Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Tuesday, May 16, 2006
Tante Sun

Tadi malam saya teringat akan seorang tokoh yang kisah kesehariannya pernah dilantunkan oleh pelantun lagu-lagu balada dan kadang juga lagu-lagu "nakal" (untuk jaman itu). Tokohnya bernama Tante Sun, pelantunnya Trio Bimbo. Buat yang belum kenal Trio Bimbo, bisa dilihat di sini. Singkatnya, ini kelompok trio yang nyanyinya sering berempat, Kang Acil, Kang Jaka, Kang Sam dan sering kali disertai Teteh Iin dengan desahannya dan pelafalan "S" nya yang tak bisa saya lupakan.

Baik ... kembali ke lagu Tante Sun, lagunya sendiri pertama dinyanyikan sekitar pertengahan tahun 70-an, saya lupa kapan persisnya. Kenakalan Bimbo melantunkan Tante Sun mesti dilihat dalam konteks Indonesia di jaman itu. Tante Sun pun lantas terkena larangan untuk dinyanyikan. Tante Sun adalah seorang tokoh yang mestinya fiktif, tetapi kemiripannya dengan tokoh non-fiktif bisa dengan mudah dijumpai. Coba lihat penggalan lirik yang ini :

Tante Sun tante yang giat
tiap hari dia berolah raga
pergi bermain golf hingga datangnya siang
terus ke salon untuk mandi susu


dan ini

Batu zamrud, berlian dan kerikil
emas hingga besi beton bisnisnya
cukong-cukong dan tokeh, direktur dan makelar
tekuk lutut karena Tante Sun



Sekali lagi harap diingat soal jaman itu, jaman dimana main golf dan mandi susu adalah hal yang luar biasa ndak umumnya. Susu itu mestinya diminum, lha kok dipake mandi? Begitu pikiran orang-orang pada jaman itu (termasuk saya) tentang mandi susu. Tapi ya mestinya bisa-bisa saja toh rendem-rendem begitu, lha wong Tante Sun itu kaya raya, berpengaruh dan kayaknya juga berkuasa kok.

Siapa Tante Sun? Apa nama lengkapnya? Apakah dia punya anak dan suami? Seberapa kaya dia? Secantik apakah dia? Senang dansa apa dia?
Kalau sampeyan ada yang kenal .... saya titip sun untuk Tante Sun ya ....


Posted at 11:59 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, May 15, 2006
Maligayang Batik



Di mana-mana kok sama ya?
Kalau ulang tahun mesti tombok.
Harus ngasih makan temen sak kantor.
Belum lagi kalau temen-temennya itu dari golongan karung bergigi yang sedang kelaparan.
Selamat ulang tahun Beechie ... Maligayang batik ...


Posted at 06:35 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, May 14, 2006
Susu

Caloy dan Domeng -- dua nama taifun -- membawa hujan angin yang datang sebelum musimnya di Manila dan saya terkurung di kamar bersama teman satu ini dan susu yang katanya segar. Kali ini saya tidak akan ndobos soal taifun, angin atau hujan, tapi soal susu. Entah kenapa, susu yang diwadahi kotak itu sungguh menggugah rasa ingin tahu.

Susu itu diproduksi oleh perusahaan ini, sebuah perusahaan di Philippina yang juga menjual makanan. Hanya saja ternyata susunya sendiri datang dari Australia .... lha, jauh amat ya? Kalau jauh begitu, kata "segar" bagaimana urusannya itu. Ya memang tidak "segar", tetapi setelah dipasteurisasi dan dikemas dengan baik dan benar, maka banyak manfaat susu itu yang masih bisa dipertahankan untuk waktu yang lama. Kata cap di kotak susu itu, susu ini bisa tetap "segar" hingga 31 Oktober 2006.

Susu dari Australia, dipasarkan oleh perusahaan Philippina, dijual di Manila di toko ini -- yang tadinya dimiliki oleh Amerika sebelum dibeli oleh Jepang -- dan susunya tadi diminum oleh orang Indonesia. Ruwet? Mungkin iya, tapi ya tidak juga. Seperti halnya Indonesia, Australia dan Philippina adalah anggota dari WTO yang kerjanya mengurusi aturan-aturan perdagangan antar negara. Lha, aturan yang dibuat organisasi itu memungkinkan semua keruwetan tadi terjadi. Lantas dua pertanyaan susulan ini sering berkumandang. Apakah tidak ada sapi penghasil susu di Philippina, kok sampai beli dari negara yang jauh begitu? Apa harga susunya jadi tidak mahal itu? He he he ... perdagangan bebas atau saya sering menyebutnya sebagai "faktor titik-titik" itu bisa bikin hil hil yang mustahal.

Seorang peternak sapi di pinggiran Manila, sebut saja namanya Nila, mempunyai dua ekor sapi perah. Sebuah peternakan sapi di Australia sana, punya ribuan sapi perah. Sapi Nila makan rumput liar yang ada di sekitar kampungnya hasilnya hanya sebelanga. Sapi Australia diberi makan bergizi tinggi pemacu produksi susu sehingga hasilnya bertong-tong. Susu sapi Nila diperah dengan tangan, dibawa ke pasar dengan berjalan kaki dan dijual di pasar yang terik. Susu sapi Australia diperah mesin, disalurkan dengan pipa-pipa besar ke pabrik pengolahan, dikapalkan ke Philippina untuk dikemas dan disebar untuk kemudian dijual di toko-toko berpendingin.

Proses dari sapi hingga ke pasar dari susu Australia lebih ruwet daripada susunya Nila, tetapi harga susu Australia per liternya tak berbeda jauh dengan susunya Nila karena ada faktor volume dan faktor distribusi yang efisien. Ditambah faktor kenyamanan, kemudahan, keawetan dan sihir iklan, nyaris tak ada yang membeli susu yang dijual Nila hingga susunya rusak tak layak minum. Begitulah .... karena titik-titik, rusaklah susunya Nila yang sebelanga itu.


Posted at 01:10 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Saturday, May 13, 2006
Ampuuuuuun ...

Haih haih ... ternyata kabar seputar Soeharto -- buat yang sudah lupa, itu lho bekas presiden yang kabarnya sedang sakit itu -- ramai sekali belakangan ini. Sangking ramainya, berita soal presiden yang belum bekas pun kalah ramainya. Selain kabarnya sedang sakit, habis potong usus dan pasang pipa dan mau diampuni salah satu berita ramai itu juga mengatakan kalau institusi  para jaksa yang agung agung menghentikan kasus dugaan korupsinya.

Seingat saya Soeharto belum pernah diadili, belum pernah diputuskan apakah dia bersalah atau tidak oleh sebuah lembaga peradilan, hanya diputus bersalah oleh opini banyak orang -- mohon saya dikoreksi kalau salah ya --. Lha kok ujug-ujug ada berita kalau dia akan diampuni. Diampuni dari apa? Mbok ya itu Soehartonya diadili dulu, nanti kalau sudah diputuskan dia bersalah lha baru dipikirkan mau diampuni atau tidak.

Kemudian, kalau sudah bulat tekad hendak mengampuni, tanya dulu sama Soehartonya, apa ya dia mau diampuni. Lho .... mbok ya jangan berasumsi dulu to ya, siapa tahu Soehartonya ndak mau diampuni kalau dia sudah dinyatakan bersalah. Buat yang tekadnya sudah bulat kukuh, mbok jangan maksa mengampuni kalau yang akan diampuni nanti itu tidak mau diampuni.

Haiyaaaaah ... dari tadi kok saya ndobos soal ampun mengampun to? Ya bagaimana lagi, karena bangsa kita sedang ampun-ampunan kok! Ampuuuuuun...ampun.


Posted at 01:07 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Friday, May 12, 2006
Pamer

Kalau tangan kananmu memberi sesuatu jangan sampai tangan kirimu tahu. Begitu saya dulu diajari Eyang Putri. Lha ya susah to, soalnya saya diajari juga kalo memberi sesuatu pada orang lain itu harus pakai dua tangan. Lantas saya mengerti apa yang dimaksud oleh Eyang Putri ... jangan pamer. Lha ... sekarang saya ndobos soal pamer.

Foto di bawah ini saya ambil kemarin siang di depan kantor saya yang ada persis di pinggir Kalayaan Avenue, Quezon City, Metro Manila. Belmonte yang sedang jadi ndoro Walikota tampaknya harus berpamer ria akan karyanya, walau dengan cara mengotori tembok dengan cat murahan sekalipun. Bisa celaka dia kalau tidak, bisa-bisa tidak jadi walikota lagi nanti. Mungkin begitu pikir Pak Belmonte.



Perkara pamer begini ternyata adalah hal yang penting paling tidak untuk Metro Manila. Dari mulai tiang listrik sampe tiang jalan tol penuh tempelan poster yang isinya soal pamer karya itu. Ini lho saya sudah bikin ini, atau, untung ada saya makanya kalian bisa punya ini. Walaupun ada yang terkesan paradox, seperti poster yang mengajak ... mari kita jaga kebersihan lingkungan kita .... lha kok malah bikin kotor.

Hal lain yang bertentangan juga saya lihat kemarin di sebuah stiker dari seorang politisi yang nempel di mobil. Stiker ajakan untuk menghemat bahan bakar dalam rangka memperingati hari bumi. Stiker itu nempel di kaca belakang mobil ber-cc raksasa, 4wd, yang aliran bensinnya mungkin lebih deras dari kencing saya yang sedang kebelet.

Ya sudah ... ayo nguyuh ....


Posted at 02:09 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Thursday, May 11, 2006
Joget Macet

Akhirnya saya bisa tersambung lagi, walaupun koneksi internetnya patah-patah. Berita dari tanah air adalah sasaran pertama.
Lha berita yang satu ini bikin saya senyum-senyum di pagi hari ini. Polwan joget, panggungnya jalanan Jakarta yang rajin tersendat itu.

Pak pulisi yang jabatannya Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya bilang "Masyarakat yang terjebak kemacetan bisa mendengarkan lagu-lagu sambil melihat atraksi sejumlah Polwan mengatur lalu lintas". Seperti layaknya jogetan di panggung yang lumrah, jogetan Polwan juga diiringi musik, walaupun dari berita yang saya baca itu tidak tercantum ada musik dangdutnya.

Sebentar ... itu lagi macet para Polwan malah disuruh njoget, lha apa ndak jadi tambah macet? Atau mungkin justru jadi tambah lancar, karena yang nyupir ketakutan lihat Polwan njoget. Kenapa juga yang njoget cuma Polwan ... pulisi yang nggak pake wan apa nggak bisa njoget ya?

Ya sudahlah ... untuk para Polwan selamat njoget. Buat pulisi yang bukan Polwan mbok itu lalu lintasnya juga dilihat-lihat jangan menthelengi jogetan saja ya. Oh iya, pesen saya, kalo njoget jangan yang "hot", nanti sampeyan bisa-bisa diusir juga seperti penjoget yang bukan pulisi itu.


Posted at 11:28 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, May 08, 2006
Hiatus



Pamit hiatus dulu. Ini kok ujug-ujug diminta bepergian dulu ke tempat yang saya ndak tau bakal ada sambungan internetnya atau tidak. Nanti kalau ada dan bagus, ndobosnya terus, kalau ndak ya prei dulu.


Posted at 07:45 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Mus Jumadi Putera Petir

Disambangi, ditilik, dibesuk, ditengok, dilongok, didatangi, waaah...entah apa lagi padanannya. Tetapi yang jelas saya hari ini bahagia sekali.

Seorang kawan baik yang kebetulan juga baik hati datang menengok. Mas Mus Jumadi Putera Petir, atau Mas Jum, begitu saya biasa memanggil dia, walaupun itu bukan nama yang diberikan oleh orang tuanya. Sebagai wedhus balap di perkumpulan Hijau Damai, Mas Jum memang termasuk rajin turne (turu mrono mrene).

Saya kali ini tidak ndobos, saya hanya ingin berterima kasih karena telah ditengok. Segepok oleh-oleh dari Mas Jum menambah kegembiraan saya. Teruntuk Mas Jum semoga betah. Pesan saya, itu Indomie dari saya yang lima bungkus jangan dimakan semua sekaligus. Selain daripada itu, walupun Indomienya itu beli di Tokyo, bungkusnya jangan dimakan, menurutku kok alot banget Mas, ndak enak dan susah nelennya.


Posted at 01:51 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Sunday, May 07, 2006
Ayo Nguyuh

Buat saya, ketawa itu urusan serius. Mangkel rasanya kalau melihat atau mendengar sesuatu yang mestinya bisa bikin ketawa tapi ndak bisa ketawa. Misalnya, itu lho seperti banyak "lawak-lawak" di TV sekarang. Lha ini lawak kok ndak lucu ya?, malah nggilani. Kenapa penjungkir balikan logika secara tiba-tiba yang menjadi ciri lawak itu menjadi tidak tiba-tiba lagi dijungkirkannya? Kerinduan akan kelucuan -- yang kalau dipikir-pikir kok ya pahit -- itu, saat ini sedikit terobati berkat Mas Godril dengan Basiyo-nya [terima kasih untuk Pak De Kemplu yang menunjukannya].

Basiyo bisa membuat saya tertawa, seperti juga halnya Srimulat (yang lama). Srimulat yang di dalamnya ada Bandempo, Johny Gudel, Gepeng, Bambang Gentholet, Asmuni, Pak Bendhot. Mereka yang pada jamannya dulu itu bisa dengan nakalnya memelesetkan lagu "ayo ngguyu" [mari tertawa] menjadi "ayo nguyuh [mari kencing], atau lagunya Koes Plus "...kupunya kekasih, punya kekasih..." menjadi "...pupunya kekasih, pupunya kekasih..." [pupu=paha]. Banyak dari mereka, seperti Bandempo, Gepeng, Pak Bendhot, Johny Gudel, sekarang sudah berpulang. Tidak lagi bisa menghibur saya secara langsung, dan kalau mereka tiba-tiba muncul di depan saya yang pasti saya tidak bakal terhibur, apalagi tertawa.

Kalimat "untung ada saya" yang diucapkan Gepeng sambil menepuk dada pernah menjadi fenomena, walaupun agak samar saya masih ingat adegannya.
Atau Bandempo pada saat dia berperan sebagai tuna netra, mengadu ke Pak Lurah karena merasa ditipu.
Dialognya begini :

Bandempo : "Saya itu beli radio Phillip, tapi dikasihnya bukan radio Phillip"
Pak Lurah : "Lho kok kamu ngerti?"
Bandempo : "Tadi pagi saya setel bunyinya, inilah Radio Republik  Indonesia"


Bandempo salah tapi dia benar. Kenapa logika itu seperti hilang dari pentas lawak "modern"? Atau saya saja yang terpaku dengan "kedahuluan" saya?
Lho ... jangan ... jangan dibawa ke panggung politik to ya, karena jadi tidak lucu walaupun ada yang bergaya dan berucap seperti Gepeng .... "untung ada saya".
Kalau dibawa ke panggung itu saya akan nyanyi .... "ayo nguyuh".


Posted at 01:31 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, May 06, 2006
Lho ... Kok Bisa?

Penjara, sebuah kata bersinonim banyak seperti Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan, Bui, Hotel Prodeo dan entah apa lagi.  Inilah tempat para "penjahat" dari yang kelas teri sampai yang kelas kapal induk bermukim untuk sebagian masa hidupnya. Entah mereka itu benar-benar jahat, terpaksa jahat, dibuat jahat, dipaksa ngaku jahat atau dicap jahat, tetapi yang sepertinya pasti penjara itu fungsinya untuk mengurung mereka yang di atau ter kategorikan jahat itu tadi. Saya sendiri belum pernah (mudah-mudahan begitu seterusnya) atau berminat untuk dimasukan atau memasukkan diri [seperti adik yang satu ini] ke penjara. Karena itu kali ini saya tidak ndobos, tetapi bertanya.

Ramai berita soal minggatnya Gunawan Santoso dari penjara yang katanya dijaga ketat. Lha kok bisa? Pesakitan yang kalo makan sate cuma boleh sate nir biting ini minggat dari LP Cipinang. Kapan persisnya dia minggat, saya ndak tau, lha wong saya ndak pernah diberitahu sama yang bersangkutan kok. Tetapi kata Pak Kapolda di sini, mungkin minggatnya sudah lama. Pak menteri juga punya cerita soal minggatnya pesakitan satu ini seperti yang ditulis di sini. Lha kok bisa?

Entah sudah berapa kali berita soal tahanan melarikan diri [walaupun mungkin juga minggatnya cuma jalan] itu menjadi berita. Ada yang tertangkap lagi ada juga yang raib. Sampeyan masih ingat Eddy Tanzil yang juga minggat dari Cipinang? Kalau lupa, mbok ya lain kali jangan makan Panadol. Entah bagaimana kabarnya orang yang mestinya sekarang sangat kaya raya ini. Ada yang tahu?

Rupanya keluar dari penjara sebelum waktunya bukan satu-satunya hal yang bisa menjadi berita, barang yang masukpun bisa jadi berita heboh. Ada cerita bagaimana para pesakitan pecandu obat awang-awang bersabu-sabu di penjara. Mestinya mereka memang layak masuk penjara, karena kata Pak Asmuni [atau Pak Timbul ya?], "lha wong babu-babu kok disedot". Mungkin mereka berpikir, kalau nyabu di penjara itu aman, gak bakal ditangkep pulisi. Tapi bagaimana barang itu bisa masuk penjara? Apa sampeyan tahu caranya?

Apa sampeyan ada yang masih ingat dengan ceritanya Sengkon dan Karta? Itu lho, terpidana mati, tidak salah tapi dikurung juga, walaupun akhirnya dibebaskan. Apa sampeyan ada yang tahu orang yang bernasib seperti Sengkon dan Karta yang sampai sekarang masih dikurung?

Lha, kalau ada yang tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya itu, mbok ya itu para aparat dikasih tahu.


Posted at 01:11 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Next Page