Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, October 15, 2006
Lensa Bening Cling


Bagi pemakai kaca mata yang bukan cuma buat gaya atau sekedar menahan silau matahari, kebeningan lensa mutlak adanya. Membersihkan lensa dengan kain khusus, jika ada debu yang menempel bisa menggores pelapis lensa atau malah lensanya itu sendiri. Maka biasanya saya mengawali ritual bersih-bersih lensa itu dengan acara tiup-tiup lensa.  Lantas lensa diabapi (ini apa Bahasa Indonesianya ya?), seperti diuapi dengan napas hingga lensanya berembun, barulah lensa bisa dielus-elus dengan kain itu. Selesai? belum! kacamata lalu diangkat ke depan wajah untuk dilihat/diterawang sudah bening atau belum. Kalau kurang bening, pengabapan dan usap-usap bisa diulangi.

Lha ... setiap hari kerja, saya selalu berjalan melewati sebuah toko kaca mata yang saya ndak bisa baca nama tokonya. Di emperan depan toko itu ada sebuah meja kecil yang penuh dengan alat pencuci lensa berikut petunjuk pemakaiannya. Tak perlu bisa membaca huruf kanji untuk memahaminya, karena untuk orang yang buta huruf kanji seperti saya, gambar yang terpampang soal penggunaan alat sudah tak perlu dikata-katai lagi.

Pencet tombol di alat berwarna biru (hanya ada satu tombol, ndak mungkin salah), *alat berdengung halus*,  celupkan kaca mata ke wadah airnya *yang sekarang bergonjang girang karena tombol dipencet*, dan digoyang-goyangkan sampai alatnya berhenti berdengung (kira-kira 30 detik). Celupkan kacamata ke wadah air kedua barang sebentar dua bentar, lalu usap-usap dengan kertas tissue yang disediakan. Jangan lupa membuang kertas tissuenya ke tempat sampah yang tersedia. Terawanglah, itu lensa dijamin bening cling.

Ada dua meja di depan toko itu, yang bisa melayani 4 pe-kaca mata sekaligus. Gratis dan tak ditunggui oleh pemilik atau pegawai toko yang bisa bikin rikuh para penikmat pembersih gratisan itu. Upaya menarik pelanggan? mungkin saja. Hanya saya ndak ngerti apa tujuannya itu potret skuter dipajang di situ.


Posted at 05:18 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, October 14, 2006
"Ikan" yang Bukan Ikan dan "Paus" yang Bukan Paus

Sebuah dialog fiktif, ngarang, antara pak guru dan murid-muridnya dalam pelajaran ilmu hayat: "Ikan yang paling besar di dunia adalah ikan paa.....???" disahut dengan riuh rendah "Ikan paus pak guruuuu". Pujian datang, "bagus anak-anak semua". Dialognya boleh fiktif, tetapi mbok ya ndobos jangan keterlaluan toh, mosok paus dibilang ikan? Lha, saya ndobos soal ikan yang bukan ikan dan paus yang bukan paus saja ya.

Paus bukan ikan (pisces), paus itu hewan menyusui (mammalia). Paus tak punya sisik, bernafas dengan paru-paru, (yang betina) melahirkan anaknya, hewan berdarah panas (warm-blooded animal) dan yang paling penting hewan yang betina punya nenen untuk menyusui anaknya ... karena itu paus digolongkan sebagai mammalia dan bukan ikan.

Bukan ikan kok hidup di air toh? Lingkungan air bukan hanya berisi ikan, ada segala macam mahluk yang hidup di air itu, hewan melata juga ada, misalnya penyu dan ular, bahkan burungpun ada yang menghabiskan banyak waktunya di air. Untuk paus lingkungan air sangat cocok. Ukuran tubuhnya yang bisa dibilang gede-banget-sekali-deh itu membuatnya lebih cocok hidup di air. Jika paus digeletakan di darat malah bisa mati, karena akan membuat organ dalamnya (jeroan) luluh lantak ndak karuan dan paru-parunya tak bisa mengembang sempurna untuk menampung udara, tergencet oleh berat tubuhnya sendiri. Paus memang besar, bahkan Paus biru (Balaenoptera musculus) adalah hewan terbesar di dunia dengan panjang tubuh bisa sampai 30 meter dan berat tubuh lebih dari 110 ton.

Kalau saja jeroannya tak tergencet, paus bisa saja bertahan di darat karena sama halnya dengan manusia, paus bernapas dengan paru-paru. Udara untuk paus benapas masuk dan keluar lewat lubang napasnya (blowholes) yang terletak di bagian atas tubuhnya dan dilengkapi dengan semacam katup kedap air agar paus tidak klelep. Paus harus sering-sering muncul ke permukaan untuk membuang dan mengambil napas. Sekali mengambil napas paus bisa menyelam selama 10 menit sampai hampir dua jam (tergantung jenis pausnya).

Lha,  karena urusan harus mengambil udara untuk bernapas tapi ndak boleh ada air ikut masuk, urusan tidur buat paus jadi agak unik. Paus perlu tidur, malah katanya bisa 8 jam sehari tidurnya, hanya saja pada saat yang sama paus juga harus tetap terjaga agar tak habis napas. Caranya? belahan otak kiri dan kanan paus tidurnya gantian.  

Untuk urusan makan, tergantung jenis pausnya, bisa macam-macam jenisnya, paus bergigi memakan ikan dan/atau cumi-cumi. Sedangkan paus yang tidak bergigi yang ukuran tubuhnya itu raksasanya raksasa makanannya justru plankton (hewan kecil-kecil yang mengambang di air) dan yang paling terkenal sebagai makanan paus tak bergigi ini adalah krill. Krill itu seperti udang hanya ukurannya kecil sekali, paling-paling 1-2 cm panjangnya. Akan tetapi karena ukuran tubuhnya besar begitu, makannya ya harus banyak. Paus dalam sehari bisa memakan sekitar 5% dari berat tubuhnya. Ini berarti Paus biru paling tidak harus makan sebanyak 5 ton krill sehari. Itu rombongan krill dicaplok, lantas mulut paus menutup dan air yang ikut masuk dibuang keluar sementara krill nyangkut di rumbai-rumbai (baleen) yang ada di mulutnya yang memang berfungsi untuk menyaring.

Baiklah, paus bukan ikan, lantas apa yang paus tetapi bukan paus. Pernah dengan nama Paus pembunuh (Orca) atau Paus pilot (Pilot Whale) yang sering diberitakan melakukan bunuh diri masal dengan mendamparkan dirinya ke pantai beramai-ramai? Dua hewan tersebut sering dikatakan sebagai paus. Mereka bukan paus, tetapi masuk dalam golongan kerabat dekat paus .... lumba-lumba. Ya, lumba-lumba juga bukan ikan, sama seperti paus, lumba-lumba juga binatang menyusui.

Orca (Orcinus orca) yang bukan ikan dan bukan paus ini, seperti halnya lumba-lumba, adalah hewan yang cerdas. Mereka hidup dalam kelompok yang dipimpin oleh betina dan berburu mangsanya secara berkelompok dan cara berburunya tidak langsung main terkam. Mangsanya dikumpulkan dahulu, dibuat terpojok lantas pesta dimulai. Walaupun makanan utamanya adalah ikan, tetapi Orca juga memangsa anjing laut dan paus. Sebuah film dokumenter yang pernah saya saksikan dengan ndlongop memperlihatkan bagaimana serombongan Orca dengan sangat efektif memisahkan anak paus dari induknya, menenggelamkannya dan selanjutnya bisa ditebak.

Lumba-lumba memang termasuk hewan cerdas, mereka memiliki "bahasa" untuk berkomunikasi, hidup dalam kelompok sosial dan bahkan ada jenis lumba-lumba yang betinanya mengajarkan anaknya untuk menggunakan karang sebagai alat untuk melindungi mulutnya pada saat mereka berburu ikan di dasar laut. Masih ada satu lagi, lumba-lumba adalah salah satu dari sedikit hewan selain manusia yang menggunakan sex bukan hanya untuk berkembang biak, tetapi juga untuk "bersenang-senang" dan memperkuat ikatan antar individu.

Gambar diambil dari sini dan sini.


Posted at 05:42 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Friday, October 13, 2006
Ibis karau

Seribu Intan nomer 1

Suatu hari di tengah rimba belantara Kalimantan Timur, di tepian Sungai Mahakam yang berwarna coklat, ada bebauan hutan yang menemani ritual minum kopi di sore hari. Teropong itu masih basah oleh keringat, tergolek molek di samping, tidak lagi menggelayut manja di leher dan bersandar di dada yang sekarang terbuka tak lagi berbaju. Bayangan hitam besar itu muncul entah dari mana, menjejak bumi tanpa suara di tekukan sungai seberang. Teropong itu sekarang sudah melekat kencang di mata, entah bagaimana nasib cangkir kopi yang masih penuh tadi. Mahluk hitam tadi, burung, Ibis karau, Pseudibis davisoni, Ibis paling langka di dunia. Dia lelaki yang beruntung.

Halaaah, itu pembukaan kok ndak saya banget yak?! Saya itu sedang berusaha menggambarkan suasana indah yang muncul karena berjumpa mahluk super langka. Lha kok suasananya? bukan mahluknya yang diindah-indahkan. Itulah soalnya, mahluk yang bernama Ibis karau ini buat banyak orang ndak indah dipandang mata, ndak bisa bikin jatuh cinta pada pandangan pertama seperti kalau melihat merak yang sedang ngibing dahsyat dipacu birahi itu. Coba saja lihat morfologinya, paruhnya panjang bengkok ke bawah, kepalanya yang kecil itu  "gundul" tapi ya kegundulannya itu tak mencegahnya untuk tetap mengenakan bando berwarna terang. Tubuhnya? seperti tak seimbang dan kaki-kakinya  kurang jenjang. Tubuh didominasi warna gelap dengan seleret putih pada bagian bahunya yang lantas dijadikan nama burung ini dalam Bahasa Inggris, White-shouldered Ibis. Tengok juga gaya berjalannya, halah ... sudahlah.

Ketidak indahan itu mungkin menjadi salah satu sebab kenapa dia tak terperhatikan, tidak sebagaimana elang yang gagah atau cendrawasih yang molek. Walaupun Ibis karau saat ini menyandang status keterancaman tertinggi, Kritis (Critically Endangered), tak banyak yang perduli atau bahkan kenal dengannya. Dahulunya burung ini terdapat di Cina bagian selatan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia dan Indonesia (Kalimantan). Bebas berkeliaran di hutan-hutan dan di rawa-rawa Saat ini dia hanya bisa dijumpai di Vietnam bagian selatan, Laos bagian selatan, di utara Kamboja dan di Indonesia di Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan. Jumlah yang tersisa juga tidak lagi banyak.

Kenapa pula dia lantas menghilang? Ada beberapa hal yang dituding jadi penyebabnya, dan biangnya ya manusia lagi. Hutan dan rawa yang jadi rumah sang Ibis diutak-atik sak enak udel. Hutannya dibabati dan rawanya dikeringkan, mungkin mikirnya kalau semua hutan dan rawa itu ya punya'nya sendiri, mahluk lain cuma ngontrak, akibatnya banyak korban termasuk si Ibis ini. Sang Ibis lantas mencoba bertahan dengan mengikuti perubahan jaman, mereka mulai sering terlihat di lahan-lahan persawahan manusia yang dulunya rawa rumah mereka. Tapi ya ndak aman juga, mereka diuber-uber, diganggu, dan dibunuh (katanya dagingnya layak santap). Padahal kalau dia dibiarkan saja di sawah ya juga bisa bantu-bantu mengurangi hama dan gulma lho. Makanannya Ibis ini serangga dan biji-bijian rumput. Mungkin karena ada yang ndak nyambung, sawahnya lantas disemproti racun pembunuh serangga, habis jugalah makanan Ibis di sawah.

Rupa tidak indah, tubuh tak simetris, jalannya tidak anggun, klayaban di tempat-tempat becek, holoh holoh, kok ya ndak ada indah-indahnya sih? Tambahan lagi, burung ini tak muncul dalam hikayat tua, tak sebagaimana saudara jauhnya Sacred Ibis dari Mesir yang lantas diidentikan dengan dewa agung bangsa Mesir kuno, Toth. Mitologi kuno menceritakan bagaimana Toth merubah 360 hari dalam setahun menjadi 365 hari setelah dia menang berjudi dengan bulan dan mendapatkan 5 hari tambahan dalam setahun. Lantas, apakah Ibis karau juga harus berjudi dengan manusia untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tetap hadir di bumi. Tak usahlah rasanya dia dipaksa harus berjudi untuk hidupnya dan tak usah jugalah dia lantas dipaksa menjadi cantik agar dapat sekedar lirikan. Jika kita belum kikir perhatian tengoklah kembali Ibis yang satu ini, mungkin kita saja yang belum bisa menangkap keindahannya itu.

Foto: James Eaton/Birdtour Asia diambil dari sini.


Posted at 02:02 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Thursday, October 12, 2006
Lele

Main mercon itu tradisi bulan puasa, begitu kata seorang kawan dulu kepada saya. Apa iya, bukannya bulan puasa itu tradisinya ngobrol soal makanan? hasil blogwalking berkata demikian. Dari hasil penelitian ndak ilmiah, itu blog banyak juga yang isinya mulai dari tajil sampai hidangan utama bahkan beberapa dilengkapi dengan bagaimana cara memasaknya plus foto hasil masakannya. Menggugah selera walaupun belum tentu menggugah minat buat memasaknya ... ini kasus untuk saya. Dalam upaya untuk me-mainstream-kan diri, saya berusaha ikut-ikutan masak dan hasilnya ya lodeh kolak itu. Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal masak dan menyiksa sampeyan dengan foto hasil masakan. Soal yang lain saja, walaupun ada hubungannya dengan makanan.

Awalnya dari obrolan dengan mbakyu satu ini, soal apa yang dia tidak bisa makan. Lele katanya. Alasannya klasik, ndak bisa karena membayangkan cerita bagaimana lele dipelihara dan lebih spesifik lagi makanan apa yang diberikan untuk lele peliharaan ini. Lha lele (Clarias batrachus) itu sudah kodratnya jadi pemangsa segala macam (omnivora), ndak pemilih, apa yang ada ya disantap, termasuk ... ehmmm ... "limbahnya manusia". Walaupun tidak semua lele yang dijual di pasar itu dipelihara dengan cara ini.

Lantas di mana masalahnya? persepsi? terbayang-bayang? Kalau ini masalahnya bisa-bisa ndak makan ikan air tawar sama sekali, sampeyan kira gurame yang kriuk-kriuk goreng kering itu apa beda jauh sama lele? Bagaimana dengan ayam kampung? Lalu, keluar dari dunia hewan, cah kangkung hot plate ngebul-ngebul itu apa pernah terpikir media tumbuhnya apa? Ya sudah, kalu tidak ingin terbayang-bayang gamang beli saja kangkung hasil hidroponik, ayam ras (saya menyebutnya ayam suntik) atau lele dumbo.

Sering pikiran memang lantas mengganggu selera bersantap. Saya pernah bergidik melihat foto orang memakan ulat sebesar ibu jari, toh pada akhirnya saya menyantap juga ulat sagu yang huenaaaknya pol itu, lebih enak dari laron (apa sampeyan sudah pernah mengicipi peyek laron?). Halaaah, lele, gurame, ulat sagu, laron, apa ndak ada makanan lain toh yang ndak aneh-aneh gitu yang ndak nggilani. Lho, sebentar toh, aneh-aneh atau nggilani itu yang bagaimana? Lantas saya bertanya, apakah yang namanya jijik itu adalah konstruksi sosial. Makanan yang benar itu adalah makanan yang secara sosial bisa diterima dan yang namanya selera itu ya harus minggir dulu.

Mari kita lihat makanan yang secara sosial bisa diterima, dengan acuan tempat makannya banyak didatangi orang bahkan anak-anak pun suka makan di tempat itu diantar oleh orang tuanya. Makanan yang disajikan di restoran waralaba cepat saji. Apa sampeyan pernah nanya makanan yang disajikan itu dari mana asalnya, bagaimana mentahnya dan bagaimana cara mengolahnya sebelum mak jreng tersaji manis, tentunya setelah harga makanan itu dilunasi. Saya pernah baca bukunya Eric Schlosser yang berjudul Fast Food Nation dan nonton film dokumenternya Morgan Spurlock yang berjudul Super Size Me. Kalau sampeyan ndak berminat untuk menjadi vegetarian jangan baca dan nonton keduanya. Dijamin sampeyan bakal mikir-mikir lagi untuk membeli makanan yang secara sosial diterima itu, walaupun mungkin (mudah-mudahan) di Indonesia kondisinya berbeda dengan apa-apa yang disajikan oleh buku dan film itu. Kan sudah ada cap halal-nya.

Saya harus ngaku, pikiran saya sudah kebal (dan bebal) dengan cerita asal muasal makanan, ndak baik buat perut sebetulnya. Ini mungkin juga bisa menjelaskan bentuk perut saya yang lebih mirip rantang susun (kalau dilihat dari depan) atau tudung saji (kalau dilihat dari samping). Selama itu bukan makanan haram (menurut keyakinan yang saya anut) dan rasanya tidak menyiksa ... santap sudah. Pada dasarnya manusia itu toh omnivora juga, sama seperti lele. Saya kok jadi kangen pecel lele (bukan pemuda celana lebar-lebar).

Gambar diambil dari sini.


Posted at 01:27 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Wednesday, October 11, 2006
Pernyataan Sikap

Terpampang megah di depan meja kerja untuk menjawab pertanyaan mboseni soal umur.


Posted at 01:30 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Tuesday, October 10, 2006
Kolak Itu

Apa yang saya takutkan itu akhirnya jadi kenyataan, saya diundang pak bos untuk berbuka puasa di rumahnya! Kali ini saya ndak bisa melarikan diri lagi, lagipula masak pakai jurus berbohong? katanya puasa. Sudahlah, toh saya belum pernah sekalipun mampir ke rumahnya sejak saya pindah ke Tokyo. Tambahan lagi, sudah dua tahun ini saya ndak ketemu anak-anaknya. Anak-anak yang selalu memanggil saya dengan nama kecil saya, ndak pake pak, om, uncle, apalagi grandpa, dan saya suka itu, membuat umur saya seolah-olah beda tipis dengan mereka. Kali ini saya ndak ndobos soal anak-anak pak bos itu, saya ingin berkisah tentang acara buka bersama pak bos dan keluarga ... oh iya, mereka ndak puasa.

Mulai dari perkenalan dulu. Pak bos ini berkebangsaan Inggris, penah bertugas agak lama di Indonesia. Mereka suka Indonesia dan liburan juga biasanya dihabiskan di Indonesia, istri dan anaknya yang paling besar masih lancar ber-Bahasa Indonesia. Perabotan rumahnya juga hampir semua dari Indonesia. Lantas kenapa pula saya takut diundang makan ke rumahnya? Begini, pak bos jelas ndak bisa masak, seperti sayalah. Istri pak bos .... setali tiga uang dari dulu dia sudah kondang ndak bisa masak. Nah, ini yang saya takutkan, saya ndak bisa makan suguhannya. Untuk menghindari bencana yang lebih besar, saya lantas datang lebih awal dengan harapan paling tidak ada yang bisa diselamatkan dari makanan berbuka puasa itu.

Singkat cerita, tiba di rumahnya tanpa kesulitan, waktu berbuka juga belum tiba. Istri pak bos sedang bersiap-siap untuk masak dengan menu utama nasi goreng komplit, dengan abon, emping, bawang goreng, telur mata sapi, kering tempe dan ayam goreng. Tadinya saya hendak membantu acara masak-memasak hidangan utama itu. Akan tetapi, begitu diberi tahu makanan pembukanya adalah kolak pisang+ubi+kolang+kaling, maka dengan gagah berani saya menawarkan diri untuk membuatnya, demi menyelamatkan hidangan pembuka berbuka puasa itu dan sekalikus menyambut tantangannya Mbak yang satu ini.

Sukses? nganu sederek sedoyo ... hasilnya berpenampakan agak aneh. Berikut saya tunjukkan penampakan hasil akhirnya.


Akan tetapi ... kolak itu toh habis, tandas tanpa bekas juga akhirnya. Lantas, bagaimana dengan hidangan utamanya? Ketakutan saya akan ketidakmampuan istri pak bos memasak ternyata kosong belaka. Nasi gorengnya ternyata berpenampilan elok dan rasanya enak sekali dan saya malah minta kalau boleh saya bawa pulang buat sahur. Berprasangka memang tak baik, masa lampau seseorang tak bisa dijadikan acuan mati, orang bisa berubah.


Posted at 02:02 am by Sir Mbilung
Ada (16) yang ndobos juga  

Monday, October 09, 2006
Keragaman

Awalnya adalah sebuah "laporan" kejadian biasa yang sering terjadi di rumah, kecil dan ndak penting. Adik senang memasak, kakak amat senang memakannya ditemani ibu dan ibu (harus) senang mencuci perlengkapan masak memasak. Pada kesempatan lain ibu yang memasak, adik membantunya, kakak senang memakannya dan ibu kembali (harus) senang mencuci. Maka komentar yang lantas muncul bisa berupa imperfect division of labour, spesialis dan generalis atau ibunya nyuci dan kakanya makan terus yak? Kalau saya melihatnya sebagai "saling mengisi" dan ini menggiring saya untuk ndobos soal keragaman.

Pada masa sekolah dulu guru ilmu hayat saya mengatakan "satu kelompok mahluk hidup, entah itu dalam ikatan populasi atau komunitas, akan sangat rentan untuk hancur jika anggotanya seragam". Mbulet? contohnya begini ... hutan alam lebih kuat terhadap berbagai cabaran hidup dibandingkan dengan perkebunan. Hutan alam dihuni oleh begitu banyak jenis mahluk hidup sementara perkebunan hanya didominasi oleh satu jenis saja, kebun kelapa oleh pohon kelapa, kebun kelapa sawit ya oleh pohon kepala sawit. Perkebunan kelapa bisa hancur lebur jika sexava menyerang, untuk menghancurkan hutan alam diperlukan berbagai macam hama yang menyerang secara serentak (ini jika manusia tidak digolongkan sebagai hama) dan peluang untuk terjadinya hal ini amat sangat kecil. Dalam dunia investasi, hanya bergantung pada satu macam investasi saja adalah tindakan yang tidak disarankan, spread your risks begitu sarannya. Kunci ketahanan adalah adanya perbedaan.

Dalam dunia manusia, perbedaan adalah kekayaan yang bisa berujung pada tarian yang diiringi nyanyian riang tetapi sayangnya juga bisa berujung pada bencana dengan iringan nyanyian duka. Saya berbeda dalam banyak hal dengan anda dan saling menghormati serta menerima perbedaan yang ada di antara kita adalah langkah awal bagi kita untuk sama-sama menari dengan lagu riang. Tengoklah penghuni Indonesia, haih haih ... ada banyak macamnya, ada Aceh, Arab, Bali, Batak, Bugis, Cina, Dayak, Jawa, Madura, Makassar, Minang, Nias, Papua, Sasak, Sunda dan masih banyak lagi dah. Waduh, ini mesti kuatnya ndak ketulungan. Perkara apakah penyatuan keragaman itu berawal dari sebuah sumpah terkenal ini :

Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa

atau karena sebab lain, kenyataannya sekarang semua ada di dalam mangkuk besar bernama Indonesia.

Sudah, saya ndobosnya stop di sini, mbok sekarang gantian sampeyan yang ndobos. Menurut sampeyan upaya penghilangan salah satu bagian, bagaimanapun kecilnya bagian itu, dan upaya penyeragaman budaya termasuk upaya penyeragaman pangan (baca: semua makan nasi) apakah akan mengurangi keperkasaan Indonesia?


Posted at 01:31 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Sunday, October 08, 2006
Post-traumatic Stress Disorder

Saya ndak suka makan masakan India, agak berlebihan sebenarnya yang pas adalah saya sudah tidak lagi bisa (atau belum bisa lagi) makan masakan India. Aaahhh mbulet, pokoknya kalau saya sekarang disuguhi masakan India ndak akan saya makan ... dah begitu saja. Keengganan ini tampaknya ada hubungannya dengan sebuah peristiwa yang sudah agak lama, yang masih jelas gambarnya diingatan (tumben ini), karena dulunya saya tak ada masalah dengan makanan apapun. Namanya juga karung, garbage compactor. Begini ceritanya ....

Pada suatu ketika di pertengahan tahun 90-an di negri yang jauh (India jauh), kami berkumpul di sebuah kota di Selatan India yang bernama Coimbatore. Ada banyak orang dengan berbagai kebangsaan ngumpul di situ dan kami diinapkan dalam sebuah hotel yang sama. Hotel ini menyediakan masakan India yang apa-apa dibumbui dengan medoknya, kadang serasa sedang mengunyah rempah. Saya bisa melaluinya dengan sukses selama 2 hari. Tetapi banyak teman dari negara berperut lemah (seperti Jepang), langsung dapat masalah perut di hari pertama. Untungnya mereka berbekal obat hebat pemadat hajat, yang kemudian terbukti laku keras tandas tanpa bekas sebelum seminggu. Saya yang akhirnya menjadi salah satu penggunanya, menamai butiran kecil hebat itu the stone maker.

Lelah raga karena bekerja ditambah lelah mental karena makanan membuat kontingen Malaysia yang sebagian besar beretnis Cina mulai tak tahan. Bersepakat dengan kontingen Indonesia dua negara serumpun ini lantas melakukan serangan terencana ke dapur hotel. Saya yang ndak bisa masak juga ikut sebagai penggembira. Kawan Malaysia itu berkata, "kami hanya minta nasi putih ... plain rice ... jangan dikasih apa-apa". Sang koki hotel yang teritorinya dirambah secara semena-mena menolak mentah-mentah ... "itu bukan cara saya memasak". Lha...kokinya ngambek dan ndak mau masak. Maka, jadilah itu para pemrotes yang masak. Paling tidak hari itu kami makan nasi putih.

Menu masakan India itu mendominasi total acara makan pagi, siang dan malam. Kami rindu dengan sarapan pagi standard hotel-hotel biasa yang biasanya dimakan dengan malas. Hingga pada suatu pagi, pintu kamar digedor-gedor oleh seorang kawan yang sambil berlari dari kamar satu ke kamar lainnya membawa berita gembira .... "scrambled eggs and breads" ... telur orak-arik dan roti. Tanpa hirau acara mandi pagi, langsung keluar dari selimut dan melaju ke ruang makan. Waaaah .... iya ..... barang kuning terang itu teronggok indah di meja makan dikelilingi roti. Tak ada antrian, semua berebut seperti burung bangkai. Tak ada tata krama makan, masih dalam posisi berjalan ke tempat duduk, sendok sudah menyuap barang idaman itu. Lho ..... manis!!!! Itu telur orak-arik dicampur gulaaaaaa ....

Sudahlah, saya sudah pada taraf kapok dengan masakan India. Lha kok ndilalah kemarin itu saya diajak menghadiri acara makan malam di Roppongi Hills di sebuah restoran bernama Diya. Perut yang sudah kosong memilih untuk tetap kosong ... Diya itu restoran India. Kisah kemarin itu toh akhirnya berakhir bahagia, sangat bahagia. Persis di depan restoran Diya ada sebuah tempat makan lain bernama indah .... Putri Bali.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:48 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Saturday, October 07, 2006
Payung Narsis Perusak Fantasi

Hujan mulai sering mengguyur Tokyo, tetapi jalanan (untuk pejalan kaki) tak juga sepi. Berbeda dengan di Bogor dan Jakarta (dan mungkin juga di banyak tempat di Indonesia) di Tokyo jumlah orang berteduh pada saat hujan sangat sedikit. Semua seperti biasa saja, hanya kali ini jalanan dihiasi banyak payung. Ada satu macam payung yang saya namai "payung narsis", terbuat dari bahan plastik tembus pandang. Harganya relatif murah untuk ukuran Tokyo yang berjuluk kota termahal ke-dua di dunia (setelah Oslo). Payung narsis ini dijual seharga 500-an Yen (sekitar Rp.40.000).

Lha kok dinamai payung narsis toh? Bagaimana tidak, itu orang payungan masih bisa dilihat bagian tubuh leher ke atasnya dari depan, belakang, samping (kiri dan kanan) serta dari atas. Payung tidak boleh menghalangi pandangan orang sekitar ke arah wajah pemegang payung. Kumplit sudah, harga murah, tubuh terlindung, tampang tetap terpajang. Lantas apakah saya memiliki payung narsis itu? Oooo tentu saja akan tetapi (*diucapkan dalam satu tarikan nafas*), saya tak punya maksud untuk nampang karena wajah saya tidak layak tatap (pandang) tetapi layak tatap (dibenturkan) ... *beeet dia berkelit*. Begini sederek sedoyo mohon ijin untuk menjelaskannya.

Jalan-jalan sempit di Tokyo itu diapit oleh gedung-gedung jangkung. Ini membuat jalan-jalan itu seperti terowongan angin. Angin yang biasa-biasa saja, bisa menjadi angin berkecepatan tinggi jika bertiup diantara gedung-gedung jangkung itu. Lha..kalau hujan, itu air jadinya bukan turun dari atas, tapi dari depan, belakang atau samping (kiri atau kanan) karena terbawa angin. Akibatnya, agar fungsi payung tetap terjaga, sang payung tidak lagi dipegang menjulang ke atas tetapi direbahkan sesuai dengan arah datangnya air. Celakanya jika angin bertiup dari depan, payung harus direbahkan sedemikian rupa sehingga tubuh bagian depan tertutup, tetapi itu juga berarti pemegang payung tak lagi bisa melihat jalan di mukanya. Pemecahannya, payungnya saja dibuat tembus pandang agar tak terjadi tabrakan beruntun manusia. Jadiiii ... saya tidak narsis bukaaaaan??? (yang lantas menjawab bukaaaaan ... basbang).

Hanya saja, saya masih ndak sreg juga dengan payung tembus pandang ini. Bayangan yang tertanam di benak saya itu kalau lihat orang payungan ya seperti di lagunya Payung Fantasi, ada misteri kemolekan wajah yang tersembunyi di balik payung, bikin fantasi melayang dan penasaran sampai yang nyanyi bersenandung :

bolehkan aku melihat seri wajahmu
bolehkah disayang
siapa gerangan dinda, bidadari dari surga
ataukah burung kenari
pembawa harapan pelipur hati


Wah jan, payung narsis nan tembus pandang merusak fantasi. Apa sampeyan setuju, apa-apa yang tembus pandang itu merusak fantasi? Tetapi banyak orang-orang yang sekarang pada tereak "sekarang semuanya harus transparan".


Posted at 12:04 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Friday, October 06, 2006
Seribu Intan

Terus terang ini bukan ide asli, saya cuma nyontek idenya pak dokter komik tukang terapi hewan. Pak dokter setiap hari Rabu bikin komik strip yang buat banyak orang (termasuk saya) menjadi teman pemunah duka. Ya ... saya menirunya, tetapi saya tidak membuat komik. Maka mulai hari ini, setiap hari Jum'at saya akan ndobos soal burung-burung bukan sembarang burung-burung, tetapi burung-burung yang ada di Indonesia yang terancam punah. Lho ada burung yang terancam punah, kok serem? Lha iya, maka itu tulisannya dipajang di hari Jum'at, untuk menambah aura keseramannya. Agar tidak seram dan malah "berkesan ilmiah sedikit", seri tulisan ini saya namai "Seri Burung-Burung Indonesia yang Terancam Punah" (waaah namanya ndak kreatif .... biarin), atau biar ndak kepanjangan saya singkat jadi "Seribu Intan".

Sebagaimana lazimnya kisah-kisah dituturkan, saya ingin membuka seri ini dengan pendahuluan, tanpa kata-kata pada suatu hari atau pada jaman dahulu kala yang rasanya kok basbang. Pendahuluan ini bertutur tentang kenapa burung kok ya bisa terancam punah, bagaimana menentukannya dan golongannya apa saja. Sudahlah, mari kita mulai saja dan mudah-mudahan bermanfaat.

Dari semua negara di dunia yang berburung, Indonesia punya jumlah jenis burung nomer empat terbanyak setelah Kolombia, Peru dan Brazil. Jumlahnya hingga hari ini ada 1558 jenis burung. Saya mengatakan hari ini karena bisa saja besok jumlahnya sudah bertambah (mudah-mudahan tidak berkurang) karena masih banyak daerah di Indonesia yang belum dijelajahi untuk dicari tahu isinya. Peneliti burung di Indonesia jumlahnya juga tak banyak (jelaskan kenapa orang gemblung seperti saya bisa dapat kerja?) dan kalau semua peneliti ini disebar ke daerah yang belum dijelajahi, hingga umur harapan hidupnya habis tetap saja masih ada yang bolong. Dari 1558 jenis burung itu, ada 118 jenis yang termasuk dalam kategori terancam punah. Angka itu jadi serius karena jumlah segitu itu yang paling tinggi di seluruh dunia.

Lha kok lantas bisa terancam punah? Ya beraneka rupa sebabnya, tetapi yang paling umum penyebabnya adalah kehilangan atau rusaknya tempat tinggal (habitat loss/degradation). Wooo kerjaan manusia ini. Belum tentu juga, walaupun sebagian besar kehilangan habitat itu ya karena polahnya manusia tetapi faktor alam kadang juga ikut. Selain itu ada faktor-faktor lain seperti perdagangan burung, polusi, penyakit, masuknya hewan yang mestinya ndak ada di situ (invasive species) dan kegiatan manusia di luar perusakan habitat. Beberapa jenis burung menjadi terancam punah karena beberapa sebab. Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) misalnya, terancam punah karena kehilangan habitat dan perdagangan.

Nah lantas bagaimana menentukan suatu jenis burung itu terancam punah. Ini agak mbulet urusannya, tetapi gampangnya begini. Semua data yang berkenaan dengan jenis yang akan ditelaah dikumpulkan. Sumbernya macam-macam, dari mulai yang telah ditulis dan diterbitkan, ditulis tapi tidak diterbitkan (grey literature), awetan di museum (specimen), hasil wawancara dengan banyak pengamat dan "pemanfaat" burung hingga ke peta-peta tua dan modern. Lantas dari data tersebut yang pertama kali dicari adalah di mana burung itu pernah dan masih terdapat yang kemudian digambar di peta, maka munculah daerah sebaran untuk jenis itu. Baru kemudian dipilah untuk dilihat sebaran dulu dan sebaran saat ini. Adakah penurunan luas sebaran, kalau ada, berapa besar penurunannya. Data yang dikumpulkan juga memberi banyak informasi soal ancaman yang ada, cara hidup burung tersebut, dan juga data yang bisa dipakai untuk meperkirakan kemampuan burung menyusaikan diri terhadap perubahan. Hasil dari semua keruwetan itulah yang lantas dipakai sebagai dasar penentuan jenis burung itu terancam punah atau tidak.

Lha siapa yang gemblung kurang kerjaan sampai ngurusi yang begini-begini ini? Ndak banyak kok orangnya, tetapi untuk demi menghindar pergunjingan individu saya pakai nama lembaganya saja. Adalah sebuah organisasi yang namanya bisa bikin bibir keriting The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources atau dikenal juga dengan nama IUCN - The World Conservation Union yang diberi mandat untuk menelaah status keterancaman semua jenis hewan dan tumbuhan di dunia. Semua??? ya, kecuali burung. Untuk burung status keterancamannya dimandatkan kepada lembaga yang bernama BirdLife International. Untuk burung, statusnya dikaji nyaris setiap saat dan setiap tahun daftar burung terancam punahnya dikeluarkan dan pada situasi tertentu lantas diterbitkan dalam sebuah buku yang diberi nama Red Data Book. Bukunya blas ndak menarik buat orang kebanyakan. Untuk Asia saja bukunya tebal (lebih dari 3000 halaman dengan ukuran huruf yang menyiksa mata) beratnya 5 kg (bisa jadi senjata yang mematikan sekaligus bisa buat ganjal pintu) dan isinya lebih garing dari pada kerupuk udang.

Dalam daftar burung yang terancam punah tersebut, setiap jenis diberi status seberapa terancamnya jenis tersebut. Ada tiga golongan status, yang paling tinggi adalah Kritis (Critically Endangered -- atau Critical) lantas Genting (Endangered) dan yang paling bawah adalah Rentan (Vulnerable). Satu jenis burung statusnya bisa saja berubah-ubah setiap tahunnya. Bisa karena kondisinya membaik sehingga statusnya turun atau bahkan keluar dari daftar atau kondisinya makin parah sehingga statusnya naik. Karena pengkajian ini dilakukan setiap tahun, orang-orang yang bekerja di bagian ini lantas sering digelari pekerja nir-miskin orderan atau adapula yang memberi istilah gagah semacam sustainable job specialist group.

Begitulah sederek sedoyo, pembukaan yang sudah saya usahakan dutulis seringkas mungkin. Minggu depan kita akan mulai dengan jenis pertama, Ibis karau burung bernama Inggris White-shouldered Ibis dan bernama latin Pseudibis davisoni, yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan dan berstatus Kritis boooo ...

Foto diambil dari sini.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Next Page