Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, October 01, 2006
Ini Buat Apa?

Pada waktu saya baru datang di Tokyo, saya dibanjiri dengan barang lungsuran, barang bekas pakai. Tawaran menerima barang bekas begini memang menguntungkan pemberi dan yang diberi. Saya tak harus belanja perlengkapan ini itu, sedangkan pemberi jadi punya kesempatan untuk mengosongkan gudangnya dari barang-barang yang sudah tak dipakainya. Saat ini boleh dibilang hampir semua barang di rumah saya adalah barang bekas pakai itu, dari mulai kulkas hingga perlengkapan makan, bahkan video player yang belum pernah saya pakai karena tidak ada yang melungsuri saya dengan tv.

Barang-barang bekas itu saya bagi ke dalam 3 golongan: 1. barang yang saya tahu untuk apa dan saya tahu bagaimana menggunakannya; 2. barang yang saya tahu untuk apa tetapi saya tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya (manualnya ditulis dengan tulisan kanji); 3. barang yang saya tidak tahu apa gunanya apalagi cara memakainya. Barang dari kelompok 3 itu jadi masalah, tidak hanya karena menumpuk di tempat penyimpanan tetapi gara-gara barang itu saya jadi bulan-bulanan dimarahi tamu agung yang datang berkunjung.

Alkisah sang tamu agung memerlukan alat untuk membersihkan sweaternya dari dari debu dan dia lantas menanyakan apakah saya punya alat untuk membersihkannya (dia menyebut nama alat yang saya tidak ingat namanya). Saya menyarankannya untuk menggunakan mesin penyedot debu saja. Mengomel dahsyatlah dirinya, sambil menyerahkan sweaternya itu untuk saya bersihkan dengan alat yang menurutnya tak tepat guna itu. Sedang asik dengan acara sedot menyedot, sang tamu agung tiba-tiba datang dengan wajah seram, "ini alat yang tadi aku tanya!!!!" ujarnya sambil mengacungkan alat seperti seperti roller untuk ngecat tembok yang ujungnya berlapis kertas lengket.



"Ini alat untuk membersihkan debu ... wekwekwekwek ...  juga dipakai buat membersihkan sofa ... wekwekwek ... dasar!!!", .... lha ya maaf, saya ndak tahu kalau alat itu untuk membersihkan debu di baju, celana, sweater atau sofa. Saya kira itu buat membersihkan lantai. Nggiling lantai sak rumah dengan alat itu cuma bikin sakit pinggang.


Posted at 01:33 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, September 30, 2006
Besi Ditumpuk



batangan baja, dilas, disekrup, ditumpuk
inilah menara baja tertinggi di dunia
lebih tinggi dari menara yang menginspirasinya
menara Tokyo 333 meter, menara Eiffel 320 meter
potongan besi yang ditumpuk-tumpuk ini kalo malam kok ya cantik juga

terima kasih Mas Pepet (Rafael) buat fotonya, kapan saya dimasakan ayam goreng lagi?

Posted at 03:39 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Friday, September 29, 2006
Obat Stress

Tamu agung sudah datang berikut dengan oleh-olehnya yang tampaknya pas buat saya yang berkeja dalam tekanan tinggi (cieeee ....).  Selembar kaleng yang diwarnai merah, putih dan hitam untuk terapi mana kala tekanan mendera meraja lela penuh angkara tiada dua.



Petunjuk pemakaian :

1 - Place on a hard surface
2 - Bang head against "BANG HEAD HERE"
3 - Repeat until you are unconscious or in so much pain that you forget about your stress

Sampeyan mau coba, saya ndak narik bayaran apa-apa lho kalau sampeyan hendak numpang berobat di tempat saya, namanya juga menolong teman.


Posted at 06:36 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Thursday, September 28, 2006
Beres-Beres

Kemarin itu saya ndak ke kantor, ada faktor M (males) yang berperan di situ, tetapi sebetulnya ada hal yang harus saya kerjakan di rumah dan bakal menyita banyak waktu. Beres-beres rumah ... lha sebagai mana layaknya bujangan geografis rumah saya itu bagian dalamnya hancur lebur. Sulit digambarkan dengan kata-kata dan mestinya kalau ada maling masuk ke rumah saya dia bakal mengira rumah ini sudah lama tak dihuni. Atau dia malah jadi malas nyolong karena harus mencari barang yang layak jual diantara timbunan barang layak buang. Lho ada apa tho kok beres-beres?

Di Jepang ndak ada burung prenjak yang katanya rame siul-siul kalau ada tamu mau datang. Kali ini saya akan disambangi (lagi) oleh tamu agung. Sesudah Mas Jumadi datang beberapa bulan lalu, sekarang giliran tamu agung lain yang datang, mudah-mudahan datangnya dengan oleh-oleh yang layak santap. Mau transit dua hari (hingga hari Minggu) katanya. Girang? tentu saja, paling tidak tamu yang satu ini bisa masak! Soal enak atau tidak itu urusan belakangan.

Mencuci ... ooo tidak banyak yang harus dicuci ternyata, ya sudah saya tambahi sprei, sarung bantal dan selimut sekalian biar kelihatan bersih semua sekalian . Bersih-bersih lantai, masih belum banyak debunya, icik-icik sebentar beres sudah. Beres-beres barang, lha kok ndak banyak juga? Sampah-sampah dapur? ndak ada sampahnya wong saya jarang sekali ke dapur. Kamar mandi? biarpun saya rajin mandi tetapi bagian ini selalu kinclong benderang. Bekas tempat minuman dari karton dan botol plastik? lhaaaaa .... ini agak banyak karena jadwal angkut-mengangkut sampah beginian hanya dua minggu sekali dilakukan di tempat saya tinggal. Semua rampung dalam setengah hari, itupun mulainya dari dekat tengah hari dan diselingi dengan mengerjakan beberapa pekerjaan kantor dan ha ha hi hi dengan teman-teman di dunia maya.

Hikmahnya bersih-bersih tadi? selain bagian dalam rumah jadi kelihatan agak terang dan lapang, acara tadi selesai dekat-dekat dengan waktu berbuka puasa. Perut yang biasanya teriak-teriak karena jadwal pengisiannya diubah secara mendadak, tidak terdengar teriakannya. Kerongkongan yang memelas minta diguyur air juga tenang-tenang saja kali ini. Hanya, pinggang saya kok protes ya? mungkin minta disetrum lagi.

Hei tamu agung, silahkan datang.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Wednesday, September 27, 2006
Pedangnya Jepang

Mari kita nJepang lagi, kali ini sekilas soal pedang, penggunanya dan peruntukannya, siapa tahu ada yang berminat main tusuk dan gorok ala Jepang, walaupun saya tidak bermaksud menganjurkan permainan penuh darah begini, tuberok ... bukan turun berok tetapi tusuk, tebas dan gorok. "Permainan" yang pada suatu masa yang telah lama lewat di Jepang sini adalah soal kehormatan dan jalan seorang kesatria yang dilakukan oleh para lelaki dengan potongan rambut yang "aneh".

Banyak orang di Indonesia menyebut pedang panjang khas Jepang dengan nama Samurai. Padahal Samurai sendiri adalah nama untuk seseorang yang mengabdi sebagai tentara kepada seorang bangsawan, dan kata Samurai sendiri secara harafiah berarti melayani. Seorang Samurai biasanya menyandang paling tidak dua buah pedang, yang satu panjang dinamai Katana dan yang satu lebih pendek dinamai Wakizashi. Jika Katana bisa ditinggalkan atau dititipkan pada saat seorang Samurai datang ke rumah seseorang, Wakizashi terus menempel di pinggang, pantang dilepas. Waktu tidurpun Wakizashi ditaruh di bawah bantal sang Samurai. Sering juga seorang Samurai menyandang pedang lain (atau lebih tepatnya pisau) yang ukurannya lebih kecil dari Wakizashi, yang disebut Tanto.

Katana dirancang untuk menebas atau mengiris pada pertarungan jarak dekat, walaupun bisa juga dipakai buat menusuk. Penggunaan Katana haruslah orang yang betul-betul jagoan pedang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Salah-salah pakai, malah bilah pedangnya yang rusak. Jika Katana sedang tidak tersedia, perannya digantikan oleh Wakizashi dan di tangan seorang jagoan pedang bekas tebasan Wakizashi bisa tak terlihat. Kadang Wakizashi digunakan dalam ritual Seppuku, walaupun dalam ritual tersebut Tanto adalah alat yang pas untuk mengoyak perut. Tanto sebenarnya dirancang untuk menusuk dan mengiris. Ini dia senjata kesukaannya para ninja, kecil, enteng dan pas buat tugas yang pantang ada ribut-ributnya. Saat ini Tanto adalah senjata favorit para Yakuza, para penjahat Jepang yang terorganisir.

Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya. Lha...sulit ini, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.

Sepuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rada njelimet (Jepang ... apa sih yang ndak njelimet?). Yang mau bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, lha baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk manis dengan Tanto diletakkan di depannya. Sabaaarrr ... nulis puisi dulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas dikit biar ususnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.

Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai mbeling yang nyolongan, tukang korupsi atau jadi penjahat kacangan lainnya .... ya tak ada pendamping, dibiarkan mati saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.

Lha ndobos saya ini asalnya dari cerita seorang kawan Jepang yang belum punya pengalaman sama sekali dalam melakukan Seppuku, jadi kalau ada salah-salah atau kurang-kurang ... ya dimaklumi saja, namanya juga dia cuma jago teori ndak pernah praktek sama sekali. Kalau saya? wong saya itu tukang ndobos, kok ditanya soal Seppuku. Soal ini saya kan taunya ya cuma seppuku dua pukku saja.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 07:19 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Tuesday, September 26, 2006
Buka Puasa

Waktu kecil dulu, acara di televisi yang paling dinanti-nanti di Indonesia pada bulan puasa adalah Adzan Maghrib. Teh anget ngepul-ngepul, panganan entah itu kolak, manisan buah atau kelapa muda, tergolek rapih di hadapan menemani upacara menunggu acara favorit itu. Begitu acara yang ditunggu-tunggu itu mulai, doa berbuka puasa dilantunkan dengan kecepatan tinggi, dan kesibukan dahsyat dimulai. Adzan belum selesai, gelas teh anget sudah kosong dan panganan tinggal separo. Acara berbuka puasa memang terasa sangat istimewa, selalu ada panganan kecil, entah itu jajan pasar atau yang seperti disebut tadi, yang pasti semua manis. Kalau tidak dibentak bapak disuruh sholat maghrib, mana bakal meja penuh hidangan itu ditinggalkan. "Mbok sholat dulu, makanan itu ndak bakalan lari", begitu ibu saya selalu berkata ... mentang-mentang sudah buka, boleh marah-marah lagi ya bu?

Berpuasa di negri yang jauh, sendiri, jauh dari keluarga, dan di tivinya ndak ada acara Adzan Maghrib, sudah beberapa kali saya lakoni dan kali ini di Jepang. Karena saya ndak bisa (masih belum bisa tepatnya) masak, untuk berbuka puasa saya membeli makanan jadi. Kue lapis ndak ada, nagasari, klepon, onde-onde, cendol, kolak kok ya belum nemu ada yang jual di sekitar rumah saya. Bukan berarti tidak ada sebenarnya, bisa saja diadakan seperti yang dilakukan Mbakyu ini dan lantas dipamerkan ke saya yang cuma bisa misuh-misuh. Hati-hati Mbakyu, suatu kali saya bakal nekat nunggang Sinkansen buat ke rumah panjenengan mengambil jatah kolak saya lho.

Tadi saya berbuka dengan teh anget dan permen karet (lha wong masih di kantor je). Dalam perjalanan pulang lantas menyempatkan diri mampir ke sebuah supermarket di dekat rumah. Setelah menimbang-nimbang maka pilihan saya jatuh pada moci berwarna hijau yang terbuat dari beras ketan dan berisi kacang merah manis. Kok dari tadi saya makan yang lengket-lengket begini ya? lha gigi palsu bisa terangkut dan ikutan tertelan kalo gini caranya. Lagian ini moci tadi kenapa ngambil yang hijau? bukan yang putih ya? Rasanya kedaun-daunan begini, tak apaaaaa .... akulah si ulat sutra.

Ya begitulah, tak ada yang beda dengan puasanya, hanya ada tradisi-tradisi lama yang ngangeni saja yang lantas tak bisa dilakoni di sini. Sampeyan buka pake apa? Mbok saya dikirimi.


Posted at 02:27 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Monday, September 25, 2006
KOPAS

Istilah Copy-Paste saya yakin sudah diakrabi oleh para pengguna piranti lunak komputer terutama  piranti lunak pengolah kata (word processor) dan pengolah gambar. Melakukan copy-paste atau salin-tempel (bedakan dengan salam tempel) jelas mempercepat proses penyalinan sebagian isi dokumen ke bagian lain dalam dokumen tersebut atau ke dokumen lain. Pilih bagian yang mau dicopy, lakukan perintah copy, pergi ke tempat di mana bagian itu mau diletakan, paste ... mak crut ... selesai dalam hitungan detik. Pada piranti lunak pengolah kata populer, proses itu bisa dipersingkat dengan menggunakan short-cut ctrl+c dan ctrl+v, atau dalam istilah seorang teman "crtl cv". Kok istilah asing ya? ada istilah yang lebih mudah untuk dimengerti? Ada ... Mbak Yati menyebutnya sebagai KOPAS (copy paste --> kopi paste --> KOPAS).

KOPAS untuk istilah menyalin tadi itu buat saya pas, enak didengar. Terima kasih Mbak. Asal jangan mleset jadi :

jeruknya di KOPAS dooong
beritanya ada di KOPAS kok
panas ya, kok ndak ada KOPAS?
lukanya dibersihkan dengan KOPAS
waaah subur, pake pupuk KOPAS ya?
batu cincinnya KOPAS euy
seorang KOPAS tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta

Sampeyan mau nambahi?

Untuk Lik Zamronie, kapankah gerangan hikayat Copy and Paste-nya akan diceritakan kepada khalayak ramai?

Gambar diambil dari sini.

Posted at 02:07 pm by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Sunday, September 24, 2006
Munggahan

Ada sebuah "ritual" yang dilakukan oleh orang Sunda dan Betawi sebelum puasa tiba yang terkadang bisa semeriah hari raya. Ini acara kumpul-kumpul keluarga yang kadang diikuti dengan acara berziarah ke makam leluhur, bertetirah ke suatu tempat lengkap dengan acara makan-makan. Acara yang lantas dikenal dengan nama munggahan. Secara darah saya bukan orang Sunda, pemahaman saya akan acara ini sangat terbatas. Tetapi saya besar di Bandung dan saya sering diajak berpartisipasi dalam acara itu bersama keluarga kawan.

Sebuah email dari seorang kawan menyadarkan saya betapa sudah lamanya saya tidak ikut munggahan ... "kamana yeuh munggahan? uwih teu? ditaroskeun mamah kang". Tadinya email itu mau saya jawab dengan kata-kata "nggak ke mana-mana", tetapi sesuatu hal menyebabkan saya mengganti kata-kata itu dengan kata "Shinjuku".

Ya, kemarin itu saya "munggahan" ke Shinjuku walaupun minus acara nyekar yang diganti dengan acara mengunjungi tempat bermain anak-anak. Cerita acara tersebut sudah ditulis di blog tetangga sebelah, tak perlulah diulang. Saya hanya ingin berbagi beberapa kesan pendek terpotong-potong dari munggahan saya kemarin itu yang coba saya gabung jadi satu.

Waaa ... ni anak lucu banget, keluar lift, berjalan lurus mencari ibunya, menatap mahluk asing di samping ibunya, lantas langsung berbelok menatap peta Jepang ... "ada apa ya di Jepang". Anak lucu ini bisa dengan cepat mengganti bahasa percakapan dari Bahasa Indonesia lantas ganti ke Bahasa Jepang, sebuah kemampuan yang bisa bikin iri orang dewasa. Sebuah kemampuan belajar khas anak-anak yang sayangnya  bisa hilang kalau tak sering dipakai. Saya mengalami itu, dan kadang menyesal juga kenapa tak sering saya pakai itu keahlian bercakap-cakap dalam Bahasa Palembang, Banjar dan Iban. Paling banter ngomong Palembang, yang sudah terpatah-patah dan bercampur dengan Bahasa Indonesia kalau ngobrol dengan penjual mpek-mpek di dekat terminal Bogor.

Sebentar lagi anak kecil yang lucu itu akan bergaul dengan teman-teman barunya yang mungkin tak seorangpun bisa berbicara dalam Bahasa Jepang. Kartun Jepang di televisipun sudah disulih suara. Papap Reza bilang, ada sih sekolah yang mengajarkan hal itu di Indonesia tapi biayanya mahal. Pendidikan memang tidak murah ya di Indonesia, walaupun ada yang mencoba untuk melakukan hal ini tetapi pada akhirnya sekolah itu sangat bergantung dengan kedermawanan para penyumbang. Dalam jangka panjang, ada ketidakjelasan kelangsungan keberlanjutannya (haiyaaah susah banget kata-katanya).

Banyak orang ingin bersekolah setinggi mungkin, pergi ke negri yang jauh meninggalkan keluarga juga dijabanin. Selesai sekolah, ingin sekali kembali ke negri asal berkumpul kembali dengan keluarga dan mengabdikan apa-apa yang telah dipelajarinya untuk negrinya.  Sedap sekali kalau semuanya  lantas bisa semudah itu. Ada banyak cerita bagaimana orang-orang dari Indonesia terpaksa meninggalkan negrinya karena dalam beberapa bidang amat sangat tidak mudah baginya untuk melakukan apa-apa yang diketahuinya untuk kebaikan negri sendiri. Mungkin Mbak Emil bisa cerita banyak soal ini.

Ada banyak orang seperti saya yang dipaksa harus loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain walaupun saya bukan buronan kriminal atau politik. Hidup sebagai "manusia koper" dengan enteng bisa saya jalani .... dulunya. Bepergian ke sana ke mari, melihat berbagai tempat baru, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda, jiwa eksplorasi yang terpuaskan dan yang paling penting .... dibayari pula. Ngerjain hobi dibayar kasarnya. Tapi namanya manusia, ya ndak ada puasnya, sekarang saya lantas ingin pulang, mengejar ketertinggalan melihat anak-anak saya tumbuh. Jangan sampai kalau saya pulang nanti anak-anak memanggil saya om, paman, pakde, paklik, uwak, tulang dan sebangsanya! Bapakmu iki le ... bapakmu.

Soal anak, pendidikan, kerja, jalan-jalan, teman ... yen tak pikir-pikir, kok saya beruntung sekali ya? Begitulah, hasil melamun sendirian di kereta api. Sepulang munggahan itu saya lantas bisa mengucap terima kasih Gusti. Lha sekarang ... ada yang mau ngajak saya ngabuburit?


Posted at 08:13 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Saturday, September 23, 2006
Test

Berita paling anyar soal negara tetangga yang terpampang di website berita BBC ini mengatakan  begini :

"Australia is planning a radical strengthening of immigration laws that would require prospective citizens to take tough English language tests as well as a quiz on history and culture."

Kabarnya, rencana itu banyak menuai protes dari beberapa pihak. Protesnya disampaikan dalam Bahasa Inggris, agar pihak yang diprotes mengerti tentunya. Buat saya? aaah ya biar saja, itukan negara-negara mereka, mau bikin apa di dalam negaranya sendiri asal tidak mengganggu negara lain terserah merekalah. Berita itu mengingatkan saya akan seorang teman yang berkewarganegaraan Australia yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Darwin. Pernah pada suatu kali dia saya sodori test Bahasa Inggris IELTS (tanpa essay), nilai rata-rata akhir yang dicapainya 4,5. kepada dia saya lantas berkata, "kawan ... dengan hasil begini, kalau kamu orang Indonesia, kamu ndak akan diterima untuk bersekolah di Australia".

Sekedar ingin tahu saja, berapa banyak sisa penduduk Australia jika semua warga negara Australia diharuskan mengikuti test yang diusulkan oleh pemerintahnya itu untuk bisa tetap menjadi warga negara Australia? Lantas apa hasilnya, jika ujian bahasa, sejarah dan kebudayaan Indonesia, dilakukan di Indonesia untuk orang Indonesia agar bisa diakui sebagai warga negara Indonesia? Waaah wah, saya bisa-bisa daripada dikeluarken.


Posted at 08:53 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Shinjuku Akhir Musim Panas

Shinjuku, salah satu dari 23 special wards yang bersama-sama dengan Tama membentuk Metropolitan Tokyo. Shinjuku bisa dibilang salah satu tempat tersibuk di seantero Jepang. Shinjuku juga tempat stasiun kereta api paling sibuk se-dunia. Gedung-gedung dengan banyak lantai menjulang-julang nyundul awan (haiyah ngarang!), berhimpitan dan membuat jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung itu seperti terowongan angin yang tak bersahabat  bagi perempuan penggemar rok berbahan halus dan ringan atau pengguna payung.

Gedung-gedung pertokoan, restoran, tempat-tempat minum, kantor pemerintah, sekolah dan hotel saling berdesakan seperti halnya orang-orang penghuni Shinjuku. Tak kurang dari 16 ribu orang berjejalan per km perseginya di Shinjuku, itu baru penghuni tetap. Para pekerja yang tinggal di luar ward Shinjuku menambah jejalan itu di hari-hari kerja. Jalur-jalur jalan raya dan kereta api nyaris tak pernah sepi di Shinjuku.

Di tengah hiruk pikuk seperti itu Shinjuku masih menyisakan keramahan alami dengan taman-tamannya. Dua taman untuk umum yang besar, Shinjuku Gyoen dan Shinjuku Central, yang ditata apik menawarkan kesejukan di tengah musim panas yang gerahnya ngalah-ngalahin Jakarta. Maka sesekali boleh juga saya melarikan diri dari kantor untuk rebah-rebah di bawah pohon sambil nonton tingkah burung-burung. Sebuah kemewahan yang sebentar lagi bakal hilang, musim gugur sudah mulai nyenggol-nyenggol dan angin dingin kadang datang tiba-tiba. Burung-burung juga sudah mulai beterbangan ke selatan, bermigrasi, beberapa akan berdiam untuk sementara waktu di Indonesia. Hanya gagak, merpati dan burung gereja yang masih mudah untuk dilihat dan mereka tak akan pergi ke mana-mana. Selamat tinggal musim panas, sampai ketemu tahun depan.


Posted at 08:19 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Next Page