Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, October 05, 2006
Kamera ... Foto

Adalah sebuah keinginan lama manusia untuk mengabadikan dirinya sehidup mungkin dalam berbagai media dan lantas bermunculanlah patung, lukisan dan pahatan di mana-mana. Hanya saja yang namanya manusia ya belum puas juga, maunya yang seindah warna aslinya ... atau kalau aslinya tidak indah, ya mbuh piye carane dibuat indah. Lagi pula yang namanya matung dan melukis itu prosesnya lama, hasilnya? ... kadang harus membawa serombongan budak belian hanya untuk memamerkannya kepada para tetangga. Lagi pula, jika hendak bepergian ke tempat yang jauh dan ingin membawa obat kangen orang terkasih ... lha itu patung dan/atau lukisankan harus digotong. Repot.

Namanya manusia kalau sudah punya mau ya ... pokoknya harus ... hingga akhirnya Joseph Niepce seorang penemu berkebangsaan Prancis berhasil membuat foto untuk pertama kalinya. Kejadiannya sendiri ndak jelas apakah 1826 atau 1827, pokoknya awal musim panas gitulah. Niepce menyebut kegiatan mengambil gambar tersebut sebagai heliografi (tulisan matahari). Hanya saja alat untuk membuat fotonya sendiri dibuat oleh orang lain dan hanya berupa kotak kayu yang bisa digeser-geser untuk mendapatkan fokus yang pas. Sangat sederhana, dengan waktu pengambilan gambar yang sangat lama dan media "penyimpan" gambarnya juga harus diperlakukan seperti pusaka keramat, pokoknya hati-hati sekali.

Saat ini, lebih dari 170 tahun sejak Niepce bermain-main dengan tulisan matahari, kita memiliki berbagai macam alat untuk mengabadikan alam - manusia - kegiatannya, alat yang kita kenal dengan nama generik kamera. Pada dasarnya ada dua kamera, yang dipakai untuk mengambil gambar diam (kamera foto) dan gambar bergerak (kamera video). Bentuk dan ukurannya juga macam-macam, yang terbesar ada di Mauna Kea (Hawaii) nempel di teleskop untuk meneropong benda-benda langit. Kamera itu digunakan untuk memotret bulan-bulan yang mengorbit di planet-planet dalam tatasurya kita. Lha...yang terkecil mungkin sekarang ada di saku atau di genggaman sampeyan, jadi satu dengan telepon genggam. Kamera terkecil bisa dipakai untuk mengabadikan kegiatan sehari-hari atau juga kegiatan yang tidak sehari-hari dilakukan tetapi hasilnya bisa jadi omongan sehari-hari banyak orang, apalagi kalau lantas hasilnya itu bisa diunduh di internet.

Ada banyak orang yang lantas sangat menyukai kamera, perkara wajahnya disukai oleh kamera (fotogenik) atau tidak itu urusan lain. Para penyuka kamera tersebut tidak harus orang yang berprofesi sebagai penulis cahaya (fotografi ~ tulisan cahaya) ada juga yang hanya sekedar suka (baru bisa) lihat-lihat saja sambil mimpi suatu saat nanti bisa mendapatkannya seperti ibu yang satu ini. Ada juga yang tidak begitu suka kamera tetapi harus menenteng kamera dengan alasan macam-macam dan saya termasuk golongan ini (juga golongan yang wajahnya tak disukai kamera). Hanya saja kamera yang saya bawa-bawa itu ya kamera ketendang jadi, atau Paman Tyo menamainya kamera kuaci.

Apapun kameranya prinsip kerjanya sama saja. Sederhananya begini, cahaya alami maupun buatan yang membentur objek foto ditangkap oleh media penangkap cahaya pantulan tadi, lantas terabadikanlah. Lha sekarang tinggal ngatur berapa banyak cahaya yang boleh diterima oleh media tadi, terlalu banyak putiiiiih semua, terlalu gelap ... hitam saja. Pengaturannya biasanya dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama lewat diafragma yang mengatur besarnya bolongan cahaya lewat dan satu lagi kecepatan yang mengatur berapa lama bolongan itu bisa dilewati cahaya.

Foto sudah jadi bagian hidup manusia dari semua kalangan, dari yang punya puluhan kamera sampai yang hanya bisa memanggil tukang foto keliling. Kamera merekam banyak hal, perjalanan, kegembiraan, kesedihan, kekalahan, kemenangan, perang, senyum si kecil, tubuh tanpa busana, busana tanpa tubuh,  kejahatan, kebaikan, bulan, planet, bintang, nebula, macam-macam lah ..... oh iya, ini penting .... kolak pisang.

Foto sebagai hasil rekaman kamera lantas banyak dinikmati banyak orang, dipuji, dicaci, ditertawai dan bahkan diteliti. Dalam dunia yang saya geluti, untuk membuktikan penemuan penting, menyertakan foto merupakan syarat yang nyaris mutlak. Untuk foto-foto "ilmiah" hasilnya dikaji, dibahas dan lantas disimpulkan ini itunya. Untuk foto-foto "tidak ilmiah" tetapi memiliki "nilai berita" yang tinggi dan jadi pembicaraan khalayak, fotonya juga dikaji, dibahas, diperbincangkan dan tak lupa pakar dicari untuk dimintai hasil kajiannya ... kamera yang digunakan apa? Oooo dari hp ya, hp-nya merk apa, dsb dsb.

Foto ... citra dari peristiwa pada sebuah titik waktu, kadang menggetarkan. Maka, untuk menggetarkan saya lantas sering berkata "Mas ... Mbak, saya mbok di kodak (generic brand) sambil duduk di atas honda baru itu lho (generic brand lagi), saya kan sudah sikat gigi ... eh iya situ pepsodentnya apa? (haiyaaaah).

Foto oleh bunder.

Posted at 03:05 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Wednesday, October 04, 2006
Cruuiiiiiing

Ditujukan bagi para penggemar chatting pada waktu kerja, terutama yang menggunakan laptop dalam lingkungan kerja di mana akses internet tersedia secara nir-kabel (wireless).

Bayangkan situasi ini ... ruang temaram, di hadapan anda ada segerombolan orang-orang kelimis, berdasi, berwajah serius sedang dengan tertibnya, sebagian menyimak serius, sebagian lagi menyimak dengan ujung bibir sedikit tertarik ke atas, seringai berbahaya itu. Anda lantas mengkonsentrasikan perhatian anda melalui tatapan mata dan bahasa tubuh ke orang-orang seperti itu. Di belakang anda, semua hasil kerja keras selama beberapa malam terpampang megah, berwarna cerah. Hanya ada suara anda yang terdengar, sementara suara dari laptop masih senyap walaupun penguat suara sudah tersambung dan pengatur volume sudah dipasang pas kuatnya. Bagian musik belum lagi akan dimainkan .... itu nanti bagian akhir, sebagai penutup yang manis.

Inilah saat yang menentukan, anda bersiap-siap mengucapkan kalimat-kalimat pamungkas akhir yang penuh makna dan mematikan .... tiba-tiba pengeras suara itu mengeluarkan bunyi yang begitu anda kenal "Cruuiiiiiing". Balik kanan, menatap layar ...



Pa kabar Mas .......... ada salam dari Eny Arrow



Teriring ucapan maaf yang bersungguh-sungguh untuk Mas X, saya ndak tahu sampeyan lagi presentasi. Untuk yang tidak tahu siapa Eny Arrow ... Googling saja ya, ndak usah nanya di sini.


Posted at 04:57 pm by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Suara-Suara

Jika ada begitu banyak hal yang ingin ditulis, suara-suara di kepala melengking-lengking seperti suara peluit kereta api, tapi tak satu katapun yang akhirnya ditulis. Ada begitu banyak gambar berlalu-lalang di dalam kepala, warna-warni, lantas gambar-gambar itu saling bercakap-cakap. Ingin rasanya percakapan itu ditulis, tapi tak satu katapun yang akhirnya ditulis. Semuanya bergerak terlalu cepat.

Ada apa sekarang di kepala? Harmoko, Ali Moertopo, Unyil, Sisifus, Prometheus, industri birahi di Jepang, Yoyok ... ada salam dari Eny Arrow, komik stripnya pak dokter, lebaran, gowok, Dili, Ibis karau, Tosari, kolak pisang, fast food, wireless, SQL, database celaka itu, Cornis Santana ... ah yaaaa ... lamat-lamat ada suara Groban, Sting, Bocelli, bedug.

Lantas sang istri berkata "kenapa tak ada aku dalam kepalamu?". Memang tak ada sayangku *sambil membelai kepalanya* .... karena tempatmu bukan di dalam kepala *masih sambil membelai kepalanya*, tempatmu ada di hati (cieeeee ... suit suiiiiit, ctak ctak huhuuuy).

Apa namanya ini? Sindroma leher botol? atau schizophrenia?


Posted at 03:27 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Tuesday, October 03, 2006
F-word

Pagi di kereta api, seorang perempuan Jepang muda berdandanan "masa kini" dengan rambut diwarnai merah berangan, tangannya sibuk bermain tombol HP dan mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Dia mengenakan kaus berwarna hitam dengan tulisan putih di bagian dada ... "FUCK".

Sebuah kata dalam Bahasa Inggris yang menurut saya sangat menarik untuk jadi bahan ndobos kali ini. Bagaimana tidak menarik, dari semua kata dalam Bahasa Inggris yang diawali dengan huruf F, Fuck adalah satu-satunya kata yang diberi julukan the F word. Ajaibnya, hanya dari nada pengucapannya saja, kata tersebut bisa menggambarkan perasaan sakit, kaget, kenikmatan badaniah, kebencian dan cinta.

Katanya wikipedia Fuck berasal dari kata dalam Bahasa Jerman Ficken yang berarti "to strike". Dalam Bahasa Inggris Fuck ada dalam banyak kalimat dan sering malah tidak bermakna vulgar sama sekali. Coba lihat contoh ini, Jumadi's doing all the fucking work (adjective);  She talks too fucking much (bagian dari adverb); Catherine Zeta-Jones is fucking beautiful  atau alangkah baiknya jika menggunakan contoh diri sendiri, Sir Mbilung is fucking handsome  (adverb untuk mempertegas adjective); I do not give a fuck (noun). Beberapa contoh lain I don't understand this fucking subject; Who the fuck was that; What the fuck is going on here; Don' fuck with me buddy. Atau yang ekstrim di mana fuck bisa dirangkai menjadi sebuah kalimat, fuck the fucking fuckers.

Dengan begitu banyaknya aplikasi Fuck lha kok bisa ada yang marah dan tersinggung dengan kata Fuck. Sepertinya, dengan sifatnya yang lentur dan serbaguna, kata ini mestinya lebih sering dipakai, tapi nyatanya kok ya tidak.

Oh ya, ini saya ndak sedang buka kursus Bahasa Inggris lho ya, lha wong saya sendiri saja masih perlu diajari kok, kalau mau belajar Bahasa Inggris yang asik ke sini saja.


Posted at 01:07 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Monday, October 02, 2006
Pekerjaan Saya

Banyak yang tanya begini "sampeyan itu kerjaannya ngapain toh, kok aku ora mudeng?". Baiklah, sedikit membuka diri tentang apa-apa kerja saya yang toh rasanya juga tidak berbahaya kalau diketahui, syukur-syukur malah nanti ada yang bisa bantu. Secara penampakan dari luar kerja saya ya ha ha hi hi di depan layar monitor komputer, buka-buka buku sambil cengengesan dan jadi "tukang protes" (halusnya, mempertanyakan semua data yang diterima). "Musuh saya (kami)" adalah para pengumpul data yang sudah berdarah-darah di lapangan dan datanya dipertanyakan keabsahannya serta para "politisi kantor" yang mencak-mencak karena hasil yang saya (kami) keluarkan tidak populer, mbedal dari pakem. Kepada teman-teman yang pentalitan di lapangan saya bisa berempati karena saya dulunya ya seperti mereka, sedangkan kepada para politisi ... saya sedang berusaha keras untuk berempati.

Mainan data, protes, berbantah, menelusuri biang data, merangkai fakta yang terserak dan akhirnya berkesimpulan, sungguh hal yang bagi saya sangat menarik, walaupun sering amat sangat capek melakoninya (*sudah jangan ngeluh, toh kamu dibayar untuk itu*). Ada kepuasan tersendiri di ujung kesimpulan dan lonjakan-lonjakan riang gembira jika kesimpulan itu lantas menjungkir balikan teori lama. Ada seringai bengis penuh kepuasan manakala melihat mimik wajah para politisi kantor yang ndlongop kehabisan kata-kata.  

Ada sebuah cerita lawas yang lantas jadi klasik. Pada suatu waktu kami diminta untuk menentukan status keterancaman satu jenis burung, pertanyaanya adalah apakah jenis burung tersebut benar-benar terancam punah atau tidak. Saat itu burung tersebut dianggap sangat terancam punah berdasarkan fatwa seorang pakar berkedudukan tinggi. Ujung ceritanya bisa ditebak, satwa itu ternyata tidak (belum) terancam punah. Lha di mana mlintirnya kalau begitu? Ternyata sang pakar mendasarkan argumennya pada sebuah tulisan di jurnal ilmiah terkemuka. Tak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja sang pakar "lupa" untuk menelusuri sumber informasi asalnya, lha wong sudah diterbitkan di jurnal tersohor je, masak harus diperiksa ulang? Sang pakar mengutip, dan ternyata yang dikutip juga mengutip demikian seterusnya hingga kutip mengutip terjadi 6 kali, hingga akhirnya kami bisa mendapatkan kutipan yang berkata lain tetapi sumber itu hanya berupa tulisan tangan yang mengutip sumber asli (begitu katanya). Sumber asli lantas dicari yang ternyata berupa sebuah catatan harian rinci dalam tulisan tangan yang berasal dari beberapa abad yang lampau yang ternyata isinya cocok dengan apa-apa yang ditulis pengutip pertama. Sebuah kesalahan penterjemahan dari pengutip ke dua terjadi dan itu terawetkan. Sang pakar lantas berasumsi bahwa apa yang dibacanya adalah benar. Asumsi ... Assumption is the mother of all fucked up! (ini siapa yang pertama kali bilang ya?).

Lantas, bagaimana caranya memeriksa apa-apa yang ditulis oleh penulis pertama itu benar adanya? Kenapa lantas diasumsikan bahwa penulis pertama adalah yang paling benar? Apakah ada jaminan bahwa apa-apa yang ditulisnya itu adalah fakta dan bukan hanya pendapat populer? Sering kita terseret oleh sesuatu yang populer tanpa kita sempat memeriksa dahulu bagaimana asal muasalnya. Kebelumtentu benaran inilah yang membuat saya bisa ha ha hi hi, cengengesan dan protes. Seorang kawan dari bagian lain berkata "enak bener kerjamu, protes dibayar" ... ooo tidak begitu kawan (saya protes), saya itu ndobos dibayar (ini fakta).

Saya hanya mbongkar-mbongkar soal burung saja, ndak gitu sulit. Lha kalau yang suka mbongkar-mbongkar sejarah, sampai sekarang mereka masih sibuk dengan peristiwa 41 tahun yang lalu itu.

Kalau boleh tahu, apa pekerjaan sampeyan?


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Sunday, October 01, 2006
Ini Buat Apa?

Pada waktu saya baru datang di Tokyo, saya dibanjiri dengan barang lungsuran, barang bekas pakai. Tawaran menerima barang bekas begini memang menguntungkan pemberi dan yang diberi. Saya tak harus belanja perlengkapan ini itu, sedangkan pemberi jadi punya kesempatan untuk mengosongkan gudangnya dari barang-barang yang sudah tak dipakainya. Saat ini boleh dibilang hampir semua barang di rumah saya adalah barang bekas pakai itu, dari mulai kulkas hingga perlengkapan makan, bahkan video player yang belum pernah saya pakai karena tidak ada yang melungsuri saya dengan tv.

Barang-barang bekas itu saya bagi ke dalam 3 golongan: 1. barang yang saya tahu untuk apa dan saya tahu bagaimana menggunakannya; 2. barang yang saya tahu untuk apa tetapi saya tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya (manualnya ditulis dengan tulisan kanji); 3. barang yang saya tidak tahu apa gunanya apalagi cara memakainya. Barang dari kelompok 3 itu jadi masalah, tidak hanya karena menumpuk di tempat penyimpanan tetapi gara-gara barang itu saya jadi bulan-bulanan dimarahi tamu agung yang datang berkunjung.

Alkisah sang tamu agung memerlukan alat untuk membersihkan sweaternya dari dari debu dan dia lantas menanyakan apakah saya punya alat untuk membersihkannya (dia menyebut nama alat yang saya tidak ingat namanya). Saya menyarankannya untuk menggunakan mesin penyedot debu saja. Mengomel dahsyatlah dirinya, sambil menyerahkan sweaternya itu untuk saya bersihkan dengan alat yang menurutnya tak tepat guna itu. Sedang asik dengan acara sedot menyedot, sang tamu agung tiba-tiba datang dengan wajah seram, "ini alat yang tadi aku tanya!!!!" ujarnya sambil mengacungkan alat seperti seperti roller untuk ngecat tembok yang ujungnya berlapis kertas lengket.



"Ini alat untuk membersihkan debu ... wekwekwekwek ...  juga dipakai buat membersihkan sofa ... wekwekwek ... dasar!!!", .... lha ya maaf, saya ndak tahu kalau alat itu untuk membersihkan debu di baju, celana, sweater atau sofa. Saya kira itu buat membersihkan lantai. Nggiling lantai sak rumah dengan alat itu cuma bikin sakit pinggang.


Posted at 01:33 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, September 30, 2006
Besi Ditumpuk



batangan baja, dilas, disekrup, ditumpuk
inilah menara baja tertinggi di dunia
lebih tinggi dari menara yang menginspirasinya
menara Tokyo 333 meter, menara Eiffel 320 meter
potongan besi yang ditumpuk-tumpuk ini kalo malam kok ya cantik juga

terima kasih Mas Pepet (Rafael) buat fotonya, kapan saya dimasakan ayam goreng lagi?

Posted at 03:39 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Friday, September 29, 2006
Obat Stress

Tamu agung sudah datang berikut dengan oleh-olehnya yang tampaknya pas buat saya yang berkeja dalam tekanan tinggi (cieeee ....).  Selembar kaleng yang diwarnai merah, putih dan hitam untuk terapi mana kala tekanan mendera meraja lela penuh angkara tiada dua.



Petunjuk pemakaian :

1 - Place on a hard surface
2 - Bang head against "BANG HEAD HERE"
3 - Repeat until you are unconscious or in so much pain that you forget about your stress

Sampeyan mau coba, saya ndak narik bayaran apa-apa lho kalau sampeyan hendak numpang berobat di tempat saya, namanya juga menolong teman.


Posted at 06:36 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Thursday, September 28, 2006
Beres-Beres

Kemarin itu saya ndak ke kantor, ada faktor M (males) yang berperan di situ, tetapi sebetulnya ada hal yang harus saya kerjakan di rumah dan bakal menyita banyak waktu. Beres-beres rumah ... lha sebagai mana layaknya bujangan geografis rumah saya itu bagian dalamnya hancur lebur. Sulit digambarkan dengan kata-kata dan mestinya kalau ada maling masuk ke rumah saya dia bakal mengira rumah ini sudah lama tak dihuni. Atau dia malah jadi malas nyolong karena harus mencari barang yang layak jual diantara timbunan barang layak buang. Lho ada apa tho kok beres-beres?

Di Jepang ndak ada burung prenjak yang katanya rame siul-siul kalau ada tamu mau datang. Kali ini saya akan disambangi (lagi) oleh tamu agung. Sesudah Mas Jumadi datang beberapa bulan lalu, sekarang giliran tamu agung lain yang datang, mudah-mudahan datangnya dengan oleh-oleh yang layak santap. Mau transit dua hari (hingga hari Minggu) katanya. Girang? tentu saja, paling tidak tamu yang satu ini bisa masak! Soal enak atau tidak itu urusan belakangan.

Mencuci ... ooo tidak banyak yang harus dicuci ternyata, ya sudah saya tambahi sprei, sarung bantal dan selimut sekalian biar kelihatan bersih semua sekalian . Bersih-bersih lantai, masih belum banyak debunya, icik-icik sebentar beres sudah. Beres-beres barang, lha kok ndak banyak juga? Sampah-sampah dapur? ndak ada sampahnya wong saya jarang sekali ke dapur. Kamar mandi? biarpun saya rajin mandi tetapi bagian ini selalu kinclong benderang. Bekas tempat minuman dari karton dan botol plastik? lhaaaaa .... ini agak banyak karena jadwal angkut-mengangkut sampah beginian hanya dua minggu sekali dilakukan di tempat saya tinggal. Semua rampung dalam setengah hari, itupun mulainya dari dekat tengah hari dan diselingi dengan mengerjakan beberapa pekerjaan kantor dan ha ha hi hi dengan teman-teman di dunia maya.

Hikmahnya bersih-bersih tadi? selain bagian dalam rumah jadi kelihatan agak terang dan lapang, acara tadi selesai dekat-dekat dengan waktu berbuka puasa. Perut yang biasanya teriak-teriak karena jadwal pengisiannya diubah secara mendadak, tidak terdengar teriakannya. Kerongkongan yang memelas minta diguyur air juga tenang-tenang saja kali ini. Hanya, pinggang saya kok protes ya? mungkin minta disetrum lagi.

Hei tamu agung, silahkan datang.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Wednesday, September 27, 2006
Pedangnya Jepang

Mari kita nJepang lagi, kali ini sekilas soal pedang, penggunanya dan peruntukannya, siapa tahu ada yang berminat main tusuk dan gorok ala Jepang, walaupun saya tidak bermaksud menganjurkan permainan penuh darah begini, tuberok ... bukan turun berok tetapi tusuk, tebas dan gorok. "Permainan" yang pada suatu masa yang telah lama lewat di Jepang sini adalah soal kehormatan dan jalan seorang kesatria yang dilakukan oleh para lelaki dengan potongan rambut yang "aneh".

Banyak orang di Indonesia menyebut pedang panjang khas Jepang dengan nama Samurai. Padahal Samurai sendiri adalah nama untuk seseorang yang mengabdi sebagai tentara kepada seorang bangsawan, dan kata Samurai sendiri secara harafiah berarti melayani. Seorang Samurai biasanya menyandang paling tidak dua buah pedang, yang satu panjang dinamai Katana dan yang satu lebih pendek dinamai Wakizashi. Jika Katana bisa ditinggalkan atau dititipkan pada saat seorang Samurai datang ke rumah seseorang, Wakizashi terus menempel di pinggang, pantang dilepas. Waktu tidurpun Wakizashi ditaruh di bawah bantal sang Samurai. Sering juga seorang Samurai menyandang pedang lain (atau lebih tepatnya pisau) yang ukurannya lebih kecil dari Wakizashi, yang disebut Tanto.

Katana dirancang untuk menebas atau mengiris pada pertarungan jarak dekat, walaupun bisa juga dipakai buat menusuk. Penggunaan Katana haruslah orang yang betul-betul jagoan pedang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Salah-salah pakai, malah bilah pedangnya yang rusak. Jika Katana sedang tidak tersedia, perannya digantikan oleh Wakizashi dan di tangan seorang jagoan pedang bekas tebasan Wakizashi bisa tak terlihat. Kadang Wakizashi digunakan dalam ritual Seppuku, walaupun dalam ritual tersebut Tanto adalah alat yang pas untuk mengoyak perut. Tanto sebenarnya dirancang untuk menusuk dan mengiris. Ini dia senjata kesukaannya para ninja, kecil, enteng dan pas buat tugas yang pantang ada ribut-ributnya. Saat ini Tanto adalah senjata favorit para Yakuza, para penjahat Jepang yang terorganisir.

Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya. Lha...sulit ini, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.

Sepuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rada njelimet (Jepang ... apa sih yang ndak njelimet?). Yang mau bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, lha baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk manis dengan Tanto diletakkan di depannya. Sabaaarrr ... nulis puisi dulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas dikit biar ususnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.

Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai mbeling yang nyolongan, tukang korupsi atau jadi penjahat kacangan lainnya .... ya tak ada pendamping, dibiarkan mati saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.

Lha ndobos saya ini asalnya dari cerita seorang kawan Jepang yang belum punya pengalaman sama sekali dalam melakukan Seppuku, jadi kalau ada salah-salah atau kurang-kurang ... ya dimaklumi saja, namanya juga dia cuma jago teori ndak pernah praktek sama sekali. Kalau saya? wong saya itu tukang ndobos, kok ditanya soal Seppuku. Soal ini saya kan taunya ya cuma seppuku dua pukku saja.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 07:19 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Next Page