Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Monday, October 30, 2006
Ayo Dicicipi ... Sedikit Saja ...

Tiap kali lebaran ada satu hal yang "menyiksa" saya selain kemacetan lalu lintas *dalam gaya nyinyir*. Walaupun saya itu suka makan, apalagi sudah lama tak mengicipi masakan Indonesia, berat juga rasanya bolak-balik dipaksa makan hindangan standard lebaran sebangsanya opor ayam, sambel goreng ati, ketupat dan konco-konconya itu. Bukan karena saya kurang bersyukur padahal sudah diberi rejeki seperti itu, lagi pula toh tinggal menyuap saja. Akan tetapi, panjang usus saya itu bukannya tak berhingga seperti panjangnya kasih ibu kepada beta, rongga perut juga ada batasnya, walaupun lubang ikat pinggang sudah pindah dua lubang dan kalau mau tambah nyinyir, indra pengecap ini sampai hapal rasa makanan sebelum makanan masuk ke mulut.

Lantas, saya jadi menebak-nebak, bagaimana para peragawati, peragawan, foto model dan para insan wajib diet itu menyiasati lebaran. Bagaimana cara paling sopan untuk menolak hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah yang disambangi. Kalaupun akhirnya dengan jurus sejuta kelit, makanan bisa dihindari, lha minuman suguhan apa ya bisa juga tak disentuh? Perut asem dijejali kopi, kembung dijejali teh.

Sampeyan bagaimana? berapa kilogram makanan dan berapa liter air yang masuk perut dalam satu hari kunjungan?


Posted at 06:43 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Friday, October 27, 2006
Celepuk siau

Seribu Intan nomer 3

Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.   Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.  Mungkin untuk perkara yang satu ini diperlukan pemburu hantu beneran, tanpa keris, kemenyan atau lisong.

Gambar diambil dari sini.

 

Posted at 09:02 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, October 20, 2006
Lebaran


SELAMAT IDUL FITRI 1427 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


Untuk beberapa hari ke depan saya prei nulis dulu. Saya mau menyambangi orang-orang penting dan ndak elok rasanya kalau kunjungan tersebut saya selingi dengan mengunjungi warnet.

Posted at 03:21 pm by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Cikalang christmas

Seribu Intan nomer 2

Bintang burung kali ini adalah burung yang kadang terlihat melayang-layang senang di Indonesia, perampok ulung, penggemar ikan terbang dan cumi-cumi, penerbang ulung tukang klayapan, dan terancam punah karena semut. Cikalang christmas (Fregata andrewsi) yang hanya berbiak (bercumbu, bersarang, bertelur) dan merawat anak di sebuah Pulau kecil di selatan Pulau Jawa yang dahulu terkenal sebagai tempat berjudinya orang-orang Indonesia, di tempat yang benama Pulau Christmas. Walaupun pulau tersebut dekat-dekat saja dari Pulau Jawa, tetapi Pulau tersebut miliknya Australia. Ironisnya, burung ini justru jarang terlihat di daratan utama Benua Australia.

Cikalang christmas saat ini dikategorikan sebagai burung terancam punah dengan kategori keterancaman tertinggi, Kristis (Critically Endangered). Bersarang di pohon-pohon jangkung tak menjamin nasib baik. Hingga tahun 1987 telur burung ini sering jadi sasaran para pekerja tambang fosfat (phospate) di Pulau Christmas, ya untuk disantap, rebus, ceplok atau dadar ... silahkan pilih. Pengambilan telur lantas dilarang dan pada tahun 1989 dan sebuah Taman Nasional dibuat di kawasan tempat burung ini berbiak. Aman? belum! Lepas dari manusia sekarang giliran semut yang hingga sekarang menjadi ancaman terbesarnya. Semut gila berwarna kuning - Crazy Yellow Ant (Anoplolepis gracilipes) membuat burung ini "kesemutan", sarangnya dirambah dan anaknya disantap. Semut masuk ke Pulau Christmas karena dibawa manusia dan ternyata susah sangat diberantasnya karena semut satu ini mampu membentuk super-koloni, kagak ada matinya.

Tidak seperti manusia yang bisa bikin anak kapan mau dan kapan hasrat mengundang (lha kok lantas dibilang kecelakaan ya?), burung ini hanya berbiak dua tahun sekali dan anaknya juga cuma satu atau paling banyak dua sekali berbiak. Biasanya dimulai pada bulan Desember, burung jantan mulai memperlihatkan kejantanannya menarik betina dengan gelambir merah di lehernya yang diisi udara sehingga membentuk balon merah. Betina mulai bertelur sekitar bulan Maret hingga pertengahan Mei dan mengerami anaknya selama 40 harian. Anak yang menetas masih harus dirawat dan untuk burung, perawatan anak Cikalang christmas relatif lama, 15 bulan baru disapih. Pada masa-masa inilah burung sangat rentan terhadap serangan semut. Dirubung semut sampai mati ... sinetron horor Indonesia pernah bikin yang begini ndak ya?

Sudahlah, tak usahlah bicara soal kematian yang mengerikan, bicara soal makan saja. Makanan kegemaran burung ini adalah ikan terbang dan cumi-cumi, walaupun ia juga menyantap ikan jenis lain termasuk bangkai ikan. Jika menangkap ikan paling banter hanya kepalanya saja yang nyelup di air, biasanya hanya paruhnya saja. Burung ini juga memiliki kemampuan sebagaimana perompak lanun, tak segan-segan ia menyerang burung lain yang membawa ikan untuk merebut ikannya. Ikan yang terlepas dari paruh pemilik yang sah lantas disambar di udara.

Burung ini sering mencari makan di tempat-tempat yang jauh dari rumahnya, Seekor burung yang lantas diberi nama Lydia (mestinya betina ini) yang diberi pemancar untuk dapat dipantau pergerakannya dengan satelit menunjukan sejauh apa burung ini bisa terbang (lihat peta di bawah). Lho ... klayapan di Indonesia.


Tetapi teman-teman Lydia jauh lebih dahsyat kluyurannya. Cikalang christmas tercatat pernah dilihat di China bagian selatan, India, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei dan Indonesia. Kok ya jauh-jauh sih cari makan? (look who's talking). Walaupun mampu kluyuran jauh sebenarnya Cikalang christmas lebih suka mencari makan di dekat-dekat rumahnya saja. Sederhana saja masalahnya, lha siapa yang mau kluyuran jauh-jauh cari makan kalau di dekat rumahnya ada banyak makanan yang mudah diperoleh ... ya nggak ya nggak?

Foto John Brodie-Good/Wildwings diambil dari sini.
Peta Parks Australia diambil dari sini.


Posted at 05:20 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, October 19, 2006
Buceri LKMD

Menjadi orang yang fakir fashion, tak sadar mode, tidak modis , terkadang bikin ndak enak juga. Saya termasuk golongan itu dan sebagai warga dari sebuah negara di mana yang kasat mata itu jadi acuan, tersisih dari perhatian adalah konsekuensi. Soal lantas menjadi jengkel karena tersisih tergantung situasinya, karena ada kalanya saya tak ingin diganggu oleh tatapan, misalnya jika sedang buang hajat kecil di wc umum. Tetapi di saat lain, saya ingin ditatap, dipandang, diperhatikan dan tidak disepelekan. Tak elok rasanya jika saya sedang hendak membeli barang, penjaga barang dagangan sibuk bergunjing cekikikan dengan rekannya, walaupun saya sudah pasang posisi bergaya segagah Bima.

Disepelekan karena penampilan jamak saya alami. Manakala bepergian dan tiket di tangan bertuliskan "business class" dan saya mengantri tertib di lorong yang semestinya, entah kenapa saya selalu diminta untuk menunjukan tiket saya oleh sang penjaga antrian, sementara pengantri yang lain tidak. Manakala saya memasuki ruang tunggu keberangkatan di bandara yang penuh dengan makanan dan minuman gratis (juga sambungan internet gratis), kenapa saya harus selalu melalui proses ditatap dari ujung kepala hingga ujung kaki? setampan itukan saya? Tak mengapa jika tatapan itu dibarengi dengan senyum dikulum yang tulus, jengah rasanya jika dibarengi dengan kerutan di dahi dan ini yang paling sering terjadi.

"Dandananmu itu bukan untuk kelas yang dilayani, mbok dandan sana", begitu seorang teman pernah berpetuah. Maka pada suatu ketika petuah tersebut saya coba, walaupun ada rasa tak nyaman. Rambut tersisir rapih, baju berdasi, berjas gelap khas eksekutif muda, sepatu nan berkilau. Semua perhatian yang saya inginkan seolah datang menyerbu, tak ada yang menanyakan tiket di antrian, senyum ramah menyambut kedatangan saya di ruang tunggu, dan penjaga toko bebas bea itu cepat menghampiri. Nyaman? tidak juga, istri saya menatap dengan dahi berkerut sambil menyelidik "mau ke mana???"

Dua gaya penampilan dan keduanya berujung sama. Mungkin saya harus mengambil jalan tengah, tetap berdandan santai tetapi benahi bagian wajah. Rambut saya yang mulai ada warna hitamnya itu mungkin perlu diwarnai berbeda .... pirang misalnya? Ah ... nonanananias  tentunya akan senang memanggil saya buceri (bule ngecet sendiri) nantinya, dan komentar sumir sejenis seperti yang ditulis di sini dan saya disebut LKMD .... Londo Kok Mung nDhase.


Posted at 11:35 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Ulah Munafix ... pake x

Ada beragam cara menghias kendaraan. Ada yang dengan mutilasi hingga bisa membahayakan jiwa pengendara  yang biasanya juga pemiliknya, ada yang dengan mengganti dan menambah yang berakibat kendaraan tak lagi sesuai dengan spesifikasi aslinya, ada pula yang hanya menambahi gambar - gambar tempel - atau boneka-boneka. Khusus untuk gambar, truk dikenal memiliki aliran sendiri yang khas, sensual, garang, nakal, ditambahi dengan kata-kata yang isinya sering seperti ungkapan rindu (pada apa saja).

Jika kemudian lukisan khas truk itu berpindah media ke kendaraan bukan truk, buat saya interpretasi kenakalannya jadi berbeda, seolah ada kegarangan yang hilang, soal sensualnya ... teserah selera masing-masing, tapi toh saya masih bisa tersenyum. "Ulah Munafix" (jangan munafik -- Bhs. Sunda) begitu pesan pemilik kendaraan yang dipotret oleh Nene di Jalan Bangbarung, Bogor.

Buat sampeyan yang akan/sedang mudik ... aku selalu menantimu.





Posted at 12:47 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, October 18, 2006
Kueh Politik

Kueh di Jepang memang enak di mata, bentuk dan warnanya memang layak pandang, soal rasa tergantung selera. Perkara bungkus kueh lantas dirancang untuk juga ikut mendongkrak minat membeli itu sudah jamak. Apa-apa yang digambar di bungkus bisa saja tak ada hubungannya dengan isi bungkusan. Sama halnya mungkin dengan bungkus rokok di Indonesia pada masa kampanye Pemilu yang bergambar macam-macam lambang partai politik. Bagi yang bukan perokok, bungkus-bungkus itu masih bisa jadi bahan koleksi dan akhirnya tidak merokok bukan berarti tidak membeli rokok.

Entah bagaimana ceritanya,  saya yang sedang menggelandang tiba-tiba bisa tersangkut di toko kueh. Lantas, betah berlama-lama memandangi jajaran kueh yang dijajakan. Saya tidak membeli apa-apa, hanya mengambil gambar kueh entah apa namanya itu yang bungkusnya bergambar mantan Perdana Menteri Jepang berpenampilan "berbeda", Junichiro Koizumi, yang pada bungkus disebut dengan nama panggilan kecilnya Junchan.

Dijual dengan harga 840 Yen dan masa kadaluarsa 3 bulan. Saya tidak membelinya, aneh rasanya kalau harus mengunyah Junchan. Saya juga ndak tahu apakah Junchan menerima bagian dari pemampangan tampang di bungkus kueh itu. Saya kok lantas tadi itu membayangkan kalau di Indonesia ada semar mendem atau klepon yang dijual dalam kotak lantas dibungkus dengan gambar politisi kita, apa ada yang berminat membeli? Bagaimana jika onde-onde tapi biji wijennya disusun membentuk lukisan wajah politisi?

Sampeyan ada yang bisa baca tulisan kanjinya? Mbok saya diberi terjemahannya ...


Posted at 04:26 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Tuesday, October 17, 2006
Mengeluh Gaguna

BLOGDRIVE NJENGKIIIIING ... saya berteriak begitu

teman bilang, wong gratisan kok mau enak
saya tanya, ndak boleh ya
teman bilang, ya itu menyalahi pakem
saya tanya, lha saya kan sebetulnya bayar, dia pasang iklan kok
teman bilang, halah ... itukan jatuhnya bayar murah
saya tanya, lantas kalau murah ndak boleh enak
teman bilang, murah nyaris gratis itu ya terima apa adanya saja
saya tanya, lha tapi kalo njengking terus begini kan ndak slamet saya
teman bilang, halah ... murah kok njaluk slamet
saya tanya, lho ... slamet sudah jadi orang top sekarang ya ... kok mahal


Posted at 03:57 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Monday, October 16, 2006
Oleh-Oleh

Mana oleh-olehnya! kalimat tanya yang bisa diucapkan dengan berbagai nada, mulai dari memelas hingga memeras, adalah kalimat paling umum selain apa kabar yang paling sering saya dengar setiap kali pulang atau datang. Kebiasaan? mungkin juga walaupun agak aneh kalau kata itu dilontarkan ke saya, karena saya bukan termasuk manusia rajin membawa oleh-oleh berupa barang, amat sangat jarang. Sebagai manusia koper yang hidup seperti kucing baru punya anak, saya terbiasa bepergian dengan bawaan seringan mungkin. sangking kecilnya itu koper, nyaris tak ada tempat untuk yang namanya oleh-oleh, selain karena saya memang pemalas kalau sudah berurusan dengan acara mencari oleh-oleh.

Seorang kawan sekerja dari Philippina adalah kebalikan dari saya. Upacara mencari pasalubong (begitu dia menyebut oleh-oleh) bisa berlangsung satu hari penuh. Hasil perburuannya? saya kira dia mau buka toko. Setiap kali bertemu dengannya dia selalu memberi saya oleh-oleh, "ini pasalubong kamu". Simbiosa saya dengannya dalam hal oleh-oleh adalah simbiosa parasitisma dan saya parasitnya.

Namanya oleh-oleh ya biasanya barang kecil saja, tak harus mahal. Memberi oleh-oleh kecil mahal seperti berlian, malah bisa disalah artikan. Oleh-oleh menjadi semacam pengejawantahan perhatian dari sang pemberi kepada yang diberi. Hanya saja jika saya jarang membawa oleh-oleh berupa barang begitu, itu bukan berarti saya tak ingat atau kurang memberi perhatian pada teman. Hanya saja oleh-oleh yang sering saya bawa tak berupa barang, saya hanya membawa kisah-kisah perjalanan saya yang terkadang hanya cerita konyol. Seorang kawan penagih oleh-oleh sejati pernah berkomentar, "itu bukan oleh-oleh, itu namanya ngiming-ngimingi .... ngerti!!" .................... Ndak!


Posted at 01:42 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Sunday, October 15, 2006
Lensa Bening Cling


Bagi pemakai kaca mata yang bukan cuma buat gaya atau sekedar menahan silau matahari, kebeningan lensa mutlak adanya. Membersihkan lensa dengan kain khusus, jika ada debu yang menempel bisa menggores pelapis lensa atau malah lensanya itu sendiri. Maka biasanya saya mengawali ritual bersih-bersih lensa itu dengan acara tiup-tiup lensa.  Lantas lensa diabapi (ini apa Bahasa Indonesianya ya?), seperti diuapi dengan napas hingga lensanya berembun, barulah lensa bisa dielus-elus dengan kain itu. Selesai? belum! kacamata lalu diangkat ke depan wajah untuk dilihat/diterawang sudah bening atau belum. Kalau kurang bening, pengabapan dan usap-usap bisa diulangi.

Lha ... setiap hari kerja, saya selalu berjalan melewati sebuah toko kaca mata yang saya ndak bisa baca nama tokonya. Di emperan depan toko itu ada sebuah meja kecil yang penuh dengan alat pencuci lensa berikut petunjuk pemakaiannya. Tak perlu bisa membaca huruf kanji untuk memahaminya, karena untuk orang yang buta huruf kanji seperti saya, gambar yang terpampang soal penggunaan alat sudah tak perlu dikata-katai lagi.

Pencet tombol di alat berwarna biru (hanya ada satu tombol, ndak mungkin salah), *alat berdengung halus*,  celupkan kaca mata ke wadah airnya *yang sekarang bergonjang girang karena tombol dipencet*, dan digoyang-goyangkan sampai alatnya berhenti berdengung (kira-kira 30 detik). Celupkan kacamata ke wadah air kedua barang sebentar dua bentar, lalu usap-usap dengan kertas tissue yang disediakan. Jangan lupa membuang kertas tissuenya ke tempat sampah yang tersedia. Terawanglah, itu lensa dijamin bening cling.

Ada dua meja di depan toko itu, yang bisa melayani 4 pe-kaca mata sekaligus. Gratis dan tak ditunggui oleh pemilik atau pegawai toko yang bisa bikin rikuh para penikmat pembersih gratisan itu. Upaya menarik pelanggan? mungkin saja. Hanya saya ndak ngerti apa tujuannya itu potret skuter dipajang di situ.


Posted at 05:18 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Next Page