa??!!

Saya memegangnya pertama kali pada saat dia mrucut keluar dari Ibunya, memotong tali pusarnya, memegang kedua kakinya dan menepuk punggungnya agar dia menangis, memperlihatkannya pada Ibunya dan lantas mengazaninya. Begitulah yang terjadi pada suatu pagi 14 tahun yang lalu. Dia anak kami yang pertama dan sekaligus cucu pertama bagi kedua orang tua saya, semua menyambut kelahirannya dengan bahagia.

Kami memanggilnya Mas, sementara adiknya memanggilnya Ndut. Dia adalah anak yang menyenangkan, rajin bertanya tentang ini dan itu, malah terkadang terlalu rajin. Pada masa kecilnya dia selalu berkata "apa ... apa ... apa" sambil jarinya sibuk menunjuk-nunjuk objek yang mengundang rasa ingin tahunya. Sedikit agak besar, pertanyaannya berganti dengan "kenapa ... kenapa ... kenapa". Mungkin rasa ingin tahunya yang kelewat besar jugalah yang menjadikannya seorang "pembaca ulung". Beri dia buku dan dunia di sekitarnya seperti lenyap.

Masih jelas saya ingat betapa di masa kecilnya dia begitu senang dengan kendaraan umum, entah itu angkot atau metromini. Bisa betah berlama-lama dia dibelakang kemudi mobil yang tak bergerak sambil berkhayal dia sedang mengemudikannya. Agar khayalannya terasa lebih nyata, suatu kali dia menuliskan "Kampung Melayu - Pasar Minggu" di badan mobil ... dengan batu! atau di kala lain dia menempelkan kertas-kertas bertuliskan nomor dan rute angkot di kaca-kaca mobil, dan dia dengan girangnya bermain di belakang kemudi sambil sesekali berteriak-teriak menyebutkan jurusan yang ditempuhnya untuk memanggil penumpang.

Kegemarannya dengan kendaraan umum lantas hilang begitu saja, dan sekarang dia tergila-gila dengan sepak bola. Sering dia bercerita dengan bersemangat tentang kesebelasan idolanya atau tentang para pemain-pemain sepak bola. Jika ada beberapa halaman dari koran pagi yang diantar ke rumah hilang,  saya tahu persis harus bertanya kepada siapa karena yang hilang selalu halaman olah raga.

Mas juga senang makan, sangat senang. Pada saat dia masih membawa bekal makanan ringan ke sekolah bisa saja pesanan makanan ringan yang akan dibawanya ke sekolah itu mengejutkan Ibunya. "Mau bawa apa untuk snack Mas?" ... "Nasi goreng aja bu!". Tidak heran juga kalau badannya lantas tumbuh dengan pesat, vertikal dan horizontal. Sekarang ini, saya sudah bisa bertukar baju dan celana dengan dia. Tetapi tidak untuk sepatu, ukuran sepatunya jauh lebih besar dari saya. Budhenya pernah bilang "Mas, itu nomer sepatu atau nomer rumah".

Usianya sudah berakhiran belas, badannya juga sudah lebih besar dari saya dan pada saat ini Mas sudah mulai sering memperlihatkan tuntutannya akan kebebasan. Sudah mulai jarang dia mau diajak bepergian bersama, dia lebih sering memilih untuk diam di rumah dengan buku-bukunya atau dengan mainannya. Mungkin sekalian hendak menunjukan bahwa dia ingin bebas, mandiri. Soal apakah dia ternyata sudah bisa mandiri (dengan parameter yang ditentukan secara sepihak oleh orang tuanya) itu lain soal. Cara lain dia menunjukan tuntutannya adalah dengan berbantah, terutama dengan Ibunya. Tidak mengapa, biarlah dia belajar berdebat dengan Ibunya dan mencari cara untuk "mengalahkan" Ibunya dalam berdebat. Mas ... nanti kalau sudah ketemu caranya, Bapakmu diajari ya?!.

Saya ingat pertanyaan dia pada saat saya pamit pergi kemarin itu, "jadi Bapak nanti gak ada lagi pas aku ulang tahun?". Saya ndak menjawab, sebagian karena dia sudah tahu jawabannya dan sebagian lagi karena saya memang kehilangan kata-kata. Dia menggunakan kata "lagi". Huh ... Bapak macam apa!!!

Selamat Ulang Tahun Mas Adri. 


Posted at 10:07 am by Sir Mbilung

kireina
November 16, 2006   03:16 PM PST
 
selamat ulang tahun mas adri!
dapat hadiah ulang tahun apa dari bapak?
mudah-mudahan bukan sandal yg kekecilan *hihihi*
pyuriko
November 14, 2006   01:31 PM PST
 
Selamat ulang Tahun Mas Andri....

Semoga ultah thn depan, Bapaknya bisa nemenin di sini... :D
Tante Blanthik Ayu
November 14, 2006   12:42 PM PST
 
Mas Adri..happy belated birthday yah :D sorry telat banget...kapan2 tukeran sepatu yo mas ??

Bapaknya suka pergi2 ya mas...udaaahh bilang ibu ganti aja :p
fitri mohan
November 14, 2006   05:53 AM PST
 
Met ultah buat mas Adri. Di foto kok kayaknya udah umur 17 tahunan....
Hedi
November 13, 2006   10:33 PM PST
 
haha ini salah satu bocah yang sering ikut kopdar blogger meski bukan blogger...selamat ulang tahun (sori telat)
bebex
November 13, 2006   09:16 PM PST
 
pantes lagi itu bex liat sendalnya geda ajhah... *puyenk

for adri :
happy belated b'day brow :D
bangsari
November 13, 2006   04:01 PM PST
 
seumur-umur saya belum pernah sekali pun mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari anggota keluarga saya. malah saya merasa aneh jika ada yang memberi selamat.

btw, ikut mengucapkan selamat ulang tahun mas Adri. (ini yang ikut kopdar itu kan pakde?)
trie
November 13, 2006   01:49 PM PST
 
wah..mas adri dah gede ya..cuakepp nya rek, met ultah ya... (kog persis kaya' si 'mas' aku di rumah ya..dmennya mbaca n tanya2).
Ikut mbrebes mili aku moco-paklik..sabarr yoo..*mangkane ndang mulih..ojo miberr aee !!*
reza
November 13, 2006   01:36 PM PST
 
memang sedih ya, kalau jadi orang tua jarang di rumah :(
tukang kebon
November 13, 2006   12:17 PM PST
 
bapak yg baik
cah ayu
November 13, 2006   12:17 PM PST
 
Met Ultah Mas...!!

"Bapak macam apa itu??"

Sing bapak`e cuma iso nelen ludah wae..
*tak usap air mata nya ya Mbah*

tito
November 13, 2006   12:06 PM PST
 
met ultah, dri! Bah, Macam mana bapak kau itu. Sibuk 'kali.
april
November 13, 2006   11:20 AM PST
 
selamat ulang tahun mas Andri......

ps. bpk'e rak nggenah ki....jarang balik :))
Iwan
November 13, 2006   10:45 AM PST
 
Baca postingan ini, saya jadi teringat sama anak saya yang pertama (umurnya hampir 4 tahun). Gak beda sama Mas Adri, dia suka bertanya, "apa itu?"
Dan setiap kali saya pergi ke lapangan, dia selalu bertanya "Papa pergi lagi yaa?" dan saya kehabisan kata-kata untuk menjawabnya. Bapak macam apa ??
Happy b'day Mas Adri, panjang umur yo?
wieda
November 13, 2006   09:13 AM PST
 
he he he...kenalan dulu yah sir.
mo ikutan bilang happy b-day mas, emang didunia ini banyak macam2 bapak..:p
Jadi ultah tanpa bapak gpp...pokoknya tambah gede...
venus
November 12, 2006   02:14 PM PST
 
slamat ultah mas Adri *big hug*
okoje
November 12, 2006   01:43 AM PST
 
papah klo pulang ingatnya cuma sama mamah.. laen itu burungnya yg mandi klo papah pulang..
ndoro kakung
November 11, 2006   09:25 PM PST
 
wah, mas adri selamat yo. minta kado sing paling larang dan berharga wae mas: bapak cepet pulang dengan selamat... :D
siberia
November 11, 2006   08:06 PM PST
 
selamat ulang taun Mas Adri. minta hadiah ultah kaos klub2 di Inggris aja :D
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry