Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, May 12, 2006
Pamer

Kalau tangan kananmu memberi sesuatu jangan sampai tangan kirimu tahu. Begitu saya dulu diajari Eyang Putri. Lha ya susah to, soalnya saya diajari juga kalo memberi sesuatu pada orang lain itu harus pakai dua tangan. Lantas saya mengerti apa yang dimaksud oleh Eyang Putri ... jangan pamer. Lha ... sekarang saya ndobos soal pamer.

Foto di bawah ini saya ambil kemarin siang di depan kantor saya yang ada persis di pinggir Kalayaan Avenue, Quezon City, Metro Manila. Belmonte yang sedang jadi ndoro Walikota tampaknya harus berpamer ria akan karyanya, walau dengan cara mengotori tembok dengan cat murahan sekalipun. Bisa celaka dia kalau tidak, bisa-bisa tidak jadi walikota lagi nanti. Mungkin begitu pikir Pak Belmonte.



Perkara pamer begini ternyata adalah hal yang penting paling tidak untuk Metro Manila. Dari mulai tiang listrik sampe tiang jalan tol penuh tempelan poster yang isinya soal pamer karya itu. Ini lho saya sudah bikin ini, atau, untung ada saya makanya kalian bisa punya ini. Walaupun ada yang terkesan paradox, seperti poster yang mengajak ... mari kita jaga kebersihan lingkungan kita .... lha kok malah bikin kotor.

Hal lain yang bertentangan juga saya lihat kemarin di sebuah stiker dari seorang politisi yang nempel di mobil. Stiker ajakan untuk menghemat bahan bakar dalam rangka memperingati hari bumi. Stiker itu nempel di kaca belakang mobil ber-cc raksasa, 4wd, yang aliran bensinnya mungkin lebih deras dari kencing saya yang sedang kebelet.

Ya sudah ... ayo nguyuh ....


Posted at 02:09 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Thursday, May 11, 2006
Joget Macet

Akhirnya saya bisa tersambung lagi, walaupun koneksi internetnya patah-patah. Berita dari tanah air adalah sasaran pertama.
Lha berita yang satu ini bikin saya senyum-senyum di pagi hari ini. Polwan joget, panggungnya jalanan Jakarta yang rajin tersendat itu.

Pak pulisi yang jabatannya Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya bilang "Masyarakat yang terjebak kemacetan bisa mendengarkan lagu-lagu sambil melihat atraksi sejumlah Polwan mengatur lalu lintas". Seperti layaknya jogetan di panggung yang lumrah, jogetan Polwan juga diiringi musik, walaupun dari berita yang saya baca itu tidak tercantum ada musik dangdutnya.

Sebentar ... itu lagi macet para Polwan malah disuruh njoget, lha apa ndak jadi tambah macet? Atau mungkin justru jadi tambah lancar, karena yang nyupir ketakutan lihat Polwan njoget. Kenapa juga yang njoget cuma Polwan ... pulisi yang nggak pake wan apa nggak bisa njoget ya?

Ya sudahlah ... untuk para Polwan selamat njoget. Buat pulisi yang bukan Polwan mbok itu lalu lintasnya juga dilihat-lihat jangan menthelengi jogetan saja ya. Oh iya, pesen saya, kalo njoget jangan yang "hot", nanti sampeyan bisa-bisa diusir juga seperti penjoget yang bukan pulisi itu.


Posted at 11:28 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, May 08, 2006
Hiatus



Pamit hiatus dulu. Ini kok ujug-ujug diminta bepergian dulu ke tempat yang saya ndak tau bakal ada sambungan internetnya atau tidak. Nanti kalau ada dan bagus, ndobosnya terus, kalau ndak ya prei dulu.


Posted at 07:45 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Mus Jumadi Putera Petir

Disambangi, ditilik, dibesuk, ditengok, dilongok, didatangi, waaah...entah apa lagi padanannya. Tetapi yang jelas saya hari ini bahagia sekali.

Seorang kawan baik yang kebetulan juga baik hati datang menengok. Mas Mus Jumadi Putera Petir, atau Mas Jum, begitu saya biasa memanggil dia, walaupun itu bukan nama yang diberikan oleh orang tuanya. Sebagai wedhus balap di perkumpulan Hijau Damai, Mas Jum memang termasuk rajin turne (turu mrono mrene).

Saya kali ini tidak ndobos, saya hanya ingin berterima kasih karena telah ditengok. Segepok oleh-oleh dari Mas Jum menambah kegembiraan saya. Teruntuk Mas Jum semoga betah. Pesan saya, itu Indomie dari saya yang lima bungkus jangan dimakan semua sekaligus. Selain daripada itu, walupun Indomienya itu beli di Tokyo, bungkusnya jangan dimakan, menurutku kok alot banget Mas, ndak enak dan susah nelennya.


Posted at 01:51 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Sunday, May 07, 2006
Ayo Nguyuh

Buat saya, ketawa itu urusan serius. Mangkel rasanya kalau melihat atau mendengar sesuatu yang mestinya bisa bikin ketawa tapi ndak bisa ketawa. Misalnya, itu lho seperti banyak "lawak-lawak" di TV sekarang. Lha ini lawak kok ndak lucu ya?, malah nggilani. Kenapa penjungkir balikan logika secara tiba-tiba yang menjadi ciri lawak itu menjadi tidak tiba-tiba lagi dijungkirkannya? Kerinduan akan kelucuan -- yang kalau dipikir-pikir kok ya pahit -- itu, saat ini sedikit terobati berkat Mas Godril dengan Basiyo-nya [terima kasih untuk Pak De Kemplu yang menunjukannya].

Basiyo bisa membuat saya tertawa, seperti juga halnya Srimulat (yang lama). Srimulat yang di dalamnya ada Bandempo, Johny Gudel, Gepeng, Bambang Gentholet, Asmuni, Pak Bendhot. Mereka yang pada jamannya dulu itu bisa dengan nakalnya memelesetkan lagu "ayo ngguyu" [mari tertawa] menjadi "ayo nguyuh [mari kencing], atau lagunya Koes Plus "...kupunya kekasih, punya kekasih..." menjadi "...pupunya kekasih, pupunya kekasih..." [pupu=paha]. Banyak dari mereka, seperti Bandempo, Gepeng, Pak Bendhot, Johny Gudel, sekarang sudah berpulang. Tidak lagi bisa menghibur saya secara langsung, dan kalau mereka tiba-tiba muncul di depan saya yang pasti saya tidak bakal terhibur, apalagi tertawa.

Kalimat "untung ada saya" yang diucapkan Gepeng sambil menepuk dada pernah menjadi fenomena, walaupun agak samar saya masih ingat adegannya.
Atau Bandempo pada saat dia berperan sebagai tuna netra, mengadu ke Pak Lurah karena merasa ditipu.
Dialognya begini :

Bandempo : "Saya itu beli radio Phillip, tapi dikasihnya bukan radio Phillip"
Pak Lurah : "Lho kok kamu ngerti?"
Bandempo : "Tadi pagi saya setel bunyinya, inilah Radio Republik  Indonesia"


Bandempo salah tapi dia benar. Kenapa logika itu seperti hilang dari pentas lawak "modern"? Atau saya saja yang terpaku dengan "kedahuluan" saya?
Lho ... jangan ... jangan dibawa ke panggung politik to ya, karena jadi tidak lucu walaupun ada yang bergaya dan berucap seperti Gepeng .... "untung ada saya".
Kalau dibawa ke panggung itu saya akan nyanyi .... "ayo nguyuh".


Posted at 01:31 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, May 06, 2006
Lho ... Kok Bisa?

Penjara, sebuah kata bersinonim banyak seperti Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan, Bui, Hotel Prodeo dan entah apa lagi.  Inilah tempat para "penjahat" dari yang kelas teri sampai yang kelas kapal induk bermukim untuk sebagian masa hidupnya. Entah mereka itu benar-benar jahat, terpaksa jahat, dibuat jahat, dipaksa ngaku jahat atau dicap jahat, tetapi yang sepertinya pasti penjara itu fungsinya untuk mengurung mereka yang di atau ter kategorikan jahat itu tadi. Saya sendiri belum pernah (mudah-mudahan begitu seterusnya) atau berminat untuk dimasukan atau memasukkan diri [seperti adik yang satu ini] ke penjara. Karena itu kali ini saya tidak ndobos, tetapi bertanya.

Ramai berita soal minggatnya Gunawan Santoso dari penjara yang katanya dijaga ketat. Lha kok bisa? Pesakitan yang kalo makan sate cuma boleh sate nir biting ini minggat dari LP Cipinang. Kapan persisnya dia minggat, saya ndak tau, lha wong saya ndak pernah diberitahu sama yang bersangkutan kok. Tetapi kata Pak Kapolda di sini, mungkin minggatnya sudah lama. Pak menteri juga punya cerita soal minggatnya pesakitan satu ini seperti yang ditulis di sini. Lha kok bisa?

Entah sudah berapa kali berita soal tahanan melarikan diri [walaupun mungkin juga minggatnya cuma jalan] itu menjadi berita. Ada yang tertangkap lagi ada juga yang raib. Sampeyan masih ingat Eddy Tanzil yang juga minggat dari Cipinang? Kalau lupa, mbok ya lain kali jangan makan Panadol. Entah bagaimana kabarnya orang yang mestinya sekarang sangat kaya raya ini. Ada yang tahu?

Rupanya keluar dari penjara sebelum waktunya bukan satu-satunya hal yang bisa menjadi berita, barang yang masukpun bisa jadi berita heboh. Ada cerita bagaimana para pesakitan pecandu obat awang-awang bersabu-sabu di penjara. Mestinya mereka memang layak masuk penjara, karena kata Pak Asmuni [atau Pak Timbul ya?], "lha wong babu-babu kok disedot". Mungkin mereka berpikir, kalau nyabu di penjara itu aman, gak bakal ditangkep pulisi. Tapi bagaimana barang itu bisa masuk penjara? Apa sampeyan tahu caranya?

Apa sampeyan ada yang masih ingat dengan ceritanya Sengkon dan Karta? Itu lho, terpidana mati, tidak salah tapi dikurung juga, walaupun akhirnya dibebaskan. Apa sampeyan ada yang tahu orang yang bernasib seperti Sengkon dan Karta yang sampai sekarang masih dikurung?

Lha, kalau ada yang tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya itu, mbok ya itu para aparat dikasih tahu.


Posted at 01:11 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Friday, May 05, 2006
Kepleset Lagi

Mari menyanyi di pagi hari. Bangun tidur ku terus browsing, sampai lupa menggosok gigi. Habis browsing ku geleng-geleng, membersihkan otak kotor ku [diubah dari lagu "bangun pagi" tanpa ijin karena saya ndak tau siapa yang ngarang]. Lha bagaimana tidak geleng-geleng kalau beritanya ada pesawat yang kepleset lagi. Siapa yang buang kulit pisang di landasan pacu !! Hayo ngaku !!!

Batavia Air, jurusan Jakarta - Makassar - Manokwari [di sini] atau Jakarta - Makassar - Merauke [di sini], entah mana yang betul, terpeleset saat mendarat di Soekarno-Hatta, setelah sebelumnya terbang selama 10 menit dan meminta return to base (RTB). Lho kok minta RTB, mesti ada yang ndak beres. Katanya ban meletus pada saat mendarat, apa hubungannya dengan RTB? Hidrolik?  Waaaah ... masih simpang siur.

Batavia Air, maskapai berarmada 24 pesawat -- yang satu "digudangkan" -- yang terdiri dari dua Airbus A319 dan sisanya Boeing 737 berbagai varian dari mulai seri 200 hingga 400, dengan usia pesawat rata-rata 21.8 tahun. Maskapai ini tercatat sebagai pengguna A319 pertama di Indonesia, semua pesawat baru dan mulai masuk ke armada bulan Januari 2006 dan mulai digunakan sejak Februari 2006. Akan tetapi sisanya, yang B737 itu, adalah pesawat yang sudah berpengalaman terbang berusia rata-rata 23.7 tahun.

Masih dalam penyelidikan soal penyebab kecelakaan. Mudah-mudahan hasil penyelidikannya bisa kita dengar bersama.
Oh iya, apa sampeyan tahu hasil penyelidikan pesawat Adam Air yang nyasar ke Tambolaka itu?

Tambahan: Berita terbaru di sini menyebutkan registrasi pesawat, PK-VTQ. Mungkin salah kutip, Batavia Air tidak memiliki pesawat dengan registrasi itu, mungkin yang dimaksud adalah PK-YTQ.
Pesawat ini pertama kali terbang tanggal 25 Juni 1979 dan pernah dioperasikan oleh All Nippon Airways, Air Nippon, WestJet Airlines, sebelum akhirnya masuk armada Batavia pada 17 Agustus 2005.



Posted at 12:44 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, May 04, 2006
Makan Pagi

Sedang sedap-sedapnya menikmati makan pagi, lha kok itu pintu digedor dengan dahsyatnya. Siapa ini yang nggedor pintu pagi-pagi, jangan-jangan gerombolan Forum Tokyo Rempug yang mau ngusir saya karena rajin ndobos. Oalah, Pak Pos ternyata, memberi selembar surat yang tidak tau apa, lha wong saya itu buta kanji kok. Tapi ini mesti penting, kalo ndak ngapain Pak Pos bersusah payah naik ke tempat saya sampe menggeh-menggeh begitu, toh di bawah sana ada kotak surat.

Enaknya ini surat tak potret saja, trus kirim ke teman buat nanya ini isinya apa. Cepret cepret, kirim pake email. Semenit kemudian telepon kawan itu, "hoi buka emailmu, itu isi suratnya apa?" [setelah diterjemahkan dan diperhalus]. Ooo...ternyata saya dapat kiriman dan harus nelpon ke kantor pos untuk memberi tahu kapan saya ada di rumah supaya Pak Pos bisa datang mengantarkan kirimannya. "Ya sudah, telepon saja kantor pos-nya dan bilang saya ada di rumah seharian". Tak berapa lama teman baik itu kembali menelpon dan menyampaikan kalau Pak Pos bakal datang ke rumah mengantarkan kiriman antara jam 12 sampai jam 2 siang.

Waaaah ... kiriman apa ini? Jenang? Kwaci? Mendoan? Siapa yang ngirimi ya? Jangan-jangan salah satu dari bolo kurowo jahil itu, yang dulu pernah ngirimi saya telegram pada saat saya dulu sedang di hutan. Lari pontang-panting 13 km, naik ojeg 7 km, lha isi telegramnya cuma "Merdeka".  Itu karma saya, lha wong dulu itu saya pernah ngirim telegram ke teman pleboi satu itu pada saat dia masih penelitian di desa dengan ucapan "Selamat atas kelahiran putra pertama" ... padahal dia belum punya istri. "Nilai jualnya" diantara gadis-gadis desa langsung anjlog. Gojegan kuli.

Jam dua belas lebih sedikit, pintu digedor lagi.
Pak Pos.
Oalah....kiriman kartu atm dari bank. Padahal rekening saya masih nol.
Saya tak nerusin makan dulu ya ....


Posted at 01:45 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Wednesday, May 03, 2006
Makan Jahe

Sekedar laporan dari dapur saya yang sekarang mulai berfungsi menjadi tidak hanya sekedar tempat merebus air. Dapur itu sudah mulai menjadi laboratorium saya yang baru, ada keasyikan baru di tempat itu sekarang.

Saya suka sekali tempe goreng, apalagi kalau hangatnya masih suam-suam kuku, tidak menyiksa lidah tetapi masih bisa memberi kehangatan di rongga mulut. Tempe goreng menjadi masakan pertama saya di Jepang. Lumayan berhasil, walaupun penampakannya tidak layak foto. Kering di luar tetapi masih kurang garing di dalam, wah ini mesti apinya terlalu besar. Sebagai bujangan geografis, ini adalah lompatan besar.

Berikutnya, bubur kacang hijau. "Rebus saja dulu kacang itu, tetapi jangan masukkan gula merahnya sebelum kacangnya merekah, atau sampeyan nanti makan bubur ball bearing", begitu kata istri dari kawan ini dulu pernah berkata. "Jangan lupa jahenya Mas", woooo ... tidak akan lupa. Maka, terbikinlah bubur kacang hijau itu, rupanya juga tidak layak foto, tetapi tampaknya lezat benar bubur ini.

Dalam waktu singkat, sang bubur berpindah ke mangkuk putih bersih. Haaap .... hmmmmmm .....

Sebentar .... tadi itu saya mau masak bubur kacang hijau atau bandreg ya?


Posted at 05:47 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Tuesday, May 02, 2006
Makan Sekolah

Setelah membaca dobosan saya soal belanja dan makan besar (yang tertunda) itu, Diajeng Bunder Dewi Angin-Angin jatuh iba, dan ia pun lantas bertekad untuk "mendidik" saya dalam memasak. Maka ... terjadilah percakapan di dunia maya ini :

 Bunder: siji2, kon arep masak opo sik?
Mbilung: mbuh, aku iki sak jane arep dimasakke
Bunder: kemlinthi, Angry dimasakke sopo?
Mbilung: mbuh, sing iso masak enak koyo sisil kui
Bunder: yo neng jerman kono sambil nggowo bumbu, wis ayo usaha, arep masak opo?
Mbilung: opor ayam, ono bumbu opor iki, meres santen yo?
Bunder: iya
Mbilung: jangkrik, trus
Bunder: ayamnya digodhog dulu
Mbilung: bumbu buat nggodoknya apa?
Bunder: bawang putih diiris, ditumis pake minyak sampe kuning emas kecoklatan, terus dikasih air sebanyak sesuaikan dengan jumlah ayamnya, tambahi sereh dan ketumbar, garem, gula satu sendok makan, direbus sampe setengah empuk
Mbilung: dilit...ketumbar iku sing ndi
Bunder: sing bunder2 cilik2
Mbilung: kui kemiri
Bunder: kon nek mangan empal, inget khan, ada yg nempel2, itu ketumbar
Mbilung: lho bukan kemiri toh
Bunder: kemiri kuwi sing koyo hazelnut warnane putih susu kecoklatan
Mbilung: waaaah kewalik aku
Bunder: iyo, (kali, nek ora kon yo aku sing kewalik)
Mbilung: *#$%@*& Angry
Bunder: pokok e sing di enggo sing nempel ning empal kuwi
Mbilung: kemiri kui [ndableg]
Bunder: digerus sik
Mbilung: yo, trus
Bunder: eh kon santene meres dhewe yo?
Mbilung: iyo
Bunder: nek ngono ngerebusnya pake air santan, hasil perasan kedua
Mbilung: perasan pertama?
Bunder: sing kentel dilebokke mengko
Mbilung: ooo
Bunder: kali ya Miss, ini sih logikaku aja!! kon eksperimen ae
Mbilung: waaah bubar oporku Hurmph
Bunder: Big Smile
Bunder: wis pokok e nek wis setengah mateng, masukkan santan kental dan bumbu opor, masak terus sampe bumbu menyusut nyemek nyemek, angkat taburi bawang goreng
Bunder: ojo lali bikin nasi, nek lali bar opore mateng kon gigit jari setengah jam lagi untuk nunggu nasi mateng
Bunder: bisa dehidrasi kon, kakehan ngiler, modar
Mbilung: lha trus bumbu opor sing ning botol kui nggo opo?
Bunder: ya ammploop, kuwi woconen petunjukku di atas dong, dilebokke bareng santen kentel setelah ayamnya setengah mateng
Mbilung: iki manjur yo
Bunder: yak e, ingat: JAM TERBANG menentukan PRESTASI, jadi banyak2 lah berlatih, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda
Mbilung: waaah ndobos, ....wis siaran wae kon kono  Angry
Bunder: jangan berputus asa dan hilang semangat, apalagi menyalahkan orang lain (aku)
Mbilung: ya...besok aku masak opor...sekarang tak nguber ayamnya dulu


Opor saya belum jadi, masaknya pun belum mulai. Kalaupun jadi, mungkin saja rasanya ndak karu-karuan, tapi saya harus belajar. Pendidikan memang tidak akan memperlihatkan hasilnya dalam sekejap mata ....

Selamat Hari Pendidikan Nasional



Posted at 02:17 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page