Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, May 26, 2006
He Bangs !

Acara cari-cari bakat menyanyi American Idol sudah selesai. Idolnya juga sudah ketemu. Saya sebenarnya ndak ngikuti acara itu dan ndak punya keterikatan juga dengannya. Tetapi, ada satu hal yang selalu terlintas pertama di benak ini kalau mendengar kata American Idol ... William Hung.

William Hung itu mahasiswa teknik di University of California di Berkeley. Dalam audisi American Idol dia "membawakan" lagu She Bangs-nya Ricky Martin, penyanyi pujaannya. Ndak bisa nyanyi dan ndak bisa joget, begitu penilaian salah satu juri. Tetapi apa katanya setelah dia jadi bahan tertawaan dan olok-olok para juri, dia bilang "I already gave my best and I have no regret at all". William Hung tidak lolos audisi apalagi menang, tapi dia jadi "pemenang" di luar pentas acara itu.

Lepas dari audisi yang singkat dan bisa bikin banyak orang-orang "gagal" lainnya langsung menghilang, bintang Hung malah bersinar jreng. Undangan buat nanggap rame berdatangan tidak hanya dari dalam Amerika tapi juga dari luar. Tidak berhenti sampai di situ saja, dia dapat kontrak buat bikin album (Inspiration) dengan lagu andalan .... apalagi kalau bukan She Bangs. Website-nya pun ramai pengunjung, jutaan. Talk show di TV, komplit. Tak lupa pula dia ikut menggalang dana untuk disumbangkan kepada korban tsunami.

Apa yang membuatnya sukses? Apakah dia hanya dibuat untuk sekedar bahan lucu-lucuan? atau karena sikapnya yang memandang sesuatu secara positif? Apapun itu yang jelas dia sudah jadi superstar, William Hung sudah jadi Hong Kong Ricky Martin, dan buat saya dia sudah melaksanakan tugasnya, menghibur orang.

Kalau lantas saya boleh menyanyi buat William Hung, maka saya akan bernyanyi

he bangs, he bangs ...
he moves, he moves ...

C'mmon William, shake your bon-bon.


Posted at 02:10 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Thursday, May 25, 2006
Dor-doran Khilaf?

Timor Leste rusuh (lagi). Sekarang yang berkelahi tentara lawan bekas tentara dan yang bukan termasuk keduanya pada ngumpet atau melarikan diri sejauh mungkin dari medan bedil-bedilan. "Mas, kemaren ada tembak-tembakan lagi di Tasitolu", begitu email dari teman di Timor Leste. Kenapa tanah yang bagus itu selalu diganggu oleh rusuh dan tanahnya seolah-olah haus darah.

Di tengah keprihatinan itu, saya masih sempat senyum-senyum ... asem tapi senyumnya, karena membaca berita di KCM. Judul beritanya "AS Perintahkan Keluarga Diplomat Tinggalkan Timor Leste". Berita yang menyangkut Amerika dan Timor Leste, tetapi berita itu masuk dalam list index berita Nasional. Ah, mungkin yang mengindex berita khilaf, atau lupa kalau AS dan Timor Leste itu bukan bagian dari Indonesia.

Khilaf dan lupa itu manusiawi kok. Mungkin yang sekarang sedang sibuk dor-doran itu juga sedang khilaf. Seperti juga yang naik BMW X5 yang kata kabar burung bikin ngeri itu.


Posted at 12:36 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Wednesday, May 24, 2006
Suramat Datang Kumbari

Waktu pulangnya mundur saja, dari pada kamu naik pesawat itu. Begitu nasehat teman saya yang baik hati begitu tahu saya dapat tiket Northwest, perusahaan penerbangan dari negara nyang ntu tuh, untuk kembali ke Tokyo dari Manila. Mundur ndak bisa, ada acara yang saya tidak bisa mangkir, lagipula hanya Northwest yang masih ada tempat. Aaaah, teman itu mungkin sedang sial saja waktu dia pakai perusahaan penerbangan itu.

Tetapi, saya ikuti juga nasehatnya, datang 3 jam sebelum waktu penerbangan. Pemeriksaan pertama, barang-barang masuk mesin x-ray, badan yang sudah bebas logam melenggang lewat metal detektor. Lewat. Begitu tiba di meja check-in antrean sudah panjang. Oooo ternyata itu antrian pemeriksaan (lagi). Walah, itu orang-orang Philippina bawaannya wuih wuih besarnya dan banyaknya. Bikin antrian tersendat saja. Itu mbungkus kerbo apa ya? Atau becak mesin? Ndak tau saya. Lho, sekarang pemriksaannya pake wawancara. Wawancara soal isi tas, lantas lewat x-ray lagi dan lewat metal detektor lagi. Kali ini tas yang tidak akan masuk bagasi dibongkar. Acara apa ini apa itu selesai, lewat lagi.

Lho, tempat duduk saya kok di tengah? Padahal waktu pesen tiket sempet ditanya, dan saya sudah minta duduk di gang, jangan di jendela kalau bisa apalagi di tengah. Percumah ngotot, petugasnya lebih galak. Ya sudah, yang waras ngalah saja, lagipula toh penerbangannya ndak sampai 4 jam.

Pemeriksaan imigrasi lancar, dan saya memutuskan untuk langsung saja ke ruang tunggu keberangkatan. Lha??? pemeriksaan lagi. Kali ini sepatu dan ikat pinggang harus dicopot, masuk mesin x-ray, dan saya harus mbrobos metal detektor lagi. Metal detektor ndak nguing-nguing tanda saya bebas logam, akan tetapi ... lho kok masih harus pake acara digrayangi segala? periksa badan pake tangan gitu? Lho kan tas dibongkar lagi, apa ini apa itu lagi.

Haih haih, bandara ini kok ndak ada yang bisa dilihat toh ya. Sudahlah, ke ruang tunggu saja. Diamput ... pemeriksaan lagi dan kali ini benar-benar edan. Selain sepatu dan ikat pinggang dibuka lagi, kali ini acara bongkar tas ditambahi wawancara "ora mutu blas". Lha saya itu cuma punya nama yang terdiri dari satu kata. Itu yang wawancara kok ndesit pol ya, nggak percaya kalo nama saya ya cuma itu. Passport, KTP Bogor, SIM, KTP di Jepang, keluar semua untuk meyakinkan dia bahwa nama saya ya cuma itu. Dia bilang, di mana-mana orang itu punya nama keluarga. Ooooalah ... bodo kok ngotot!!! Saya ndobos sekalian, di Indonesia orang yang namanya cuma satu kata itu lebih banyak jumlahnya daripada seluruh penduduk Philippina !!! (ini betul apa ndak ya?).

Selesai urusan nama, sekarang urusan barang di tas saya itu. Coba itu kamera diaktifkan, coba motret, sekarang fotonya dihapus. Coba itu hp diaktifkan, coba telepon. Coba itu laptop dinyalakan .... hmmmm .... ok sekarang bisa dimatikan. Dompet isinya apa? Kemana saja waktu di Philippina? Baik, sekarang lewat metal detektor lagi, digrayangi lagi. Ini orang Philippina kok hobinya ndemek to ya??!!

Akhirnya sampai juga di dalam kabin pesawat. Hampir semua tempat barang penuh, ada yang bawa kembang segala ... ooo mungkin buat cemilan selama diperjalanan barangkali. Duduk manislah saya di kursi tengah itu. Jam keberangkatan sudah lewat, pesawat masih belum bergerak. Ternyata ada penumpang yang "hilang", bagasinya harus dikeluarkan dulu. Ini orang mau pergi kok nggak niat sih. Waktu keberangkatan sudah lewat setengah jam, ada pengumuman kalau pesawat belum bisa berangkat karena ada pintu di pesawat yang ndak bisa dikunci!!!! Masalah teknis katanya, sekarang sedang diperbaiki. Mungkin tukang kuncinya masih tidur, karena akhirnya masalah baru selesai satu jam kemudian.

Pesawat akhirnya berangkat juga. Acara bagi-bagi makanan dimulai. Saya itu karung bergigi, apa saja disantap, tapi maaf, kali ini itu makanan ndak bisa masuk blas. Mungkin tukang masaknya lagi ngantuk, karbol dikira bumbu.

Begitu tiba di Narita, ada kehebohan baru. Kali ini yang heboh para penumpang yang ketinggalan penerbangan sambungannya karena pesawat yang saya tumpangi telat datangnya. Biasalah, acara adu otot leher. Itu orang-orang lehernya kok pada varises semua ya. Teman saya itu benar, iya deh ... lain kali saya tidak akan naik Northwest lagi. Telat, pemeriksaannya bikin jengkel. Takut apa ya mereka? Mungkin mereka belum pernah tahu peribahasa Indonesia, berani karena benar, takut karena salah. Salah apa ya mereka?

Tiba di bagian pemeriksaan imigrasi, jalur buat pemegang pasport Jepang atau para pemegang ijin menetap kosong. Setelah selesai acara cap-capan pasport yang cepat itu, pak petugas lantas tersenyum sambil berkata "Suramat datang kumbari", saya ndolongop, "saya duru purunah ke Ubud". Saya membalas senyumnya.


Posted at 10:10 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Tuesday, May 23, 2006
Goyang Bollywood

Nonton film India di bioskop itu berarti mengaduk-aduk perasaan. Dalam sebuah film India itu yang namanya lucu, sedih, gembira dan tegang dicampur jadi satu. Harga karcisnyapun murah dan masa putarnya lama. Lha gimana ndak lama, lha wong ceritanya komplit, dari mulai lahir sampai mati kok. Tapi itu dulu lho ya, ndak tahu sekarang gimana. Dulu itu jamannya saya masih kinyis-kinyis dan rada sering juga nonton film India di Bandung, di bioskop Vanda yang sekarang sudah hilang. Ada potongan harga kalau beli karcisnya pakai kartu pelajar atau kartu mahasiswa.

Industri film di India, terutama di Bollywood, adalah industri raksasa yang bahkan Hollywood pun tak mampu melawan produktivitasnya. Sebuah industri yang menjadikan mimpi sebagai jualan utamanya, dan tampaknya sampai sekarangpun India masih sangat membutuhkan mimpi itu. Bangkit sebagai raksasa ekonomi baru di Asia bersama dengan Cina, India menghadapi persoalan yang sangat besar. Kebangkitan ekonomi tidak dibarengi dengan pemerataan kemakmuran. Jurang yang memisahkan si "bisa beli" dan si "bisa ngiler" begitu lebar, demikian laporan BBC tadi malam. Mimpi yang disajikan oleh film, bisa menjadi obat penenang.

Sebuah kejadian kecil bisa mungkin menggambarkan betapa besarnya jurang itu. Saya sedang berada di Coimbatore, sebuah kota kecil di India bagian Selatan. Saya sedang berdiri di pinggir jalan berusaha menyetop becak mesin, dan tak jauh dari tempat saya berdiri itu ada gunungan sampah yang baunya bisa membuat orang yang punya bulu hidung berlebih merasa sangat bersyukur. Di gunungan sampah itu ada tubuh kurus yang tergeletak tidak bergerak. Mati? mungkin saja. Belum lagi jauh becak bermesin itu melaju (ngebut gila-gilaan), becak tersebut di(ter)serempet mobil sedan Mercedes keluaran terbaru. Ini terjadi disebuah kota kecil, lha bagaimana di Delhi atau Mumbai? Seberapa besar jurangnya?

Saya lantas kok bertanya-tanya, apakah ada hubungan antara industri jualan mimpi dengan lebarnya jurang si "bisa beli" dan si "bisa ngiler" tadi? Seberapa besar peran goyang Bollywood untuk meredam ledakan sosial yang mungkin terjadi? Kalau ada hubungannya, apakah hal itu juga berlaku di Indonesia?

Coba sampeyan pikir-pikir, saya mau joget dulu.


Posted at 09:23 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, May 22, 2006
Dijual Tanah Berkuda




Yang punya rumah itu mau jual tanahnya, 2.8 hektar, per meter perseginya 350 Peso. Lokasinya agak di pelosok, di kaki Gunung Banahaw di pinggiran Taman Nasional Mt. Banahaw - San Cristobal. Kalo sudah laku nanti yang punya mau pindah ke kota, mau beli Jeepney atau becak mesin. Lagi pula sudah banyak tanah di sekitar tempat itu yang dibeli oleh banyak orang dari Manila dan dari Korea.

Harga segitu sudah termasuk surat-suratnya lho, pokoknya yang beli tinggal bayar dan tanda tangan, tanah pindah tangan. Harga segitu juga sudah termasuk pohon-pohon yang tumbuh di atas tanah itu, rambutan, mangga, kelapa, jeruk nipis, jambu batu, nangka dan langsat.

Kuda itu? Ooo itu ndak dijual, walaupun kuda itu ditambatkan di atas tanah itu. Tapi kalau mau bisa dirundingkan kok. Mungkin hasil jual kudanya bisa dipakai untuk ongkos transport boyongan ke kota ya? Kalau ndak ada yang beli kuda itu, ya pindahan ke kotanya naik kuda saja.

Cerita begini kok rasa-rasanya sering dengar ya?


Posted at 10:13 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, May 21, 2006
Kenikmatan 7.5 peso




Berkeliling kota dengan kawan yang satu ini naik Jeepney benar-benar sumringah rasanya. Setelah dipaksa untuk biasa dengan segala keteraturan yang nyaris mekanikal di Tokyo, ketidakpastian dan aturan yang longgar dari ber-jeepney di Manila bisa menjadi selingan yang menyenangkan.

Dalam banyak hal, Jeepney mengingatkan saya akan angkot (angkutan kota) di Bogor. Bisa (bukan berarti boleh) berhenti nyaris di mana saja, relatif murah, berdempetan serta aroma tubuh aneka rupa. Plat nomor Jeepney pun mirip dengan angkot, berwarna dasar kuning dengan huruf dan angka berwarna hitam. Jeepney juga kadang dilengkapi alat pemutar rekaman musik yang suaranya berdentam-dentam menggoyang jantung. Kalau bagian musik ini mungkin lebih mirip dengan angkot di Kupang. Mau berhenti, tinggal teriak "para", seperti berteriak "kiri" jika naik angkot. Kata boleh berbeda, efeknya sama, kendaraan menepi dan berhenti. Mau menyetop, cukup melambai atau mengangguk. Lha ... tinggal itu kendaraan yang di belakang Jeepney yang klaksonnya lantas kaing-kaing, marah, jengkel atau kesal.

Ukuran Jeepney lebih besar dari angkot dan ke dalam Jeepney bisa saja dijejalkan 22 orang tanpa masalah, angkot mungkin tak sampai setengahnya. Tak banyak Jeepney yang memiliki pintu untuk sisi supir dan penumpang yang duduk di depan. Saya kok belum pernah lihat angkot yang lagi narik tanpa pintu. Soal warna juga berbeda. Jika angkot diwarnai sesuai dengan asalnya (apa ada perda soal warna angkot ya?), tubuh Jeepney, walaupun didominasi warna alumunium, di sana-sini dilumuri cat dengan warna-warna meriah yang mengingatkan saya akan perahu nelayan Pantai Utara Jawa.

Interaksi sosial di dalam Jeepney bisa terjadi secara begitu saja. Pada saat akan membayar ongkos, penumpang yang posisi duduknya jauh dari supir, akan memberikan uang kepada penumpang lain untuk diteruskan ke supir. Jika ada uang kembalian, uang itu juga berpindah-pindah tangan sebelum sampai ke yang berhak. Ada sentuhan, ada saling menatap dan sering juga ada senyum.

Kereta api di Tokyo, bersih, tepat waktu dan sunyi seperti yang pernah saya tulis di sini. Jeepney Manila atau angkot di Bogor, tak terduga, riuh-rendah, nyaris tanpa aturan dan ada senyuman. Tapi kok rasanya Jeepney dan angkot lebih manusiawi ya? Ada kehidupan di situ.

Ber-jeepney ria siang hari, cukup dengan 7.5 peso, dijamin keringetan ....


Posted at 08:11 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Saturday, May 20, 2006
Nyanyian Kapak Sapi Hitam




Ndobos soal nyanyi menyanyi kemarin itu mengingatkan saya akan sebuah kelompok paduan suara dari sebuah tanah yang pernah tercabik-cabik oleh perbedaan warna kulit. Saya ndak tahu apa sampeyan kenal dengan nama kelompok itu, tapi nyanyian mereka adalah salah satu yang amat saya gemari hingga kini. Ladysmith Black Mambazo, pelantun lagu dari Afrika Selatan.

Walaupun ada kata "Lady" dalam nama kelompok itu, semua penyanyinya adalah lelaki. Sama seperti kelompok penyanyi kesukaan saya yang lainnya, Queen, yang semuanya juga lelaki. Ladysmith adalah nama tempat dari mana kelompok ini berasal, Black merujuk pada sapi hitam dan Mambazo sebuah kata dalam Bahasa Zulu yang berarti kapak.

Mendengar lengkingan suara bergetar sang pemimpin, Joseph Shabalala, lenguhan bass Thulani dan Sibongiseni -- keduanya anak Joseph -- dan harmoni dari tujuh lainnya sungguh-sungguh aaaaaahhhh.  Menyaksikan mereka beraksi di Worthing pada suatu waktu yang sudah lalu, membuat saya untuk pertama kalinya menangis disaat menonton pertunjukan musik. Gelinjang tubuh, hentakan kaki dan suara-suara itu betul-betul indah. Menangis?? itu bukan yang terakhir kalinya, masih begitu juga pada saat menonton dentuman tenor Bocelli dengan aria-nya dan sekelompok bocah-bocah hitam bau kencur di Durban --kelompok yang kemudian saya namai secara sembarangan sebagai mambazo kecil.


Joseph membentuk Ladysmith Black Mambazo karena wangsit dari mimpinya. Ujungnya, kelompok sarat KKN hasil wangsit itu dilimpahi berbagai penghargaan di bidang tarik suara. Ketenaran tidak selalu berarti kebahagiaan selalu menyertai Joseph. Dua adiknya, yang juga anggota kelompok itu, dan istrinya mati dibunuh dan satu saudaranya meninggal karena sakit. Mungkin kepedihan demi kepedihan itulah yang membuat lengkingan suaranya begitu memilukan sekaligus indah.

Musik memang tak kenal batas negara, tak peduli dengan kandungan pigmen di kulit dan tak disekat oleh kebangsaan. Musik menyeruduk dan membelah batas-batas itu, seperti sapi hitam dan kapak.


Posted at 12:19 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Friday, May 19, 2006
Kupu-Kupu Idol

Tadi malam adalah malam yang langka untuk saya karena saya berkesempatan untuk nonton TV akibat "diusir" dari kantor oleh office boy yang sudah kebelet pulang. Sambil rebah-rebah saya menonton dua acara secara bergantian (menghindar iklan), yang satu acara American Idol di Star World dan satunya lagi tentang kupu-kupu di saluran National Geographic.

American Idol, sudah lama saya tidak melihat acara ini. Dulu pada saat saya masih bermukim di Inggris saya sempat menyaksikan moyangnya acara satu ini, The Biristh Pop Idol, bersama beberapa teman termasuk teman yang satu ini. Sebuah acara untuk mencari bakat tarik suara yang melibatkan pemirsanya melalui sms untuk memilih siapa yang pantas jadi jawara tarik suara. American Idol pun begitu. Hanya saja sihirnya jauh lebih ampuh dari moyangnya. Wabah idol itu lantas merambah ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Bahkan seorang teman yang saat ini sedang bertugas di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar sana pernah mengabari kalau di sana juga ada acara Saumlaki Idol.

Sebuah produk industri hiburan yang bisa dibilang sukses luar biasa. Jika dihitung dari seluruh acara idol-idolan yang pernah dan sedang berlangsung di dunia, entah sudah berapa ratus juta pesan sms yang dikirim dan yang menyertai tiap sms itu adalah uang. Belum lagi jutaan keping cakram padat dan kaset yang laris terjual dari para pemenang acara semacam itu. Dari para pemenang American Idol saja, setiap pemenangnya sudah menjual antara 10 - 30 juta unit per albumnya. Whuih ....

Menyelingi acara adu bagus suara itu saya juga menyaksikan acara tentang kehidupan kupu-kupu. Dari mulai telurnya yang rapuh menempel di dedaunan tumbuhan, menjadi ulat (bulu) yang sering membuat para perempuan menjerit-jerit. Ulat-ulat lantas dengan rakusnya melahap setiap lembar daun sebelum ia membungkus dirinya menjadi kepompong untuk akhirnya keluar menjadi mahluk rapuh yang rupawan ... kupu-kupu. Sebuah metamorfosis penuh drama.

Terbang dari satu bunga ke bunga lainnya menghisap madu menimbun tenaga untuk sebuah tugas akhir yang berat, kawin. Tak semua kupu-kupu bisa mencapai usia dewasa dan tidak semua kupu-kupu dewasa bisa menyelesaikan tugasnya, ya kawin itu tadi. Bagi yang berhasil, telur-telur dilekatkan di dedaunan dan kupu-kupu itu lantas mati. Sebuah keindahan yang berumur sangat singkat.

Kupu-kupu dan para idol itu, keduanya bermetamorfosis dan mungkin bernasib sama. Kupu-kupu berguguran karena cuaca, perusakan rumah tinggalnya sampai yang mati karena dilindas roda mobil. Para idol itu, berguguran karena jumlah sms yang mereka kumpulkan tak memadai jumlahnya. Sebagian kecil dari mereka bisa bertahan di panggung karena digemari, tetapi seperti juga kupu-kupu, sebagian besar dari mereka harus pergi dan tak terlihat lagi. Bagi pemenangnya, seberapa lama keindahan suara mereka bisa bertahan di industri tarik suara. Apakah suara indah dari getaran pita suara itu umurnya juga sesingkat getaran kepak sayap indah kupu-kupu?

Lagu dan kupu-kupu .... kupu-kupu yang lucu, kemana engkau terbang, hilir mudik mencari, bunga-bunga yang mekar .... begitu lagu masa kecil saya dulu. Untungnya, seburuk atau seindah apapun saya bernyanyi saya tidak dihakimi oleh sms.

Mbak Dian .... sampeyan mencet nomer berapa Mbak? he he he ...


Posted at 09:18 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, May 18, 2006
Sex Bebas

Berita yang satu ini mestinya bikin saya prihatin -- dan saya sempat prihatin -- tetapi beberapa bagian dari berita itu membuat saya terkekeh-kekeh secara memprihatinkan. Sebenarnya hal ini adalah soal kenakalan pelajar SLTA yang lantas dihubungkan dengan sex bebas. Tampaknya sang peneliti melihat sex bebas sebagai bagian dari kenakalan remaja. Kali ini saya tidak akan ndobos soal jumlah sampel, metoda atau kesimpulan penelitian, ndak nyandak sayanya, lha wong ilmu ndobos saya masih di tataran ban putih je.

Satu paragraf dalam berita itu bertuliskan demikian (saya kutip utuh) :

Dalam sidang gelar doktor di Kampus IPB, Darmaga, Kabupaten Bogor, Rabu (17/5), Herien juga memperlihatkan berbagai benda yang digunakan para pelajar tawuran seperti parang, gir, golok, celurit, miras, dan kondom. Ini semua dihadirkan untuk meyakinkan tim penguji.


Waduh, itu peralatan gebuk - gorok - tebas nya lengkap. Lho itu miras .... oooo itu "obat berani"nya mungkin. Kondom? Coba baca lagi .... pelajar tawuran pake kondom? Mohon maaf kalau saya terkekeh tidak pada tempatnya, tapi ....

Berita itu juga menuliskan bahwa sang peneliti menuding VCD porno dan sikap orang tua yang tabu untuk memberikan pendidikan sex kepada anak-anaknya sebagai penyebab sex bebas. Internet ndak dituding? Ah ... mungkin kelewat saja. Orang tua ndak mendidik, hmmm yang satu ini memang tidak mudah kok, seperti yang dialami oleh ibu ini. Walaupun bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Kembali soal sex bebas itu tadi tampaknya memang ada pergeseran cara pandang akan hal itu di masyarakat. Saya jadi ingat kalau ada adegan di film Indonesia yang tampaknya sudah tak pernah lagi muncul. Dialognya berbunyi "Apa????? engkau hamil???". Gambar di layar ... seorang perempuan muda, terisak dengan kepala tertunduk, ngglosor di lantai. Berdiri di depannya sang pengucap kata tadi ... seorang bapak berperawakan agak subur, mata mendelik, kening berkerut, dengan kumis sebesar gagang telepon bertengger mapan di atas mulutnya yang ternganga. Di latar belakang, seorang ibu separuh baya, berdiri terpaku, dengan kedua tangan menutup mulutnya. Kemana adegan itu sekarang?

Kalau sex bebas oleh sang peneliti itu lantas dikategorikan sebagai sebuah kenakalan anak sekolah menengah, apakah itu juga bisa dikatakan sebagai kenakalan bagi semua? Pesen saya ... sampeyan jangan nakal ya.


Posted at 12:20 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, May 17, 2006
Gembolan

Mbakyu ini meminta saya untuk membongkar isi tas saya dan ndobos soal itu. Saya terima saja permintaannya karena saya juga kok ingin tahu apa saja yang bersemayam di tas saya itu. Saya selama ini hanya merasakan, ini tas kok agak berat ya?

Tas saya itu wujudnya berupa backpack, ransel kecil, tiga warna merah-hitam-kelabu, yang deskripsi komplitnya bisa dilihat di sini. Nyaman digendong, dan bagian yang nempel di punggung ndak bikin sakit. Cantelannya juga empuk di pundak. Ada 3 ruang besar di ransel itu, dan saya akan mulai membongkar dari ruang yang paling depan.



Ruang depan ini terdiri dari beberapa kantung kecil. Mari kita lihat isinya. Hmmmm .... banyak ya. Dua buah hard disk external, 80 Gb dan 100 Gb yang isinya berbagai macam file peta, foto satelit dan entah apa lagi. Charger hp dan kamera, kamera poket, hp, tripod kecil, universal adaptor, uang logam, kartu nama, ballpoint, pensil, flash disk, bluetooth USB, CF-Card GPS, dua CD kosong, kunci-kunci, earphone, mouse, multiple usb ports, cards reader, korek api ... ooo ... ada permen karet juga. Universal adaptor itu untuk colokan listrik agar saya bisa tetap dapet setrum di tempat lain termasuk di dalam pesawat. Maklumlah tiap negara punya standard colokan listrik (plug) yang berbeda-beda.

Ruang tengah, ini ruang yang paling kecil dan isinya segepok kabel dari mulai kabel USB, kabel UTP, kabel koneksi hp ke laptop, kabel listrik, kabel audio dan kabel video. Oh iya, ada kantong plastik juga, isinya odol, sikat gigi, sabun dan shampo. Ini buat siap-siap, kalau-kalau saya harus nginep di tempat yang tidak menyediakan barang-barang itu.

Ruang belakang, nah ini dia ruang utama tas saya. Isinya Gundala (ini nama laptop saya) beserta adaptornya, buku-buku, laporan-laporan yang belum dibaca, kertas-kertas, botol air, makanan kecil, dompet travel, baju kaos, handuk kecil, payung kecil dan bantal tiup. Dompet travel itu isinya passport, tiket pesawat, kertas-kertas dan beberapa mata uang dalam bentuk uang kertas.

Dompet? Tidak ada di dalam tas, selalu ada dalam saku celana saya. Ini dompet merk-nya Alpina, dompetnya bocah-bocah kemping itu, kuat, murah, dan bisa memuat banyak barang. Isinya, uang kertas, kartu nama saya, bon-bon, bekas boarding pass, kartu bank, kartu frequent flyer, kartu kredit, sim, ktp dan allien registration card.

Selesai Mbakyu, itu isi tas dan dompet saya. Naaah...sekarang lempar ke siapa ya? Kang Mas Pecas Ndahe saja lah atau ke Pak De Kemplu?


Posted at 02:33 pm by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Next Page