Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Wednesday, May 31, 2006
Bayar Berapa?

Suatu ketika pada masa yang sudah lama. Saya menghadiri sebuah acara pernikahan seorang kawan, anak saya ikut.

Mulutnya masih penuh makanan hidangan pesta, ketika dia bertanya :

anak    : Pak, kalo nikah itu mbayar ya Pak?
bapak  : iya Mas
anak    : Bapak bayar berapa ke Ibu?

celingukan mencari Ibunya anak-anak ... ooo dia lagi antri siomay

bapak  : ndak tau Mas, lha wong sampe sekarang Bapak masih mbayar.
anak    : oh ... satenya enak Pak, mau?


Posted at 11:27 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Tuesday, May 30, 2006
rrrrrrrrrrrr

Pada hari Satu pagi lalu itu, bangun tidur ku terus aduh aduh, bukannya mandi dan sikat gigi. Punggung dan pinggang rasanya sakit sekali. Biyuh biyuh, nemen ini sakitnya. Dengan susah payah saya turun dari tempat tidur dan langsung menelpon teman yang rumahnya di dekat rumah saya. "Baik, saya datang ke tempatmu, ada klinik fisioterapi di dekat stasiun" begitu katanya. Fisioterapi??? Waaah...pijet ini, sedap betul. Ayo ayo ayo ...

Sudah lama saya tidak pijetan. Biasanya di Bogor itu kalau badan terasa remuk redam, bisa manggil tukang pijet langganan,  saya memanggilnya Bi Nyai. Remasannya Bi Nyai itu mantab pol, apalagi dia sering mijet sambil cerita. Macam-macamlah ceritanya, dari mulai soal tanahnya yang sering ditawar orang, sampai cerita masa kecilnya. Bi Nyai memang punya kebun, seribuan meter persegi, dan sering ditawar orang -- biasanya calo tanah. "Diical wae kitu den? Da eta nu bade meser pejabat ... sieun Bi Nyai mah". Kalau sudah begini saya jadi sok bijak, "Ulah atuh Bi Nyai. Naha pejabat teh nyingsiuenan, anu nyingsieunan mah arana penjahat sanes pejabat".

Balik lagi soal "pijetan" saya tadi. Teman itu datang naik skuter listriknya yang sering bikin saya tertawa itu. Lha wong dia itu kalau naik skuter dandanannya persis seperti pembalap MotoGP, padahal skuternya paling banter cuma bisa dikebut 40 km/jam di jalan rata. Dengan pinggang cenut-cenut, saya membonceng pembalap satu ini ke klinik fisioterapi itu.

Mungkin karena tidak ramai, saya bisa langsung ditangani. Periksa-periksa dulu, pencet sana pencet sini. Lantas dia nyerocos dalam Bahasa Jepang yang tidak saya pahami, dan teman pembalap saya itu juga pelit terjemahan, dia cuma bilang "OK kamu bisa di treatment sekarang".

Baju dilucuti dan saya disuruh tengkurep di tempat tidur yang ada bolongannya di bagian kepala. Lantas tukang pijetnya memperlihatkan benda-benda bunder pipih sambil nyerocos, saya manggut-manggut saja. Oooo ... ternyata punggung dan pinggang saya ditempeli alat itu. Lantas dia menunjukan 4 jarum panjang-panjang. Saya tidak manggut, tetapi ditusuk juga sayanya, nyaris tidak terasa. Teman pembalap yang setia mendampingi saya di samping ranjang pemijatan itu lantas berkata "Sekarang mereka akan mengalirkan listrik, kalau sakit bilang stop". Listrik ??!!! Lho, saya itu mau dipijet kok malah disetrum toh? Belum sempat protes .... rrrrrrrrrrrr .... setoooooop!

Otot saya mulai mengikuti irama kejutan listrik, kenceng ... kendor ... kenceng ... kendor. Setengah jam lamanya saya disetrum begini. Selesai disetrum, sang pembalap dan sang tukang pijet ngobrol lagi, sementara saya masih tengkurep keringetan. Tiba-tiba, muncul sang asisten tukang pijet sambil membawa plester panjang yang lantas ditempelkan di kiri dan kanan tulang belakang. Sang pembalap lantas berkata "OK, selesai sudah. Sekarang kamu saya antar pulang dan Senin pagi kamu saya jemput untuk treatment lagi". Lho ... mbayarnya? Ooo ternyata tagihan akan langsung dikirimkan ke kantor.

Senin pagi kemarin saya datang lagi. Kali ini dipijat sebentar, tapi ya tetap di setrum juga .... rrrrrrrrrrrr.


Posted at 12:14 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Monday, May 29, 2006
...




Pulau Jawa itu tanahnya subur, cuacanya bersahabat tak heran jika penduduknya padat. Ada bisul-bisul di wajah Jawa, gunung-gunung api itu, yang setia memuntahkan nanahnya yang lantas menjadi rabuk bagi tanah. Kesuburan yang memaku penghuninya, yang lantas beranak pinak dan menjadi banyak di tanah itu.

Rekahan itu ada di dasar laut  pulau yang subur itu. Rekahan yang tak terlihat dalam keseharian kita. Jika rekahan itu beringsut barang setindak saja, tanah yang kita injak pun bergetar. Tanah Jawa yang subur itu kemarin bergetar. Rumah tidak kuasa lagi untuk tetap berdiri gagah. Rumah tidak lagi memberi naungan dan lindungan, dia menelan ... ribuan jiwa jumlahnya.

Udin, Ige, Wasis, Nanang, Edo, Naring, Atik ... mudah-mudahan kalian selamat. Saya yang ada di tempat yang jauh ini, hanya bisa berdoa dan berduka.




Posted at 01:07 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, May 28, 2006
Nama

Apa sampeyan pernah "repot" gara-gara urusan nama sampeyan? Untuk urusan yang satu ini, saya terkadang dibuat agak repot, agak jengkel tetapi lebih sering dibuat cengengesan geli. Masalahnya sederhana, saya itu hanya punya nama dengan satu kata, bukan dua atau tiga dan tak ada nama keluarga menempel di nama saya yang hanya satu kata itu. Pada semua dokumen identitas resmi, nama saya tercantum apa adanya. Lha ... apan orang Indonesia banyak yang begitu, lantas di mana masalahnya? Segala kerepotan, kejengkelan dan cengengesan tadi terjadi di luar teritori negara gemah ripah itu.

Salah satu kisah yang bikin saya garuk-garuk kepala --walaupun ndak gatel-- itu terjadi di Jepang sini. Alkisah saya harus mempunyai rekening di bank, untuk memudahkan bagian bayar-bayar membayar upah kerja saya. Disarankan pula agar saya memiliki kartu kredit untuk memudahkan acara bayar membayar dalam perjalanan dinas. Masuk akal, dan tampaknya memang perlu.

Pergilah saya ke sebuah bank dan langsung disambut ramah oleh Mbakyu di bagian pelayanan, pakai acara disuguhi kopi dan kueh segala. Maksud kedatangan diterangkan dan langsung dimengerti. Mbakyu itu lantas memanggil temannya di bagian kartu kredit untuk turut serta membantu saya melaksanakan niat. Dua petugas dan dua formulir aplikasi ada di depan saya. Formulir aplikasi standard saja. Lengkap sudah isiannya, dan keduanya lantas sibuk dengan terminal komputernya masing-masing.

Tampaknya ada masalah, keduanya datang kembali ke saya dengan pertanyaan yang sama. Mana nama yang satu lagi? Nama apa? Nama saya ya cuma itu. Saya lantas melakukan prosedur standard, keluarkan passport dan kartu identitas lain. Lho kan, nama saya cuma itu. Belum beres ternyata, kedua Mbakyu itu memanggil atasannya, seorang pria dan seorang perempuan. Empat orang sekarang ada di hadapan saya, sibuk ngobrol sendiri yang saya ndak ngerti isinya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka mengatakan begini, "Kami punya sedikit masalah, sistem komputer kami tidak bisa menerima hanya satu nama, harus dua. Saya akan menghubungi bagian komputer".

Sekarang dua orang dari bagian komputer turut serta. Ini sudah enam orang. Salah satunya berkata lagi "Maaf, mohon bersabar sebentar" dan lantas menerangkan masalah komputer dan nama yang cuma satu kata itu. Semua lantas menghilang. Kopi buat saya ditambah lagi, tapi kueh-nya ndak.

Ini sudah hampir dua jam saya menunggu, sambil nonton TV yang saya ndak ngerti dan kopi saya sudah berganti jadi teh ... sudah dua cangkir teh, kueh-nya masih ndak ditambahi. Akhirnya Mbakyu tadi datang tergopoh-gopoh sambil tersenyum. Minta maaf lagi karena membuat saya lama menunggu, dan dia bilang "Kami sudah bisa memasukkan nama anda ke dalam sistem kami, tetapi mohon bersabar karena account bank anda baru bisa aktif kira-kira satu minggu lagi. Ini kasus yang tidak biasa".

Haiyaaaaaaah ... di mana coba di Indonesia acara buka rekening menghabiskan waktu seminggu, dilayani oleh enam orang, menghabiskan dua cangkir kopi, dua cangkir teh dan tiga potong kueh? Ah, ya sudahlah toh sekarang saya sudah punya rekening di bank. Apa saya harus ganti nama ya, biar ndak bikin bingung petugas bank, imigrasi dan petugas-petugas lainnya? Ganti jadi apa ya? ..... Mbilung el Diablo Macho?


Posted at 02:10 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Saturday, May 27, 2006
Duka Cita Gempa





Turut berduka atas musibah
gempa bumi
di
Yogyakarta dan Jawa Tengah




Posted at 10:55 pm by Sir Mbilung
 

Balapan




Pagi ini saya dibangunkan oleh jeritan hp, ada sms. "Mas, kok ndak nongol toh? birdrace iki ning Wonorejo". Diamput, pagi-pagi kok sudah bikin hati panas. Ya ... mestinya hari ini teman-teman itu sedang sibuk nginceng manuk, ngintip burung, di Wonorejo, Surabaya sana. Lagi ada birdrace (singkatan dari kata birdwatching race), balapan nginceng manuk itu tadi, di tempat birding favorit saya.

Balapan yang agak-agak semprul ini aturan dasarnya sederhana sebetulnya. Pesertanya adalah kelompok, dari mulai 3 sampai 5 orang. Lantas arena pertandingan ditentukan, bisa cuma sak kelurahan bisa juga sak negara. Waktunya, ada yang cuma 8 jam ada juga yang 24 jam, tergantung dari panitianya mau bikin yang berapa lama. Lha, peserta itu lantas mencari (melihat dan mencatat) sebanyak mungkin jenis burung yang ada di dalam arena pertandingan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan itu tadi. Burung yang boleh masuk catatan hanya yang burung liar, burung peliharaan ndak masuk itungan. Akhirnya kelompok yang paling banyak lihat jenis burungnya jadi pemenang. Begitu saja.

Mau urik, curang, memasukan jenis burung yang ndak dilihat ke dalam daftar? Oooo ... ya mengundang masalah ini, itu yang curang begini langsung tamat karirnya sebagai pembalap. Bisa-bisa ndak balapan lagi dia seumur-umur. Lantas, hadiahnya apa kalau menang? Bisa macam-macam, kalau panitianya kaya raya bisa dapat teropong, kalau ndak terlalu kaya bisa dapat buku. Sering malah hadiah buat pemenangnya hanya tepuk tangan dan usapan di kepala dari yang kalah saja.


Buat saya sendiri sebenarnya dalam birdrace itu yang paling saya nikmati adalah kumpul-kumpulnya. Menang atau kalah jadi ndak penting, lha wong hadiah pemenangnya juga biasanya lantas digilir kok. Itu buku atau teropong hadiah pindah dari tangan satu ke yang lain, bisa-bisa pemilik aslinya malah ndak kebagian giliran make. Dunianya kaum pengintai burung memang dunia yang rada ndak lumrah kok. Tengok saja website mereka itu di sini, isinya ya cuma burung semua.

Ndobos soal birdwatching begini apa sampeyan ada yang tahu kalau Ian Fleming itu birdwatcher? dan James Bond yang asli itu adalah seorang ornithologist?

Ya sudah, buat yang sedang balapan selamat balapan saja, jangan lupa mandi sesudah balapan, prengus !!
Oh iya, Kang Mas Pecas Ndahe, sampeyan apa ikutan balapan di Wonorejo itu?

foto-foto : Kutilang, Anak Burung dan SBI.


Posted at 11:48 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, May 26, 2006
He Bangs !

Acara cari-cari bakat menyanyi American Idol sudah selesai. Idolnya juga sudah ketemu. Saya sebenarnya ndak ngikuti acara itu dan ndak punya keterikatan juga dengannya. Tetapi, ada satu hal yang selalu terlintas pertama di benak ini kalau mendengar kata American Idol ... William Hung.

William Hung itu mahasiswa teknik di University of California di Berkeley. Dalam audisi American Idol dia "membawakan" lagu She Bangs-nya Ricky Martin, penyanyi pujaannya. Ndak bisa nyanyi dan ndak bisa joget, begitu penilaian salah satu juri. Tetapi apa katanya setelah dia jadi bahan tertawaan dan olok-olok para juri, dia bilang "I already gave my best and I have no regret at all". William Hung tidak lolos audisi apalagi menang, tapi dia jadi "pemenang" di luar pentas acara itu.

Lepas dari audisi yang singkat dan bisa bikin banyak orang-orang "gagal" lainnya langsung menghilang, bintang Hung malah bersinar jreng. Undangan buat nanggap rame berdatangan tidak hanya dari dalam Amerika tapi juga dari luar. Tidak berhenti sampai di situ saja, dia dapat kontrak buat bikin album (Inspiration) dengan lagu andalan .... apalagi kalau bukan She Bangs. Website-nya pun ramai pengunjung, jutaan. Talk show di TV, komplit. Tak lupa pula dia ikut menggalang dana untuk disumbangkan kepada korban tsunami.

Apa yang membuatnya sukses? Apakah dia hanya dibuat untuk sekedar bahan lucu-lucuan? atau karena sikapnya yang memandang sesuatu secara positif? Apapun itu yang jelas dia sudah jadi superstar, William Hung sudah jadi Hong Kong Ricky Martin, dan buat saya dia sudah melaksanakan tugasnya, menghibur orang.

Kalau lantas saya boleh menyanyi buat William Hung, maka saya akan bernyanyi

he bangs, he bangs ...
he moves, he moves ...

C'mmon William, shake your bon-bon.


Posted at 02:10 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Thursday, May 25, 2006
Dor-doran Khilaf?

Timor Leste rusuh (lagi). Sekarang yang berkelahi tentara lawan bekas tentara dan yang bukan termasuk keduanya pada ngumpet atau melarikan diri sejauh mungkin dari medan bedil-bedilan. "Mas, kemaren ada tembak-tembakan lagi di Tasitolu", begitu email dari teman di Timor Leste. Kenapa tanah yang bagus itu selalu diganggu oleh rusuh dan tanahnya seolah-olah haus darah.

Di tengah keprihatinan itu, saya masih sempat senyum-senyum ... asem tapi senyumnya, karena membaca berita di KCM. Judul beritanya "AS Perintahkan Keluarga Diplomat Tinggalkan Timor Leste". Berita yang menyangkut Amerika dan Timor Leste, tetapi berita itu masuk dalam list index berita Nasional. Ah, mungkin yang mengindex berita khilaf, atau lupa kalau AS dan Timor Leste itu bukan bagian dari Indonesia.

Khilaf dan lupa itu manusiawi kok. Mungkin yang sekarang sedang sibuk dor-doran itu juga sedang khilaf. Seperti juga yang naik BMW X5 yang kata kabar burung bikin ngeri itu.


Posted at 12:36 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Wednesday, May 24, 2006
Suramat Datang Kumbari

Waktu pulangnya mundur saja, dari pada kamu naik pesawat itu. Begitu nasehat teman saya yang baik hati begitu tahu saya dapat tiket Northwest, perusahaan penerbangan dari negara nyang ntu tuh, untuk kembali ke Tokyo dari Manila. Mundur ndak bisa, ada acara yang saya tidak bisa mangkir, lagipula hanya Northwest yang masih ada tempat. Aaaah, teman itu mungkin sedang sial saja waktu dia pakai perusahaan penerbangan itu.

Tetapi, saya ikuti juga nasehatnya, datang 3 jam sebelum waktu penerbangan. Pemeriksaan pertama, barang-barang masuk mesin x-ray, badan yang sudah bebas logam melenggang lewat metal detektor. Lewat. Begitu tiba di meja check-in antrean sudah panjang. Oooo ternyata itu antrian pemeriksaan (lagi). Walah, itu orang-orang Philippina bawaannya wuih wuih besarnya dan banyaknya. Bikin antrian tersendat saja. Itu mbungkus kerbo apa ya? Atau becak mesin? Ndak tau saya. Lho, sekarang pemriksaannya pake wawancara. Wawancara soal isi tas, lantas lewat x-ray lagi dan lewat metal detektor lagi. Kali ini tas yang tidak akan masuk bagasi dibongkar. Acara apa ini apa itu selesai, lewat lagi.

Lho, tempat duduk saya kok di tengah? Padahal waktu pesen tiket sempet ditanya, dan saya sudah minta duduk di gang, jangan di jendela kalau bisa apalagi di tengah. Percumah ngotot, petugasnya lebih galak. Ya sudah, yang waras ngalah saja, lagipula toh penerbangannya ndak sampai 4 jam.

Pemeriksaan imigrasi lancar, dan saya memutuskan untuk langsung saja ke ruang tunggu keberangkatan. Lha??? pemeriksaan lagi. Kali ini sepatu dan ikat pinggang harus dicopot, masuk mesin x-ray, dan saya harus mbrobos metal detektor lagi. Metal detektor ndak nguing-nguing tanda saya bebas logam, akan tetapi ... lho kok masih harus pake acara digrayangi segala? periksa badan pake tangan gitu? Lho kan tas dibongkar lagi, apa ini apa itu lagi.

Haih haih, bandara ini kok ndak ada yang bisa dilihat toh ya. Sudahlah, ke ruang tunggu saja. Diamput ... pemeriksaan lagi dan kali ini benar-benar edan. Selain sepatu dan ikat pinggang dibuka lagi, kali ini acara bongkar tas ditambahi wawancara "ora mutu blas". Lha saya itu cuma punya nama yang terdiri dari satu kata. Itu yang wawancara kok ndesit pol ya, nggak percaya kalo nama saya ya cuma itu. Passport, KTP Bogor, SIM, KTP di Jepang, keluar semua untuk meyakinkan dia bahwa nama saya ya cuma itu. Dia bilang, di mana-mana orang itu punya nama keluarga. Ooooalah ... bodo kok ngotot!!! Saya ndobos sekalian, di Indonesia orang yang namanya cuma satu kata itu lebih banyak jumlahnya daripada seluruh penduduk Philippina !!! (ini betul apa ndak ya?).

Selesai urusan nama, sekarang urusan barang di tas saya itu. Coba itu kamera diaktifkan, coba motret, sekarang fotonya dihapus. Coba itu hp diaktifkan, coba telepon. Coba itu laptop dinyalakan .... hmmmm .... ok sekarang bisa dimatikan. Dompet isinya apa? Kemana saja waktu di Philippina? Baik, sekarang lewat metal detektor lagi, digrayangi lagi. Ini orang Philippina kok hobinya ndemek to ya??!!

Akhirnya sampai juga di dalam kabin pesawat. Hampir semua tempat barang penuh, ada yang bawa kembang segala ... ooo mungkin buat cemilan selama diperjalanan barangkali. Duduk manislah saya di kursi tengah itu. Jam keberangkatan sudah lewat, pesawat masih belum bergerak. Ternyata ada penumpang yang "hilang", bagasinya harus dikeluarkan dulu. Ini orang mau pergi kok nggak niat sih. Waktu keberangkatan sudah lewat setengah jam, ada pengumuman kalau pesawat belum bisa berangkat karena ada pintu di pesawat yang ndak bisa dikunci!!!! Masalah teknis katanya, sekarang sedang diperbaiki. Mungkin tukang kuncinya masih tidur, karena akhirnya masalah baru selesai satu jam kemudian.

Pesawat akhirnya berangkat juga. Acara bagi-bagi makanan dimulai. Saya itu karung bergigi, apa saja disantap, tapi maaf, kali ini itu makanan ndak bisa masuk blas. Mungkin tukang masaknya lagi ngantuk, karbol dikira bumbu.

Begitu tiba di Narita, ada kehebohan baru. Kali ini yang heboh para penumpang yang ketinggalan penerbangan sambungannya karena pesawat yang saya tumpangi telat datangnya. Biasalah, acara adu otot leher. Itu orang-orang lehernya kok pada varises semua ya. Teman saya itu benar, iya deh ... lain kali saya tidak akan naik Northwest lagi. Telat, pemeriksaannya bikin jengkel. Takut apa ya mereka? Mungkin mereka belum pernah tahu peribahasa Indonesia, berani karena benar, takut karena salah. Salah apa ya mereka?

Tiba di bagian pemeriksaan imigrasi, jalur buat pemegang pasport Jepang atau para pemegang ijin menetap kosong. Setelah selesai acara cap-capan pasport yang cepat itu, pak petugas lantas tersenyum sambil berkata "Suramat datang kumbari", saya ndolongop, "saya duru purunah ke Ubud". Saya membalas senyumnya.


Posted at 10:10 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Tuesday, May 23, 2006
Goyang Bollywood

Nonton film India di bioskop itu berarti mengaduk-aduk perasaan. Dalam sebuah film India itu yang namanya lucu, sedih, gembira dan tegang dicampur jadi satu. Harga karcisnyapun murah dan masa putarnya lama. Lha gimana ndak lama, lha wong ceritanya komplit, dari mulai lahir sampai mati kok. Tapi itu dulu lho ya, ndak tahu sekarang gimana. Dulu itu jamannya saya masih kinyis-kinyis dan rada sering juga nonton film India di Bandung, di bioskop Vanda yang sekarang sudah hilang. Ada potongan harga kalau beli karcisnya pakai kartu pelajar atau kartu mahasiswa.

Industri film di India, terutama di Bollywood, adalah industri raksasa yang bahkan Hollywood pun tak mampu melawan produktivitasnya. Sebuah industri yang menjadikan mimpi sebagai jualan utamanya, dan tampaknya sampai sekarangpun India masih sangat membutuhkan mimpi itu. Bangkit sebagai raksasa ekonomi baru di Asia bersama dengan Cina, India menghadapi persoalan yang sangat besar. Kebangkitan ekonomi tidak dibarengi dengan pemerataan kemakmuran. Jurang yang memisahkan si "bisa beli" dan si "bisa ngiler" begitu lebar, demikian laporan BBC tadi malam. Mimpi yang disajikan oleh film, bisa menjadi obat penenang.

Sebuah kejadian kecil bisa mungkin menggambarkan betapa besarnya jurang itu. Saya sedang berada di Coimbatore, sebuah kota kecil di India bagian Selatan. Saya sedang berdiri di pinggir jalan berusaha menyetop becak mesin, dan tak jauh dari tempat saya berdiri itu ada gunungan sampah yang baunya bisa membuat orang yang punya bulu hidung berlebih merasa sangat bersyukur. Di gunungan sampah itu ada tubuh kurus yang tergeletak tidak bergerak. Mati? mungkin saja. Belum lagi jauh becak bermesin itu melaju (ngebut gila-gilaan), becak tersebut di(ter)serempet mobil sedan Mercedes keluaran terbaru. Ini terjadi disebuah kota kecil, lha bagaimana di Delhi atau Mumbai? Seberapa besar jurangnya?

Saya lantas kok bertanya-tanya, apakah ada hubungan antara industri jualan mimpi dengan lebarnya jurang si "bisa beli" dan si "bisa ngiler" tadi? Seberapa besar peran goyang Bollywood untuk meredam ledakan sosial yang mungkin terjadi? Kalau ada hubungannya, apakah hal itu juga berlaku di Indonesia?

Coba sampeyan pikir-pikir, saya mau joget dulu.


Posted at 09:23 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Next Page