Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Monday, May 22, 2006
Dijual Tanah Berkuda




Yang punya rumah itu mau jual tanahnya, 2.8 hektar, per meter perseginya 350 Peso. Lokasinya agak di pelosok, di kaki Gunung Banahaw di pinggiran Taman Nasional Mt. Banahaw - San Cristobal. Kalo sudah laku nanti yang punya mau pindah ke kota, mau beli Jeepney atau becak mesin. Lagi pula sudah banyak tanah di sekitar tempat itu yang dibeli oleh banyak orang dari Manila dan dari Korea.

Harga segitu sudah termasuk surat-suratnya lho, pokoknya yang beli tinggal bayar dan tanda tangan, tanah pindah tangan. Harga segitu juga sudah termasuk pohon-pohon yang tumbuh di atas tanah itu, rambutan, mangga, kelapa, jeruk nipis, jambu batu, nangka dan langsat.

Kuda itu? Ooo itu ndak dijual, walaupun kuda itu ditambatkan di atas tanah itu. Tapi kalau mau bisa dirundingkan kok. Mungkin hasil jual kudanya bisa dipakai untuk ongkos transport boyongan ke kota ya? Kalau ndak ada yang beli kuda itu, ya pindahan ke kotanya naik kuda saja.

Cerita begini kok rasa-rasanya sering dengar ya?


Posted at 10:13 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, May 21, 2006
Kenikmatan 7.5 peso




Berkeliling kota dengan kawan yang satu ini naik Jeepney benar-benar sumringah rasanya. Setelah dipaksa untuk biasa dengan segala keteraturan yang nyaris mekanikal di Tokyo, ketidakpastian dan aturan yang longgar dari ber-jeepney di Manila bisa menjadi selingan yang menyenangkan.

Dalam banyak hal, Jeepney mengingatkan saya akan angkot (angkutan kota) di Bogor. Bisa (bukan berarti boleh) berhenti nyaris di mana saja, relatif murah, berdempetan serta aroma tubuh aneka rupa. Plat nomor Jeepney pun mirip dengan angkot, berwarna dasar kuning dengan huruf dan angka berwarna hitam. Jeepney juga kadang dilengkapi alat pemutar rekaman musik yang suaranya berdentam-dentam menggoyang jantung. Kalau bagian musik ini mungkin lebih mirip dengan angkot di Kupang. Mau berhenti, tinggal teriak "para", seperti berteriak "kiri" jika naik angkot. Kata boleh berbeda, efeknya sama, kendaraan menepi dan berhenti. Mau menyetop, cukup melambai atau mengangguk. Lha ... tinggal itu kendaraan yang di belakang Jeepney yang klaksonnya lantas kaing-kaing, marah, jengkel atau kesal.

Ukuran Jeepney lebih besar dari angkot dan ke dalam Jeepney bisa saja dijejalkan 22 orang tanpa masalah, angkot mungkin tak sampai setengahnya. Tak banyak Jeepney yang memiliki pintu untuk sisi supir dan penumpang yang duduk di depan. Saya kok belum pernah lihat angkot yang lagi narik tanpa pintu. Soal warna juga berbeda. Jika angkot diwarnai sesuai dengan asalnya (apa ada perda soal warna angkot ya?), tubuh Jeepney, walaupun didominasi warna alumunium, di sana-sini dilumuri cat dengan warna-warna meriah yang mengingatkan saya akan perahu nelayan Pantai Utara Jawa.

Interaksi sosial di dalam Jeepney bisa terjadi secara begitu saja. Pada saat akan membayar ongkos, penumpang yang posisi duduknya jauh dari supir, akan memberikan uang kepada penumpang lain untuk diteruskan ke supir. Jika ada uang kembalian, uang itu juga berpindah-pindah tangan sebelum sampai ke yang berhak. Ada sentuhan, ada saling menatap dan sering juga ada senyum.

Kereta api di Tokyo, bersih, tepat waktu dan sunyi seperti yang pernah saya tulis di sini. Jeepney Manila atau angkot di Bogor, tak terduga, riuh-rendah, nyaris tanpa aturan dan ada senyuman. Tapi kok rasanya Jeepney dan angkot lebih manusiawi ya? Ada kehidupan di situ.

Ber-jeepney ria siang hari, cukup dengan 7.5 peso, dijamin keringetan ....


Posted at 08:11 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Saturday, May 20, 2006
Nyanyian Kapak Sapi Hitam




Ndobos soal nyanyi menyanyi kemarin itu mengingatkan saya akan sebuah kelompok paduan suara dari sebuah tanah yang pernah tercabik-cabik oleh perbedaan warna kulit. Saya ndak tahu apa sampeyan kenal dengan nama kelompok itu, tapi nyanyian mereka adalah salah satu yang amat saya gemari hingga kini. Ladysmith Black Mambazo, pelantun lagu dari Afrika Selatan.

Walaupun ada kata "Lady" dalam nama kelompok itu, semua penyanyinya adalah lelaki. Sama seperti kelompok penyanyi kesukaan saya yang lainnya, Queen, yang semuanya juga lelaki. Ladysmith adalah nama tempat dari mana kelompok ini berasal, Black merujuk pada sapi hitam dan Mambazo sebuah kata dalam Bahasa Zulu yang berarti kapak.

Mendengar lengkingan suara bergetar sang pemimpin, Joseph Shabalala, lenguhan bass Thulani dan Sibongiseni -- keduanya anak Joseph -- dan harmoni dari tujuh lainnya sungguh-sungguh aaaaaahhhh.  Menyaksikan mereka beraksi di Worthing pada suatu waktu yang sudah lalu, membuat saya untuk pertama kalinya menangis disaat menonton pertunjukan musik. Gelinjang tubuh, hentakan kaki dan suara-suara itu betul-betul indah. Menangis?? itu bukan yang terakhir kalinya, masih begitu juga pada saat menonton dentuman tenor Bocelli dengan aria-nya dan sekelompok bocah-bocah hitam bau kencur di Durban --kelompok yang kemudian saya namai secara sembarangan sebagai mambazo kecil.


Joseph membentuk Ladysmith Black Mambazo karena wangsit dari mimpinya. Ujungnya, kelompok sarat KKN hasil wangsit itu dilimpahi berbagai penghargaan di bidang tarik suara. Ketenaran tidak selalu berarti kebahagiaan selalu menyertai Joseph. Dua adiknya, yang juga anggota kelompok itu, dan istrinya mati dibunuh dan satu saudaranya meninggal karena sakit. Mungkin kepedihan demi kepedihan itulah yang membuat lengkingan suaranya begitu memilukan sekaligus indah.

Musik memang tak kenal batas negara, tak peduli dengan kandungan pigmen di kulit dan tak disekat oleh kebangsaan. Musik menyeruduk dan membelah batas-batas itu, seperti sapi hitam dan kapak.


Posted at 12:19 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Friday, May 19, 2006
Kupu-Kupu Idol

Tadi malam adalah malam yang langka untuk saya karena saya berkesempatan untuk nonton TV akibat "diusir" dari kantor oleh office boy yang sudah kebelet pulang. Sambil rebah-rebah saya menonton dua acara secara bergantian (menghindar iklan), yang satu acara American Idol di Star World dan satunya lagi tentang kupu-kupu di saluran National Geographic.

American Idol, sudah lama saya tidak melihat acara ini. Dulu pada saat saya masih bermukim di Inggris saya sempat menyaksikan moyangnya acara satu ini, The Biristh Pop Idol, bersama beberapa teman termasuk teman yang satu ini. Sebuah acara untuk mencari bakat tarik suara yang melibatkan pemirsanya melalui sms untuk memilih siapa yang pantas jadi jawara tarik suara. American Idol pun begitu. Hanya saja sihirnya jauh lebih ampuh dari moyangnya. Wabah idol itu lantas merambah ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Bahkan seorang teman yang saat ini sedang bertugas di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar sana pernah mengabari kalau di sana juga ada acara Saumlaki Idol.

Sebuah produk industri hiburan yang bisa dibilang sukses luar biasa. Jika dihitung dari seluruh acara idol-idolan yang pernah dan sedang berlangsung di dunia, entah sudah berapa ratus juta pesan sms yang dikirim dan yang menyertai tiap sms itu adalah uang. Belum lagi jutaan keping cakram padat dan kaset yang laris terjual dari para pemenang acara semacam itu. Dari para pemenang American Idol saja, setiap pemenangnya sudah menjual antara 10 - 30 juta unit per albumnya. Whuih ....

Menyelingi acara adu bagus suara itu saya juga menyaksikan acara tentang kehidupan kupu-kupu. Dari mulai telurnya yang rapuh menempel di dedaunan tumbuhan, menjadi ulat (bulu) yang sering membuat para perempuan menjerit-jerit. Ulat-ulat lantas dengan rakusnya melahap setiap lembar daun sebelum ia membungkus dirinya menjadi kepompong untuk akhirnya keluar menjadi mahluk rapuh yang rupawan ... kupu-kupu. Sebuah metamorfosis penuh drama.

Terbang dari satu bunga ke bunga lainnya menghisap madu menimbun tenaga untuk sebuah tugas akhir yang berat, kawin. Tak semua kupu-kupu bisa mencapai usia dewasa dan tidak semua kupu-kupu dewasa bisa menyelesaikan tugasnya, ya kawin itu tadi. Bagi yang berhasil, telur-telur dilekatkan di dedaunan dan kupu-kupu itu lantas mati. Sebuah keindahan yang berumur sangat singkat.

Kupu-kupu dan para idol itu, keduanya bermetamorfosis dan mungkin bernasib sama. Kupu-kupu berguguran karena cuaca, perusakan rumah tinggalnya sampai yang mati karena dilindas roda mobil. Para idol itu, berguguran karena jumlah sms yang mereka kumpulkan tak memadai jumlahnya. Sebagian kecil dari mereka bisa bertahan di panggung karena digemari, tetapi seperti juga kupu-kupu, sebagian besar dari mereka harus pergi dan tak terlihat lagi. Bagi pemenangnya, seberapa lama keindahan suara mereka bisa bertahan di industri tarik suara. Apakah suara indah dari getaran pita suara itu umurnya juga sesingkat getaran kepak sayap indah kupu-kupu?

Lagu dan kupu-kupu .... kupu-kupu yang lucu, kemana engkau terbang, hilir mudik mencari, bunga-bunga yang mekar .... begitu lagu masa kecil saya dulu. Untungnya, seburuk atau seindah apapun saya bernyanyi saya tidak dihakimi oleh sms.

Mbak Dian .... sampeyan mencet nomer berapa Mbak? he he he ...


Posted at 09:18 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, May 18, 2006
Sex Bebas

Berita yang satu ini mestinya bikin saya prihatin -- dan saya sempat prihatin -- tetapi beberapa bagian dari berita itu membuat saya terkekeh-kekeh secara memprihatinkan. Sebenarnya hal ini adalah soal kenakalan pelajar SLTA yang lantas dihubungkan dengan sex bebas. Tampaknya sang peneliti melihat sex bebas sebagai bagian dari kenakalan remaja. Kali ini saya tidak akan ndobos soal jumlah sampel, metoda atau kesimpulan penelitian, ndak nyandak sayanya, lha wong ilmu ndobos saya masih di tataran ban putih je.

Satu paragraf dalam berita itu bertuliskan demikian (saya kutip utuh) :

Dalam sidang gelar doktor di Kampus IPB, Darmaga, Kabupaten Bogor, Rabu (17/5), Herien juga memperlihatkan berbagai benda yang digunakan para pelajar tawuran seperti parang, gir, golok, celurit, miras, dan kondom. Ini semua dihadirkan untuk meyakinkan tim penguji.


Waduh, itu peralatan gebuk - gorok - tebas nya lengkap. Lho itu miras .... oooo itu "obat berani"nya mungkin. Kondom? Coba baca lagi .... pelajar tawuran pake kondom? Mohon maaf kalau saya terkekeh tidak pada tempatnya, tapi ....

Berita itu juga menuliskan bahwa sang peneliti menuding VCD porno dan sikap orang tua yang tabu untuk memberikan pendidikan sex kepada anak-anaknya sebagai penyebab sex bebas. Internet ndak dituding? Ah ... mungkin kelewat saja. Orang tua ndak mendidik, hmmm yang satu ini memang tidak mudah kok, seperti yang dialami oleh ibu ini. Walaupun bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Kembali soal sex bebas itu tadi tampaknya memang ada pergeseran cara pandang akan hal itu di masyarakat. Saya jadi ingat kalau ada adegan di film Indonesia yang tampaknya sudah tak pernah lagi muncul. Dialognya berbunyi "Apa????? engkau hamil???". Gambar di layar ... seorang perempuan muda, terisak dengan kepala tertunduk, ngglosor di lantai. Berdiri di depannya sang pengucap kata tadi ... seorang bapak berperawakan agak subur, mata mendelik, kening berkerut, dengan kumis sebesar gagang telepon bertengger mapan di atas mulutnya yang ternganga. Di latar belakang, seorang ibu separuh baya, berdiri terpaku, dengan kedua tangan menutup mulutnya. Kemana adegan itu sekarang?

Kalau sex bebas oleh sang peneliti itu lantas dikategorikan sebagai sebuah kenakalan anak sekolah menengah, apakah itu juga bisa dikatakan sebagai kenakalan bagi semua? Pesen saya ... sampeyan jangan nakal ya.


Posted at 12:20 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, May 17, 2006
Gembolan

Mbakyu ini meminta saya untuk membongkar isi tas saya dan ndobos soal itu. Saya terima saja permintaannya karena saya juga kok ingin tahu apa saja yang bersemayam di tas saya itu. Saya selama ini hanya merasakan, ini tas kok agak berat ya?

Tas saya itu wujudnya berupa backpack, ransel kecil, tiga warna merah-hitam-kelabu, yang deskripsi komplitnya bisa dilihat di sini. Nyaman digendong, dan bagian yang nempel di punggung ndak bikin sakit. Cantelannya juga empuk di pundak. Ada 3 ruang besar di ransel itu, dan saya akan mulai membongkar dari ruang yang paling depan.



Ruang depan ini terdiri dari beberapa kantung kecil. Mari kita lihat isinya. Hmmmm .... banyak ya. Dua buah hard disk external, 80 Gb dan 100 Gb yang isinya berbagai macam file peta, foto satelit dan entah apa lagi. Charger hp dan kamera, kamera poket, hp, tripod kecil, universal adaptor, uang logam, kartu nama, ballpoint, pensil, flash disk, bluetooth USB, CF-Card GPS, dua CD kosong, kunci-kunci, earphone, mouse, multiple usb ports, cards reader, korek api ... ooo ... ada permen karet juga. Universal adaptor itu untuk colokan listrik agar saya bisa tetap dapet setrum di tempat lain termasuk di dalam pesawat. Maklumlah tiap negara punya standard colokan listrik (plug) yang berbeda-beda.

Ruang tengah, ini ruang yang paling kecil dan isinya segepok kabel dari mulai kabel USB, kabel UTP, kabel koneksi hp ke laptop, kabel listrik, kabel audio dan kabel video. Oh iya, ada kantong plastik juga, isinya odol, sikat gigi, sabun dan shampo. Ini buat siap-siap, kalau-kalau saya harus nginep di tempat yang tidak menyediakan barang-barang itu.

Ruang belakang, nah ini dia ruang utama tas saya. Isinya Gundala (ini nama laptop saya) beserta adaptornya, buku-buku, laporan-laporan yang belum dibaca, kertas-kertas, botol air, makanan kecil, dompet travel, baju kaos, handuk kecil, payung kecil dan bantal tiup. Dompet travel itu isinya passport, tiket pesawat, kertas-kertas dan beberapa mata uang dalam bentuk uang kertas.

Dompet? Tidak ada di dalam tas, selalu ada dalam saku celana saya. Ini dompet merk-nya Alpina, dompetnya bocah-bocah kemping itu, kuat, murah, dan bisa memuat banyak barang. Isinya, uang kertas, kartu nama saya, bon-bon, bekas boarding pass, kartu bank, kartu frequent flyer, kartu kredit, sim, ktp dan allien registration card.

Selesai Mbakyu, itu isi tas dan dompet saya. Naaah...sekarang lempar ke siapa ya? Kang Mas Pecas Ndahe saja lah atau ke Pak De Kemplu?


Posted at 02:33 pm by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Tuesday, May 16, 2006
Tante Sun

Tadi malam saya teringat akan seorang tokoh yang kisah kesehariannya pernah dilantunkan oleh pelantun lagu-lagu balada dan kadang juga lagu-lagu "nakal" (untuk jaman itu). Tokohnya bernama Tante Sun, pelantunnya Trio Bimbo. Buat yang belum kenal Trio Bimbo, bisa dilihat di sini. Singkatnya, ini kelompok trio yang nyanyinya sering berempat, Kang Acil, Kang Jaka, Kang Sam dan sering kali disertai Teteh Iin dengan desahannya dan pelafalan "S" nya yang tak bisa saya lupakan.

Baik ... kembali ke lagu Tante Sun, lagunya sendiri pertama dinyanyikan sekitar pertengahan tahun 70-an, saya lupa kapan persisnya. Kenakalan Bimbo melantunkan Tante Sun mesti dilihat dalam konteks Indonesia di jaman itu. Tante Sun pun lantas terkena larangan untuk dinyanyikan. Tante Sun adalah seorang tokoh yang mestinya fiktif, tetapi kemiripannya dengan tokoh non-fiktif bisa dengan mudah dijumpai. Coba lihat penggalan lirik yang ini :

Tante Sun tante yang giat
tiap hari dia berolah raga
pergi bermain golf hingga datangnya siang
terus ke salon untuk mandi susu


dan ini

Batu zamrud, berlian dan kerikil
emas hingga besi beton bisnisnya
cukong-cukong dan tokeh, direktur dan makelar
tekuk lutut karena Tante Sun



Sekali lagi harap diingat soal jaman itu, jaman dimana main golf dan mandi susu adalah hal yang luar biasa ndak umumnya. Susu itu mestinya diminum, lha kok dipake mandi? Begitu pikiran orang-orang pada jaman itu (termasuk saya) tentang mandi susu. Tapi ya mestinya bisa-bisa saja toh rendem-rendem begitu, lha wong Tante Sun itu kaya raya, berpengaruh dan kayaknya juga berkuasa kok.

Siapa Tante Sun? Apa nama lengkapnya? Apakah dia punya anak dan suami? Seberapa kaya dia? Secantik apakah dia? Senang dansa apa dia?
Kalau sampeyan ada yang kenal .... saya titip sun untuk Tante Sun ya ....


Posted at 11:59 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, May 15, 2006
Maligayang Batik



Di mana-mana kok sama ya?
Kalau ulang tahun mesti tombok.
Harus ngasih makan temen sak kantor.
Belum lagi kalau temen-temennya itu dari golongan karung bergigi yang sedang kelaparan.
Selamat ulang tahun Beechie ... Maligayang batik ...


Posted at 06:35 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, May 14, 2006
Susu

Caloy dan Domeng -- dua nama taifun -- membawa hujan angin yang datang sebelum musimnya di Manila dan saya terkurung di kamar bersama teman satu ini dan susu yang katanya segar. Kali ini saya tidak akan ndobos soal taifun, angin atau hujan, tapi soal susu. Entah kenapa, susu yang diwadahi kotak itu sungguh menggugah rasa ingin tahu.

Susu itu diproduksi oleh perusahaan ini, sebuah perusahaan di Philippina yang juga menjual makanan. Hanya saja ternyata susunya sendiri datang dari Australia .... lha, jauh amat ya? Kalau jauh begitu, kata "segar" bagaimana urusannya itu. Ya memang tidak "segar", tetapi setelah dipasteurisasi dan dikemas dengan baik dan benar, maka banyak manfaat susu itu yang masih bisa dipertahankan untuk waktu yang lama. Kata cap di kotak susu itu, susu ini bisa tetap "segar" hingga 31 Oktober 2006.

Susu dari Australia, dipasarkan oleh perusahaan Philippina, dijual di Manila di toko ini -- yang tadinya dimiliki oleh Amerika sebelum dibeli oleh Jepang -- dan susunya tadi diminum oleh orang Indonesia. Ruwet? Mungkin iya, tapi ya tidak juga. Seperti halnya Indonesia, Australia dan Philippina adalah anggota dari WTO yang kerjanya mengurusi aturan-aturan perdagangan antar negara. Lha, aturan yang dibuat organisasi itu memungkinkan semua keruwetan tadi terjadi. Lantas dua pertanyaan susulan ini sering berkumandang. Apakah tidak ada sapi penghasil susu di Philippina, kok sampai beli dari negara yang jauh begitu? Apa harga susunya jadi tidak mahal itu? He he he ... perdagangan bebas atau saya sering menyebutnya sebagai "faktor titik-titik" itu bisa bikin hil hil yang mustahal.

Seorang peternak sapi di pinggiran Manila, sebut saja namanya Nila, mempunyai dua ekor sapi perah. Sebuah peternakan sapi di Australia sana, punya ribuan sapi perah. Sapi Nila makan rumput liar yang ada di sekitar kampungnya hasilnya hanya sebelanga. Sapi Australia diberi makan bergizi tinggi pemacu produksi susu sehingga hasilnya bertong-tong. Susu sapi Nila diperah dengan tangan, dibawa ke pasar dengan berjalan kaki dan dijual di pasar yang terik. Susu sapi Australia diperah mesin, disalurkan dengan pipa-pipa besar ke pabrik pengolahan, dikapalkan ke Philippina untuk dikemas dan disebar untuk kemudian dijual di toko-toko berpendingin.

Proses dari sapi hingga ke pasar dari susu Australia lebih ruwet daripada susunya Nila, tetapi harga susu Australia per liternya tak berbeda jauh dengan susunya Nila karena ada faktor volume dan faktor distribusi yang efisien. Ditambah faktor kenyamanan, kemudahan, keawetan dan sihir iklan, nyaris tak ada yang membeli susu yang dijual Nila hingga susunya rusak tak layak minum. Begitulah .... karena titik-titik, rusaklah susunya Nila yang sebelanga itu.


Posted at 01:10 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Saturday, May 13, 2006
Ampuuuuuun ...

Haih haih ... ternyata kabar seputar Soeharto -- buat yang sudah lupa, itu lho bekas presiden yang kabarnya sedang sakit itu -- ramai sekali belakangan ini. Sangking ramainya, berita soal presiden yang belum bekas pun kalah ramainya. Selain kabarnya sedang sakit, habis potong usus dan pasang pipa dan mau diampuni salah satu berita ramai itu juga mengatakan kalau institusi  para jaksa yang agung agung menghentikan kasus dugaan korupsinya.

Seingat saya Soeharto belum pernah diadili, belum pernah diputuskan apakah dia bersalah atau tidak oleh sebuah lembaga peradilan, hanya diputus bersalah oleh opini banyak orang -- mohon saya dikoreksi kalau salah ya --. Lha kok ujug-ujug ada berita kalau dia akan diampuni. Diampuni dari apa? Mbok ya itu Soehartonya diadili dulu, nanti kalau sudah diputuskan dia bersalah lha baru dipikirkan mau diampuni atau tidak.

Kemudian, kalau sudah bulat tekad hendak mengampuni, tanya dulu sama Soehartonya, apa ya dia mau diampuni. Lho .... mbok ya jangan berasumsi dulu to ya, siapa tahu Soehartonya ndak mau diampuni kalau dia sudah dinyatakan bersalah. Buat yang tekadnya sudah bulat kukuh, mbok jangan maksa mengampuni kalau yang akan diampuni nanti itu tidak mau diampuni.

Haiyaaaaah ... dari tadi kok saya ndobos soal ampun mengampun to? Ya bagaimana lagi, karena bangsa kita sedang ampun-ampunan kok! Ampuuuuuun...ampun.


Posted at 01:07 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Next Page