Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, May 05, 2006
Kepleset Lagi

Mari menyanyi di pagi hari. Bangun tidur ku terus browsing, sampai lupa menggosok gigi. Habis browsing ku geleng-geleng, membersihkan otak kotor ku [diubah dari lagu "bangun pagi" tanpa ijin karena saya ndak tau siapa yang ngarang]. Lha bagaimana tidak geleng-geleng kalau beritanya ada pesawat yang kepleset lagi. Siapa yang buang kulit pisang di landasan pacu !! Hayo ngaku !!!

Batavia Air, jurusan Jakarta - Makassar - Manokwari [di sini] atau Jakarta - Makassar - Merauke [di sini], entah mana yang betul, terpeleset saat mendarat di Soekarno-Hatta, setelah sebelumnya terbang selama 10 menit dan meminta return to base (RTB). Lho kok minta RTB, mesti ada yang ndak beres. Katanya ban meletus pada saat mendarat, apa hubungannya dengan RTB? Hidrolik?  Waaaah ... masih simpang siur.

Batavia Air, maskapai berarmada 24 pesawat -- yang satu "digudangkan" -- yang terdiri dari dua Airbus A319 dan sisanya Boeing 737 berbagai varian dari mulai seri 200 hingga 400, dengan usia pesawat rata-rata 21.8 tahun. Maskapai ini tercatat sebagai pengguna A319 pertama di Indonesia, semua pesawat baru dan mulai masuk ke armada bulan Januari 2006 dan mulai digunakan sejak Februari 2006. Akan tetapi sisanya, yang B737 itu, adalah pesawat yang sudah berpengalaman terbang berusia rata-rata 23.7 tahun.

Masih dalam penyelidikan soal penyebab kecelakaan. Mudah-mudahan hasil penyelidikannya bisa kita dengar bersama.
Oh iya, apa sampeyan tahu hasil penyelidikan pesawat Adam Air yang nyasar ke Tambolaka itu?

Tambahan: Berita terbaru di sini menyebutkan registrasi pesawat, PK-VTQ. Mungkin salah kutip, Batavia Air tidak memiliki pesawat dengan registrasi itu, mungkin yang dimaksud adalah PK-YTQ.
Pesawat ini pertama kali terbang tanggal 25 Juni 1979 dan pernah dioperasikan oleh All Nippon Airways, Air Nippon, WestJet Airlines, sebelum akhirnya masuk armada Batavia pada 17 Agustus 2005.



Posted at 12:44 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, May 04, 2006
Makan Pagi

Sedang sedap-sedapnya menikmati makan pagi, lha kok itu pintu digedor dengan dahsyatnya. Siapa ini yang nggedor pintu pagi-pagi, jangan-jangan gerombolan Forum Tokyo Rempug yang mau ngusir saya karena rajin ndobos. Oalah, Pak Pos ternyata, memberi selembar surat yang tidak tau apa, lha wong saya itu buta kanji kok. Tapi ini mesti penting, kalo ndak ngapain Pak Pos bersusah payah naik ke tempat saya sampe menggeh-menggeh begitu, toh di bawah sana ada kotak surat.

Enaknya ini surat tak potret saja, trus kirim ke teman buat nanya ini isinya apa. Cepret cepret, kirim pake email. Semenit kemudian telepon kawan itu, "hoi buka emailmu, itu isi suratnya apa?" [setelah diterjemahkan dan diperhalus]. Ooo...ternyata saya dapat kiriman dan harus nelpon ke kantor pos untuk memberi tahu kapan saya ada di rumah supaya Pak Pos bisa datang mengantarkan kirimannya. "Ya sudah, telepon saja kantor pos-nya dan bilang saya ada di rumah seharian". Tak berapa lama teman baik itu kembali menelpon dan menyampaikan kalau Pak Pos bakal datang ke rumah mengantarkan kiriman antara jam 12 sampai jam 2 siang.

Waaaah ... kiriman apa ini? Jenang? Kwaci? Mendoan? Siapa yang ngirimi ya? Jangan-jangan salah satu dari bolo kurowo jahil itu, yang dulu pernah ngirimi saya telegram pada saat saya dulu sedang di hutan. Lari pontang-panting 13 km, naik ojeg 7 km, lha isi telegramnya cuma "Merdeka".  Itu karma saya, lha wong dulu itu saya pernah ngirim telegram ke teman pleboi satu itu pada saat dia masih penelitian di desa dengan ucapan "Selamat atas kelahiran putra pertama" ... padahal dia belum punya istri. "Nilai jualnya" diantara gadis-gadis desa langsung anjlog. Gojegan kuli.

Jam dua belas lebih sedikit, pintu digedor lagi.
Pak Pos.
Oalah....kiriman kartu atm dari bank. Padahal rekening saya masih nol.
Saya tak nerusin makan dulu ya ....


Posted at 01:45 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Wednesday, May 03, 2006
Makan Jahe

Sekedar laporan dari dapur saya yang sekarang mulai berfungsi menjadi tidak hanya sekedar tempat merebus air. Dapur itu sudah mulai menjadi laboratorium saya yang baru, ada keasyikan baru di tempat itu sekarang.

Saya suka sekali tempe goreng, apalagi kalau hangatnya masih suam-suam kuku, tidak menyiksa lidah tetapi masih bisa memberi kehangatan di rongga mulut. Tempe goreng menjadi masakan pertama saya di Jepang. Lumayan berhasil, walaupun penampakannya tidak layak foto. Kering di luar tetapi masih kurang garing di dalam, wah ini mesti apinya terlalu besar. Sebagai bujangan geografis, ini adalah lompatan besar.

Berikutnya, bubur kacang hijau. "Rebus saja dulu kacang itu, tetapi jangan masukkan gula merahnya sebelum kacangnya merekah, atau sampeyan nanti makan bubur ball bearing", begitu kata istri dari kawan ini dulu pernah berkata. "Jangan lupa jahenya Mas", woooo ... tidak akan lupa. Maka, terbikinlah bubur kacang hijau itu, rupanya juga tidak layak foto, tetapi tampaknya lezat benar bubur ini.

Dalam waktu singkat, sang bubur berpindah ke mangkuk putih bersih. Haaap .... hmmmmmm .....

Sebentar .... tadi itu saya mau masak bubur kacang hijau atau bandreg ya?


Posted at 05:47 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Tuesday, May 02, 2006
Makan Sekolah

Setelah membaca dobosan saya soal belanja dan makan besar (yang tertunda) itu, Diajeng Bunder Dewi Angin-Angin jatuh iba, dan ia pun lantas bertekad untuk "mendidik" saya dalam memasak. Maka ... terjadilah percakapan di dunia maya ini :

 Bunder: siji2, kon arep masak opo sik?
Mbilung: mbuh, aku iki sak jane arep dimasakke
Bunder: kemlinthi, Angry dimasakke sopo?
Mbilung: mbuh, sing iso masak enak koyo sisil kui
Bunder: yo neng jerman kono sambil nggowo bumbu, wis ayo usaha, arep masak opo?
Mbilung: opor ayam, ono bumbu opor iki, meres santen yo?
Bunder: iya
Mbilung: jangkrik, trus
Bunder: ayamnya digodhog dulu
Mbilung: bumbu buat nggodoknya apa?
Bunder: bawang putih diiris, ditumis pake minyak sampe kuning emas kecoklatan, terus dikasih air sebanyak sesuaikan dengan jumlah ayamnya, tambahi sereh dan ketumbar, garem, gula satu sendok makan, direbus sampe setengah empuk
Mbilung: dilit...ketumbar iku sing ndi
Bunder: sing bunder2 cilik2
Mbilung: kui kemiri
Bunder: kon nek mangan empal, inget khan, ada yg nempel2, itu ketumbar
Mbilung: lho bukan kemiri toh
Bunder: kemiri kuwi sing koyo hazelnut warnane putih susu kecoklatan
Mbilung: waaaah kewalik aku
Bunder: iyo, (kali, nek ora kon yo aku sing kewalik)
Mbilung: *#$%@*& Angry
Bunder: pokok e sing di enggo sing nempel ning empal kuwi
Mbilung: kemiri kui [ndableg]
Bunder: digerus sik
Mbilung: yo, trus
Bunder: eh kon santene meres dhewe yo?
Mbilung: iyo
Bunder: nek ngono ngerebusnya pake air santan, hasil perasan kedua
Mbilung: perasan pertama?
Bunder: sing kentel dilebokke mengko
Mbilung: ooo
Bunder: kali ya Miss, ini sih logikaku aja!! kon eksperimen ae
Mbilung: waaah bubar oporku Hurmph
Bunder: Big Smile
Bunder: wis pokok e nek wis setengah mateng, masukkan santan kental dan bumbu opor, masak terus sampe bumbu menyusut nyemek nyemek, angkat taburi bawang goreng
Bunder: ojo lali bikin nasi, nek lali bar opore mateng kon gigit jari setengah jam lagi untuk nunggu nasi mateng
Bunder: bisa dehidrasi kon, kakehan ngiler, modar
Mbilung: lha trus bumbu opor sing ning botol kui nggo opo?
Bunder: ya ammploop, kuwi woconen petunjukku di atas dong, dilebokke bareng santen kentel setelah ayamnya setengah mateng
Mbilung: iki manjur yo
Bunder: yak e, ingat: JAM TERBANG menentukan PRESTASI, jadi banyak2 lah berlatih, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda
Mbilung: waaah ndobos, ....wis siaran wae kon kono  Angry
Bunder: jangan berputus asa dan hilang semangat, apalagi menyalahkan orang lain (aku)
Mbilung: ya...besok aku masak opor...sekarang tak nguber ayamnya dulu


Opor saya belum jadi, masaknya pun belum mulai. Kalaupun jadi, mungkin saja rasanya ndak karu-karuan, tapi saya harus belajar. Pendidikan memang tidak akan memperlihatkan hasilnya dalam sekejap mata ....

Selamat Hari Pendidikan Nasional



Posted at 02:17 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Makan Besar

Ada yang membuat saya sumringah pol tadi malam. Oleh karenanya ndobos kali ini layak diberi anak judul "Cinta Dalam Sepotong Tempe" yang artinya makan besar.

Sebelum saya ndobos ada ucapan terima kasih yang harus disampaikan kepada : Diajeng Bunder Dewi Angin-Angin yang telah dengan setianya setiap malam mengolok-olok saya dan apa-apa yang masuk ke perut saya. Ucapan terima kasih yang besar sekali kepada Mbak Na-Na, yang telah menunjukan tempat itu.

Begini kisahnya. "Sudah ke Okachimachi?" begitu kata Mbak Na-Na. "Di sana ada pasar yang wes ewes ewes .... cara mencapainya begini .. begitu .. beginu". Sayapun panik mencatat petunjuk dari Ibu baik hati ini. Begitu jam kantor selesai, saya langsung bablas seperti Gundala diuber hantu. Petunjuk itu membimbing saya ke sebuah pasar yang tak saya sangka ada di Tokyo. Petunjuk itu membimbing saya ke tempat seperti gambar ini.




Ini Pasar luar biasa, semua yang saya impikan ada di sini. Ini pasar yang njeblug ndase pol. Kecap manis, tempe, tahu, indomie, bumbu inti, bumbu opor, bumbu kalio, bumbu nasi goreng, kelapa parut ... daun pisang. Ini + Itu = opor, Anu+ Ini = rendang, Anu + Itu = lodeh. Tas mulai menggelembung dahsyat, tak apa, toh masih ada kantung belanja. Comot ini, comot itu, raih sana, raih sini. Untung tidak ada kuli pasar, bisa-bisa saya dikira sedang belanja bulanan buat warung. Pulang dengan beban penuh, gaya jalan saya jadi berubah, seperti koboi yang keleknya bisulan itu [mbok ndak usah dibayangkan atau diperagakan to ya].

Kereta penuh, tak perduli, susah ngambil karcis di saku, tak masalah. Ini hari besar buat saya. Kereta yang katanya special express ini rasanya berjalan lambat sekali. Kenapa bus ini kok ngetemnya lama sekali. Kenapa rumah saya kok rasanya jauh sekali dari halte bus. Kenapa tangga ini kok ndak ada habisnya. Belanjaan itu sekarang sudah terserak manis di lantai. Saya kagum sendiri ... wuih wuih, ada semua.

Nah ... sekarang hanya tinggal satu masalah ..... ehmmm ... nganu ..... saya itu ndak bisa masak.


Posted at 12:52 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, May 01, 2006
Makan Gaji Buta

Tiba pertama di kantor dan lansung ada telepon. Ooo Pak Bos ternyata. "Hari ini dan besok saya tidak masuk" [sak karepmu], "pekerjaan a b c d ... z harap diselesaikan bla bla bla ... please, semua harus dikirimkan minggu depan" [sudah tau!!]. Saya hanya menjawab "baik". Lho ... kok belum selesai si bos ini,  "kalau kamu masih ada waktu coba selesaikan juga yang ini itu anu ..." Lha ini dia, tipe atasan yang dikasih hati ngerogoh dompet.

Yang membuat saya gedeg gedeg tanpa harus minum pil koplo, kenapa dia hari ini (dan besok) meliburkan diri, ini 1 Mei, hari buruh, harinya para wedhus balap seperti saya, bukan hari bos. Rupanya untuk urusan liburan, Pak Bos sudah terbiasa dengan budaya di sini, seperti yang akan saya ndoboskan di bawah ini.

Sebetulnya minggu ini di Jepang dikenal sebagai Golden Week, lha gimana ndak golden -- terutama buat pencinta libur -- ada empat hari libur resmi dalam tujuh hari. Tanggal 29 Greenery day, 3 Mei Constitution day, 5 Mei Children's day. Lho tanggal 4 Mei ... lha ini yang bisa bikin ndahe Kang Mas Pecas Ndahe pecas beneran ... ini hari kejepit nasional yang secara resmi dinyatakan sebagai hari libur dan dikenal dengan nama "Between day". Menurut undang-undang Jepang hari di antara dua hari libur nasional juga dinyatakan sebagai hari libur. Mangkir bersama untuk tegaknya undang-undang.

Lha, karena masih ada dua hari lagi yang belum dilindungi undang-undang, yaitu tanggal 1 dan 2, maka meliburkan diri atau cuti adalah cara terbaik untuk memperpanjang libur yang sudah panjang ini. Sembilan hari jumlah keseluruhannya, dari mulai tanggal 29 hingga tanggal 7. Tak heran jika Golden Week menjadi salah satu musim tetirah terbesar selain tahun baru dan Obon.

Selamat berlibur bos, saya biar merayakan hari buruh dengan bekerja saja.
Jika pekerjaanmu membuatmu bahagia, kerja adalah pesta (Mbilung 2006) ... haiyaaah.


Posted at 11:42 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Sunday, April 30, 2006
Pram



 Selamat Jalan Pak Pram




Posted at 11:20 pm by Sir Mbilung
 

Makan Apa

Hari ini saya ke Ueno Park, satu dari sekian banyak taman di tengah kota Tokyo. Daya pikat untuk saya pergi ke tempat itu hanya satu, kata Mbak Na-Na kalau akhir pekan di sana ada yang jualan tempe dan makanan Indonesia lainnya. Taman yang satu ini tidak sulit untuk dicari dan dicapai dan mungkin karena cuaca sedang bagus, taman itu dijejali begitu banyak orang.

Sebuah taman kota yang relatif apik, bersih tentu saja walaupun bukan yang paling cantik. Ada banyak kegiatan orang di sana; berjualan, bersepeda air, berdayung, berkesenian, berdoa [ada sebuah kuil di sini], tidur-tiduran, berasyik mahsyuk [jadi inget Kebun Raya Bogor], atau sekedar ngglondang seperti saya. Yang jual tempe belum ketemu dan saya putuskan untuk mengelilingi taman.

Sekumpulan orang-orang paruh baya [hampir semua laki-laki], duduk berderet rapih di atas pembatas beton [yang tiduran juga ada], beralaskan kardus. Lha ... apa ini? Kebanyakan sedang melamun, ada yang membaca koran atau majalah lusuh seperti busana mereka yang juga kebanyakan lusuh. Lha apa ini para pelaku mbambung Tokyo yang tersohor itu? Orang-orang tak berumah, manusia kardus, homeless, gelandangan, dan entah apa lagi julukan lainnya. Saya langsung duduk di antara mereka, tidak pakai alas, ndak bawa kardus soalnya. Tidak bicara apa-apa juga, hanya melihat saja.

Orang di sebelah saya menoleh dan mulai nyerocos dalam bahasa yang saya tidak paham. Saya memberi isyarat kalau saya tidak mengerti. "Gaijin" [orang asing], saya mengangguk "haik". Lho, masih nyerocos, tapi kali ini dengan diselingi Bahasa Inggris yang terpatah-patah. Ini yang saya tangkap; supir truk, pecat, tua, hidup di taman, istri, anak, patung, tidak ada kerja. Entah karena capek atau kesal karena saya cuma menatapnya saja [sesekali senyum padahal], dia lantas beranjak pergi, kardusnya juga di bawa.

Saya lantas juga beranjak dan langsung menuju stasiun, masih dengan pikiran apa yang hendak dikatakan pak tua tadi. Sepanjang perjalanan pulang, penuh lamunan. Tiba di rumah saya langsung cari-cari tahu tentang mereka di sini, di sana dan di situ. Apa yang istimewa dari mereka? Gelandangan ada di mana-mana di hampir semua kota besar dunia, juga Jakarta. Keistimewaan gelandangan Tokyo adalah, sebagian besar dari mereka berusia lanjut, kehilangan pekerjaan karena berbagai alasan dan tak ada lagi yang mau mempekerjakan mereka karena umur.

Kenapa tidak pulang saja ke keluarganya? Saudara-saudara mereka mana? Anak-anak mereka mana? Lha ... tempe saya mana? Waduh, lupa. Sudahlah, toh masih ada makanan lain di lemari. Makan apa ya mereka hari ini?


Posted at 05:52 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Saturday, April 29, 2006
Makan Enak

Tidak seperti adiknya yang kalau makan terkadang masih harus dipaksa, sang kakak -- kami memanggilnya Mas -- sering kali harus dipaksa untuk berhenti makan. Berangkat tidur setelah makan malam, tidak menjamin dia bisa tidur nyenyak sampai pagi tampaknya. Maka saya tidak heran jika pada suatu pagi ada piring bekas indomie di kamarnya, "abis laper" begitu ujarnya. Kali ini kelahapan si Mas adalah topik ndobos saya.

Di antara teman-temen sekelasnya, dia tidak termasuk besar, biasa saja. Tingginya juga masih belum menyusul tinggi badan saya, berat badannya juga begitu ... beda tipis. Akan tetapi saya tidak akan bisa mengejar ukuran kakinya dan kelahapan makannya. Ini termasuk luar biasa.

Alkisah pada suatu pagi di akhir minggu si Mas kebingungan karena tukang ketoprak langganannya belum juga lewat. Sang Ibu lantas menawarkan nasi goreng, cara cerdik Ibu memanfaatkan sisa nasi tadi malam. Lahap sekali makannya. Piring bersih dalam waktu singkat dan karena sang adik tidak bisa menghabiskan porsinya, maka piring si adikpun dibuat bersih olehnya.

Belum selesai ternyata, ketika sang Ibu berkata "Mas, kalau masih lapar, itu nasi gorengnya masih ada banyak". Si Mas menjawab dengan patuh "Ya Bu". Lha kok malah diambil semua!! Nasi goreng itu masih tersisa sedikit di piringnya, mulutnya juga masih penuh ketika ketokan khas tukang ketoprak itu terdengar. Dengan mulut masih berisi nasi goreng itu, si Mas berkata " Bu ... aku pesan porsi yang biasa ya!".

Julukan apa yang pas buatnya? Garbage Compactor? Karung bergigi?


Posted at 07:15 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Friday, April 28, 2006
Makan Terpaksa

Anak saya yang satu ini adalah juaranya memutar balik keadaan. Kali ini saya hanya ndobos salah satu contohnya saja, yang setiap kali teringat membuat saya tersenyum geli.

Pada suatu hari -- kata-kata pembuka sebuah cerita yang tak lapuk oleh usia -- anak saya itu ingin makan es krim, padahal pileknya belum sembuh tuntas. Sebagai orang tua -- walaupun masih "tampak muda"-- yang baik, Ibunya tentu saja mencegah dan saya menguatkan pencegahan itu sehingga mencegah menjadi melarang. "Jangan dulu dik, kamu kan pileknya saja belum sembuh betul, nanti sakit lagi" begitu kata Ibunya. Saya pun setuju, karena kalau dia makan itu es krim mesti habis dan saya nggak kebagian, selain karena pileknya itu tadi.

Sang anak lantas memainkan jurus argumentasi untuk mendapat restu Ibu. Sang Ibu pantang menyerah dan jurus otoritas memang sulit dikalahkan. Sang Ibu "menang". Selesai? ... belum!

Sang anak mulai memainkan jurus pengguncang iba, tampang memelas, mulut mecucu metal, dan gaya jalan seperti orang malas, mondar-mandir di depan Ibunya. Kemrungsung tanpa kata-kata.

Hingga akhirnya, runtuhlah pertahanan sang Ibu. "Ya sudah sana dik, kamu boleh makan es krim, tapi sedikit saja ya". Sang anak tidak beranjak, dan air muka masih belum juga berubah. Ibunya berkata lagi "ya sudah sana es krimnya diambil, kamu boleh makan es krim, masak begitu saja nggak bisa ngambil sendiri, sudah sana". Anak saya itu lantas beranjak pelan, dengan gaya malas dan masih sambil mecucu metal, sambil berkata "... ya sudah kalo dipaksa ... " ... ada senyum kecil di ujung bibirnya.


Posted at 01:21 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page