Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, November 12, 2006
Terbang Murah

Ada beberapa  nama yang diberikan padanya, penerbangan murah, low cost airline, budget airline atau no frill airline. Inilah jasa transportasi udara yang menawarkan harga tiket yang "terjangkau" oleh semua kalangan. Murah, meriah, nyaman, cepat dan selamat, itu maunya. Tengok saja, harga yang diiklankan di media, lebih murah dari angkutan darat dan laut dan dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat, tak heran jika pada suatu masa nanti jasa teransportasi ini bisa-bisa memukul jasa transportasi darat jarak menengah dan jauh.

Jasa penerbangan murah saat ini tumbuh di mana-mana, subur sekali malah. Beberapa tak bertahan lama, tumbang, tetapi yang bertahan menjadi sangat kuat dan membuat perusahaan penerbangan dengan harga "tradisional" ketar-ketir, walaupun hal ini tak pernah diakui oleh mereka secara terang-terangan, dan secara "sembunyi-sembunyi" tapi kelihatan mereka lantas ikut-ikutan mendirikan perusahaan penerbangan berharga tiket murah juga.

Kenapa juga harus bayar mahal kalu bisa murah toh cepatnya sama, begitu beberapa teman yang rajin terbang-terbang itu "membela diri" tanpa diserang pada saat ditanya mau pergi dengan apa dia. Jasa angkutan udara ini bisa ditawarkan murah karena beberapa sebab. Mereka menggunakan pesawat dengan biaya operasi yang relatif rendah (kalau perlu hanya menggunakan satu tipe pesawat saja), menggunakan bandara dengan onkos parkir murah, pesawat digunakan seefisien mungkin, penumpang dijejalkan sebanyak mungkin, ini-itu yang ndak penting selama penerbangan dienyahkan, cara pemesanan tiket dibuat seirit mungkin (kalau perlu tanpa harus melibatkan manusia).

Di Indonesia ada beberapa perusahaan penerbangan yang memaklumatkan diri sebagai penerbangan berharga murah, walaupun dalam beberapa hal masih tanggung-tanggung dalam prakteknya. Infrastruktur transportasi udara, seperti bandara, yang belum begitu banyak di Indonesia menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut tidak punya pilihan lain selain menggunakan bandara yang juga digunakan oleh perusahaan penerbangan biasa. Selain itu, pemilihan jenis pesawat bukan didasarkan pada keiritan biaya operasi tetapi lebih kepada kemurahan harga sewa dan "kepintarannya" dalam penggunaan suku cadang (ingat kasus ban pesawat yang divulkanisir?). Tak heran jika penerbangan murah di Indonesia lantas menggunakan pesawat-pesawat "kuno" dan bukannya pesawat modern yang efisien serta tidak rakus bahan bakar. Akibatnya, keselamatan yang dipertaruhkan.

Lha ada urusan apa saya ndobos soal penerbangan murah? Karena akhir pekan kemarin (dan hingga hari ini) saya "ngabur" dari Cambridge ke Skotlandia dengan menggunakan penerbangan murah. Pemesanan tiket saya lakukan secara online beberapa hari sebelum keberangkatan (jika saya memesan lebih jauh lagi harinya, harganya bisa lebih murah lagi) dan saya memilih waktu berangkat dan pulang yang ndak populer (berangkat Sabtu siang dan pulang Senin sore). Tiket yang saya dapat pada akhirnya berharga jauh lebih murah dibanding dengan jika saya membeli tiket kereta api atau bus, sementara waktu tempuh jauh lebih singkat.

Perusahaan penerbangan yang saya pilih itu, RyanAir, menggunakan pesawat 737-800 yang merupakan generasi terbaru dari seri 737 (seri 900 masih belum terbang, dan pengguna pertama dari seri 900 nantinya adalah perusahaan dari Indonesia, Lion Air). Kursi dalam pesawat dibuat berkonfigurasi 3-3 (tiga di kiri dan tiga di kanan) bukan 2-2 atau 3-2 seperti biasanya, lebih banyak penumpang yang bisa diangkut dalam satu kali penerbangan. Tidak ada makanan atau minuman yang disajikan selama penerbangan, kalau mau makan dan minum ya harus beli. Barang bawaan yang bisa dibawa ke dalam kabin pesawat dibatasi hanya satu dengan besar dan berat yang sudah ditentukan, dan benar-benar diterapkan aturan ini. Barang bawaan yang tidak bisa dibawa ke dalam kabin harus dimasukkan ke bagasi pesawat dan harus bayar.

Tidak sebagaimana layaknya, kartu petunjuk cara-cara penyelamatan diri tidak dicetak di kertas yang lantas dilaminating dan diletakkan di kantung kursi pesawat. Kartu itu dibuat menjadi gambar tempel yang melekat di belakang meja kecil kursi yang pada saat lepas landas dan mendarat ada dalam keadaan terlipat sehingga petunjuk itu mau tidak mau terpampang jelas di muka penumpang. Murah dan penumpang pasti melihatnya. Tidak ada majalah (kalau mau bisa pinjam), tidak ada musik, tidak ada televisinya dan bahkan tidak ada kantung muntah.

Lama parkir pesawat juga dibuat sesingkat mungkin. Pesawat yang saya tumpangi dari mulai merapat ke gerbang hingga push-back (didorong untuk berangkat) memakan waktu hanya 25 menit. Selama masa itu yang berlangsung adalah, menurunkan penumpang, membongkar dan memasukan muatan barang, mengisi bahan bakar, pemeriksaan rutin dan menaikan penumpang. Hal lain yang sangat masuk akal yang dilakukan dalam hal menurunkan dan menaikan penumpang adalah digunakannya dua pintu pesawat, di depan dan di belakang, sehingga proses ini bisa berlangsung cepat. Karena penumpang hanya boleh membawa satu barang bawaan ke kabin pesawat, nyaris tidak ada kejadian antrian penumpang yang macet pada saat memasuki pesawat. Kemacetan bisanya terjadi jika barang bawaan penumpang itu banyak jumlahnya dan ini memakan waktu pada saat barang hendak dimasukan ke dalam rak penyimpanan barang di kabin.

Begitulah penerbangan tanpa banyak cengkunek, murah, cepat, aman dan nyaman yang menerbangkan saya dari sebuah bandara tak terkenal (Stansted) ke Skotlandia. Cerita soal jalan-jalan di Skotlandianya menyusul.


Posted at 07:36 pm by Sir Mbilung

qq
November 14, 2006   06:39 PM PST
 
Tosss Pakde. Penerbangan murah begini emang bersahabat banget bagi mahasiswa yg pengen jalan2 tapi tetep irit. Dulu Qq jg make budget airline (Vueling & Ryan Air) utk ke Barcelona. Tapi budget airline Indonesia pelayanannya jg sesuai budget..hehehee
cah ayu
November 14, 2006   12:57 PM PST
 
embah ini anaknya ultah bukannya kabur ke Bogor malah kabur ke Skotland...
lagi (lagi)
"Bapak macam apa ini???" :p
fitri mohan
November 14, 2006   05:45 AM PST
 
pakde kok masih wira-wiri? katanya udah keluar dari kerjaan? wah, jadi ini wira-wiri yang atas niat sendiri dong ya? enak'e.....
Dian
November 14, 2006   03:56 AM PST
 
gagah juga ya pesawatnya...mirip SQ. apa bekas SQ ? 6 th setelah dipake sq, dipake negara laen, 20 th kemudian baru dibeli ryanair hehe
Anang
November 13, 2006   11:42 PM PST
 
harga murah kalau di Indonesia berarti keselamatan juga tidak terjamin...
Moes Jum
November 13, 2006   11:34 PM PST
 
Kang sampeyan koq lungo terus sih ... aku lungo dikongkon mulih. Aku wis mulih sampeyan malah lungo nang negorone kanjeng Ratu meneh. Sampeyan pake rok corak kotak2 gak waktu di sana??
bangsari
November 13, 2006   08:44 PM PST
 
waduh, susah dibayangkan. belum pernah naik pesawat pakde...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry