Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, November 03, 2006
Perkici buru

Seribu Intan nomer 4

Burungnya bertubuh mungil, tak sampai sejengkal orang dewasa, hanya 16 cm saja dengan tubuh nyaris hijau seluruhnya, kecuali purutnya yang sedikit kekuningan, pangkal ekor bagian bawahnya berwarna merah dan jidatnya sedikit berwarna biru, yang membuatnya diberi nama Inggris Blue-fronted Lorikeet, diberi nama Indonesia Perkici buru dan bernama latin Charmosyna toxopei. Perkici termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) yang juga terdiri dari kakatua, nuri dan betet. Perkici buru hanya diketahui hidup di pulau kecil dengan reputasi besar, Pulau Buru.

Istimewanya lagi (dalam artian sedih) burung ini tidak pernah terlihat lagi secara pasti sejak pertama kali "ditemukan" oleh seorang penjelajah berkebangsaan Belanda pada tahun 1921. Penjelajah ini lahir pada tanggal 8 September 1894 di Tuban, Jawa Timur dan meninggal karena ditabrak mobil di Bandung pada tanggal 21 Maret 1951, Lambertus Johannes Toxopeus, yang semasa hidupnya pernah menjadi profesor zoology (ilmu hewan) di Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Sekedar catatan, Toxopeus bukan seorang ahli burung (ornithologist), dia dikenal sebagai ahli serangga terutama kupu-kupu.

Kembali ke Perkici buru, burung ini tampaknya hanya terdapat di sebelah Barat Sungai Rana di Pulau Buru, tak jauh dari lokasi yang dikunjungi oleh Toxopeus. Penduduk sekitar menamainya "utu papua" dan mereka mengatakan burung ini memakan madu dan serbuk sari terutama dari bunga pohon "hanimura". Informasi ini berasal dari pertengahan 1990-an (1995-1996) pada saat beberapa anak-anak muda Indonesia dan seorang dari Denmark menjelajahi Buru (Bung Yan, Bung David ... masih ingat kah ale dengan Kapalat Mada?). Burungnya sendiri tak kelihatan wujudnya.

Sebelumnya ada laporan penampakan burung ini di pantai Utara Pulau Buru bagian Barat, dari sekitar Teluk Bara dan Smiet sang pelapor mengatakan burungnya cukup umum di perkebunan, di hutan sekunder dan hutan primer. Hanya saja laporan Smiet ini lantas jadi bahan perdebatan sengit. Peneliti yang mengunjungi tempat di mana Smiet menjumpai burung ini, tak pernah melihat burung ini. Ada yang mengatakan bahwa Smiet hanya melihat satu ekor saja pada bulan November 1980, sementara seseorang bernama Forshaw meragukan hasil identifilasi Smiet dengan mengatakan apa yang dia lihat itu bukan Perkici buru tapi Perkici dagu-merah (Charmosyna placentis). Hanya saja Forshaw ya rada ngawur juga, karena dia menyangka Perkci dagu-merah itu ada di Pulau Buru. Lha kok bisa? Forshaw mengutip tulisan Bemmel, sementara Bemmel salah mengartikan tulisan Vorderman yang dikutipnya.  Vorderman itu diceritai oleh seorang dokter yang mendapatkan Perkici dagu-merah dari Pulau Amblan dekat Pulau Buru .... bukan dari Pulau Buru. Samalah seperti pertunjukan Srimulat di mana ada dua orang yang memandangi pohon cempedak lantas yang seorang berkata .... "ini kayaknya pohon nangka", yang lantas segera dibantah oleh yang satunya "weeee guoblog .... ini bukan nangka, ini tomat".

Bagaimana sekarang nasib dari burung yang lantas diberi status keterancaman tertinggi ini? (Critically Endangered). Entahlah, tampaknya Pulau Buru memang masih harus dijelajahi kembali. Tempat Toxopeus menangkap burung dengan getah di pohon yang sedang berbunga di sebelah Barat Danau Rana perlu didatangi lagi mumpung hutannya belum habis dibabati untuk keperluan lain. Ada laporan dari seorang pekerja di perusahaan penebangan kayu pada tahun 1998 yang mengatakan ada yang menangkap seekor burung paruh bengkok kecil berwana hijau di sebelah Barat Danau Rana dan laporan begini juga masih perlu diperiksa kebenarannya. Hanya saja tampaknya Perkici buru yang perlu buru-buru dicari lagi belum juga diburu buru-buru oleh para peneliti .... mudah-mudahan tidak buru-buru diburu para pemburu dan keburu punah dari Pulau Buru .... yang berarti juga punah dari muka bumi.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 01:11 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, November 02, 2006
Lha ... Ketemuan Lagi

Pengumuman ini saya copy dan saya paste secara semena-mena dari blognya Pecas Ndahe, walaupun sudah minta ijin dari yang punya blog tapi kok rasanya tetap saja semena-mena....biarlah, toh dia juga semena-mena mengata-ngatai saya sebagai blogger kondang. Begini katanya :

Ini woro-woro, Ki Sanak. Para bloggers kondang, selebiritis blog, memerintahkan saya mengundang teman-teman sekalian untuk kopdar sekaligus halal bihalal. Mumpung ini bulan baik, mumpung masih dalam suasana Lebaran. Maunya untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi. Catat nih ....

Waktu      : Jumat, 3 November 2006
Jam         : 19.00 waktu
Tempat    : Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan, (persisnya di belakang pom bensin Senopati).

NB: Tentu saja kita nanti "yar-we", alias bayar dewe-dewe .... Big Smile

Siapa saja blogger kondang itu? Ada Paman Tyo, Budi Putra, Didats, Puji, Sir Ndobos, dan para dayang jelita seperti Dinda, Atta, Eny, Rara.

Sampean bisa kenalan, gojek kere, atau minta tanda tangan ke mereka. Sebagai batur, peladen, nanti saya akan bantu-bantu melayani sampean semua, Ki Sanak. Jangan sampai ndak datang ya. Seperti tagline iklan rokok itu, Nggak ada loe nggak rame!

Sampai jumpa.


Posted at 06:09 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Burned-out

Sudah berapa tahun sampeyan kerja? Sudah berapa kantor yang sampeyan kerjai? Seberapa sering sampeyan gonta-ganti kerjaan? Pernah dihinggapi bosan yang teramat sangat? Dalam setahun, berapa lama sampeyan kerja? Apa ada cita-cita sampeyan buat kerja "secukupnya" saja? Lha kok nanya terus, kapan ndobosnya? Lho...tanya lagi kan?

Dibandingkan dengan kebanyakan orang saya termasuk amat sangat beruntung dengan yang namanya pekerjaan. Saya ndak pernah mengalami yang namanya bikin surat lamaran, riwayat hidup dan segala macam pernak-pernik untuk melamar pekerjaan ... karena memang saya ndak pernah melamar. Pekerjaan yang saya miliki sekarangpun kata banyak orang sangat menyenangkan, lha wong hobi kok dibayar. Selain itu, pekerjaan saya ini juga telah mengantar saya berkeliling ke banyak tempat di dunia dan lagi-lagi dibayari. Secara materi, apa yang saya dapatkan juga cukup.

Lantas, kenapa pula sekarang saya berkeinginan untuk mencoba hal baru? Sifat dasar manusia yang tak kenal puas? rumput di halaman tetangga lebih hijau? Lelah? Egois? Ada keinginan yang belum tercapai? Faktor kejiwaan akibat usia? Buat saya, tampaknya merupakan gabungan dari semua itu. Lantas sebagai alasan bela diri bernada narsis keluarlah kalimat "tempat yang ada sekarang terlalu sempit untuk saya bereksplorasi". Kemlinthi pol !!!

Keluar dari sebuah zona yang terbilang nyaman bukan berarti saya bebas dari kekhawatiran. Entah ganjil atau tidak, saya menikmati kekhawatiran itu. Saya yakin para petualang di masa lalu juga merasa begitu setiap kali mereka melangkahkan kaki menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat asing. Kekhawatiran yang dulu selalu menyertai saya setiap kali saya menapakkan kaki memasuki pintu pesawat yang akan membawa saya ke negara yang jauh. Semua seperti sudah hilang, semua seperti sudah jadi rutinitas biasa saja. Ingin sekali rasanya pulang ke rumah dan lantas bisa berkata "saya menemukan sesuatu yang baru, begini ceritanya .....", dan lantas saya ndobos secara antusias semalam suntuk.


Posted at 01:34 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Wednesday, November 01, 2006
Buku Itu

Membaca tulisan Paman Tyo yang diberi judul Arthur Rimbaud di kota Saya sungguh menggugah saya untuk mencari buku Orang Indonesia & Orang Prancis yang dijadikannya bahan tulisan itu. Maka begitu ada kesempatan bepergian ke toko buku, itulah buku yang pertama saya cari, dan saya mendapatkannya. Hanya saja kebiasaan lama saya untuk langsung melihat-lihat gambar dan foto di dalam buku sebelum membaca bukunya tidak juga hilang.

Berlama-lama memandangi gambar-gambar tua tentang Indonesia bagi saya adalah sebuah kesenangan. Walaupun dalam buku tersebut kesenangan saya itu agak terusik karena berbagai hal yang bagi kebanyakan pembaca mungkin bukanlah hal yang penting, hanya soal ketepatan saja.

Tengoklah peta Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya (hal. 54) yang katanya berasal dari tahun 1620 (Sumatra et la peninsule malaise vers 1620). Lha kok petanya bergaya Digital Chart of the World dari abad 20, bukan bergaya seperti peta Hindia-Timur yang ada pada hal. 136? Walaupun tulisan dibuat bergaya tua, tetapi penulisan "Aceh", "Banten" dan "Java" sungguh tak lazim untuk penulisan nama-nama tempat tersebut pada zaman itu. Atjeh atau Achen lebih pas untuk Aceh, Bantam atau Bantan lebih klop untuk Banten dan Iava adalah cara penulisan yang sering dipakai pada peta kuno, bukan Java.

Pada hal. 152 tertulis "Pada 1752 VOC menerbitkan dengan sengaja peta pulau Bali yang terbalik. Sumber: Buku Francois Balentijn". Lho ... ndak terbalik kok petanya. Ah mungkin saja penulisnya alpa untuk melihat gambar arah mata angin pada peta yang arah Utaranya menunjuk ke bawah, bukan ke atas seperti lazimnya peta modern. Masalah pada gambar peta di hal. 236 lain lagi, tertulis pada keterangan gambar "Borneo, Maluku, dan Filipina . (Nukilan dari salah satu peta karya Duval terbitan 1665". Bingung saya mencari mana Borneo dan Filipinanya di peta itu. Peta itu menggambarkan Pulau Sulawesi (CELEBES), Pulau Halmahera (GILOLO), Pulau Seram dan Pulau Irian (OS PAPVAS). Mungkin tertukar dengan gambar peta yang ada di hal. 238.

Foto pada hal. 448 diberi keterangan "Seusai berburu harimau di di Jawa". Harimau jawa (Panthera tigris) saat ini hanya beritanya yang masih terdengar ada di sana-sini. Sudah punah? entahlah. Pada saat foto tersebut dibuat, Harimau jawa memang masih kerap dilihat wujudnya dan sering pula diburu, hanya saja yang ada di foto itu bukan Harimau jawa, itu Macan tutul (Panthera pardus) yang sampai sekarangpun masih berkeliaran di hutan-hutan di Pulau Jawa yang sudah tak banyak sisanya.

Foto di hal. 470 yang diberi keterangan "Seperangkat gammelang (gamelan) di "harem" Jawa". Lha kok kostum penari dan bentuk gamelannya itu dari Siam? Gambar di hal. 467 diberi keterangan "Tarian Bayaderes (Bedoyo) malam kami tiba di Surakarta". He he he ... asik juga kalau ada tarian bedoyo model begitu.

Ndobos kok nyinyir begini. Mbok ya cerita bagian apa yang langsung dibaca dari buku itu. Dua bagian yang sudah selesai saya baca. Bagian pertama adalah "Herman Willem Daendels. Jenderal Pilihan Napoleon yang Menjadi Gubernur di Jawa (1808-1811)". Sampai sekarang saya masih ngebet buat menelusuri jalan Daendels dari Anyer sampai ke Panarukan, sembari nge-blog selama menelusuri jalan itu. Ada yang berminat menemani?

Bagian ke dua adalah "Raden Saleh, Seorang Pelukis Indonesia, Diterima di Paris oleh Raja Prancis, Louis-Philippe d'Orléans (1845-1848). Lukisan Raden Saleh yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro adalah salah satu lukisan kesukaan saya, walaupun saya belum pernah melihat lukisan aslinya. Hanya saja, lukisan tersebut tidak dipampangkan dalam buku ini. Malah ada lukisan yang selalu membuat saya tersenyum-senyum, "Berburu Singa di Jawa" yang katanya laku terjual di Cologne, Jerman, dengan harga 805.000 Euro. Apa harganya yang selangit itu yang bikin senyum? Bukan ... tapi sejak kapan di Jawa ada singa?

Lepas dari kecerewetan saya yang ndak perlu itu, senang sekali akhirnya saya bisa membaca buku ini. Untuk Paman Tyo, nanti kalau sudah rampung buku ini saya baca mungkin saya tertarik juga untuk membaca buku tentang Orang itu (Bacaan Selagi Prei), lha wong sekarang ini saya lagi prei kok.


Posted at 01:30 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Tuesday, October 31, 2006
Barat Timur Utara Selatan

Kalimat-kalimat promosi yang menjadikan "Barat" sebagai tolok ukur sering kali didengungkan. Kalimat bernada sanjungan juga demikian. Lantas "Barat" juga dijadikan padanan untuk kemajuan, modern. Produk jamu dari "Timur" mendadak jadi layak tenggak jika sudah mulai dikonsumsi di "Barat". Pokoknya kalau barang itu sudah ada stempel dari "Barat" mesti oye, ndak perlu ragu, ini ai punya barang bagus punya, tak mahal lagi, you bisa cek toko sebelah dah. Tambahan lagi, kagak malu-maluin, gengsi terjaga.

Mari kita bergeser mata angin. "Utara" adalah tempat yang menjadi simbol kemapanan hidup dan "Selatan" identik dengan tempat kemalangan hidup. Parameter seperti penghasilan per kepala per tahun lantas dijadikan tolok ukur kekayaan dan lantas kesejahteraan. Weiiittt ... sebentar, sebentar, kekayaan?! Lha apan waktu masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah dulu, guru-guru yang saya hormati dengan sungguh itu mengatakan betapa kayanya negara kita yang berlabel "Timur" dan "Selatan". Sangking kayanya, kalau ditanya kita itu punya apa sih sehingga dibilang kaya raya ndak umum, yang ditanya bingung juga dan lantas jawaban gampang yang disusul dengan pertanyaan keluar "apa-apa ada, itu ikan dan udang saja menghampiri dirimu (nyontek Koes Plus), kamu maunya apa?."

Pelabelan model begini, "Utara", "Selatan", "Barat" dan "Timur" memang penggebyah uyahan yang agak serampangan. Toh ada negara "Timur" dan "Selatan" yang juga kaya berdasarkan parameter kekayaan yang lumrah dipakai. Hanya saja yang kadang bikin saya ndak mudeng, itu "Utara", "Selatan", "Barat" dan "Timur" lha tengahnya di mana? Jika hendak mengikuti garis lintang dan bujur yang umum digunakan sekarang (medirian Greenwich), titik tengahnya bumi ada dua!!! Titik pertama adanya di lepas pantai Barat Afrika, sekitar 600-an kilometer sebelah Selatan Ghana atau sekitar 1000-an km sebelah Baratnya Gabon. Lantas, kalau dari titik itu dibor lurus sampai tembus ke titik ke dua, munculnya di suatu tempat di Lautan Teduh sana.

Lha...lantas saya ini mau ngomong apa toh? Ndak tahu juga, ini di depan saya ada peta dunia, atlas sederhana .... bumi rata. 


Posted at 02:48 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Monday, October 30, 2006
Ayo Dicicipi ... Sedikit Saja ...

Tiap kali lebaran ada satu hal yang "menyiksa" saya selain kemacetan lalu lintas *dalam gaya nyinyir*. Walaupun saya itu suka makan, apalagi sudah lama tak mengicipi masakan Indonesia, berat juga rasanya bolak-balik dipaksa makan hindangan standard lebaran sebangsanya opor ayam, sambel goreng ati, ketupat dan konco-konconya itu. Bukan karena saya kurang bersyukur padahal sudah diberi rejeki seperti itu, lagi pula toh tinggal menyuap saja. Akan tetapi, panjang usus saya itu bukannya tak berhingga seperti panjangnya kasih ibu kepada beta, rongga perut juga ada batasnya, walaupun lubang ikat pinggang sudah pindah dua lubang dan kalau mau tambah nyinyir, indra pengecap ini sampai hapal rasa makanan sebelum makanan masuk ke mulut.

Lantas, saya jadi menebak-nebak, bagaimana para peragawati, peragawan, foto model dan para insan wajib diet itu menyiasati lebaran. Bagaimana cara paling sopan untuk menolak hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah yang disambangi. Kalaupun akhirnya dengan jurus sejuta kelit, makanan bisa dihindari, lha minuman suguhan apa ya bisa juga tak disentuh? Perut asem dijejali kopi, kembung dijejali teh.

Sampeyan bagaimana? berapa kilogram makanan dan berapa liter air yang masuk perut dalam satu hari kunjungan?


Posted at 06:43 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Friday, October 27, 2006
Celepuk siau

Seribu Intan nomer 3

Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.   Celepuk termasuk dalam keluarga burung yang walupun bertampang imut tetap saja diberi nama seram, burung hantu. Sifatnya yang aktif pada malam hari dan suaranya yang memicu berdirinya bulu tengkuk menyebabkan burung "lucu" ini lantas diasosiasikan dengan hantu. Sesungguhnya tak ada keseraman pada burung yang satu ini kecuali nasibnya yang agak-agak menakutkan karena Celepuk siau tidak lagi pernah terlihat sejak ia pertama kali dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1866.

Celepuk siau (Otus siaoensis) di dunia ini diketahui hanya hidup di satu pulau kecil yang bernama Pulau Siau di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Siau yang kecil saat ini memiliki luas hutan yang sudah sangat sempit dan karena itu pulalah celepuk yang satu ini lantas dikategorikan ke dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis, Critically Endangered. Ukurannya yang kecil (hanya 17 cm), tempat hidupnya di sebuah pulau yang sangat terpencil dan jarang terdengar namanya, serta sifat hidupnya yang hanya aktif di malam hari, mungkin menjadi sebab kenapa celepuk yang satu ini sudah tak pernah lagi terlihat sejak ia ditemukan pertama kali 140 tahun yang lalu.

Hingga tahun 1995  rumah (habitat) Celepuk siau diketahui masih ada di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau tetapi hutan yang sudah tinggal sedikit itupun lantas ditebangi pada tahun 1998 untuk dijadikan lahan pertanian. Selain di sekitar Danau Kepetta masih ada hutan seluas 50 ha yang masih tersisa di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau dan gunung tersebut hanya bisa didatangi melalui Desa Lai yang ada di bagian Barat Pulau Siau.

Beberapa ahli burung masih berspekulasi kalau celepuk satu ini mungkin juga ada di Pulau Tagulandang yang terletak di sebelah Selatan Pulau Siau. Kalaupun ternyata benar adanya, hutan di Pulau Tagulandang juga sudah sama hancurnya dengan hutan di Pulau Siau. Kalau sampeyan berkesempatan berkunjung ke dua pulau tersebut, kesempatan untuk menjadi selebritis di dunia perburungan bisa terbuka lebar jika sampeyan bisa sampai menemukan burung yang satu ini. Tidak heran jika jenis burung yang satu ini termasuk salah satu jenis burung yang paling diincar untuk di lihat oleh para penggemar intip-intip burung di alam bebas (birdwatcher) dari seluruh dunia.

Jika sampeyan sangat berminat untuk menjadi pesohor di dunia perburungan, sebagai langkah awal menuju ketenaran adalah membuka peta Indonesia dan mencari di mana Pulau Siau itu berada. Cari pulau tempat hidupnya saja sulit apalagi nyari burungnya.  Mungkin untuk perkara yang satu ini diperlukan pemburu hantu beneran, tanpa keris, kemenyan atau lisong.

Gambar diambil dari sini.

 

Posted at 09:02 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, October 20, 2006
Lebaran


SELAMAT IDUL FITRI 1427 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


Untuk beberapa hari ke depan saya prei nulis dulu. Saya mau menyambangi orang-orang penting dan ndak elok rasanya kalau kunjungan tersebut saya selingi dengan mengunjungi warnet.

Posted at 03:21 pm by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Cikalang christmas

Seribu Intan nomer 2

Bintang burung kali ini adalah burung yang kadang terlihat melayang-layang senang di Indonesia, perampok ulung, penggemar ikan terbang dan cumi-cumi, penerbang ulung tukang klayapan, dan terancam punah karena semut. Cikalang christmas (Fregata andrewsi) yang hanya berbiak (bercumbu, bersarang, bertelur) dan merawat anak di sebuah Pulau kecil di selatan Pulau Jawa yang dahulu terkenal sebagai tempat berjudinya orang-orang Indonesia, di tempat yang benama Pulau Christmas. Walaupun pulau tersebut dekat-dekat saja dari Pulau Jawa, tetapi Pulau tersebut miliknya Australia. Ironisnya, burung ini justru jarang terlihat di daratan utama Benua Australia.

Cikalang christmas saat ini dikategorikan sebagai burung terancam punah dengan kategori keterancaman tertinggi, Kristis (Critically Endangered). Bersarang di pohon-pohon jangkung tak menjamin nasib baik. Hingga tahun 1987 telur burung ini sering jadi sasaran para pekerja tambang fosfat (phospate) di Pulau Christmas, ya untuk disantap, rebus, ceplok atau dadar ... silahkan pilih. Pengambilan telur lantas dilarang dan pada tahun 1989 dan sebuah Taman Nasional dibuat di kawasan tempat burung ini berbiak. Aman? belum! Lepas dari manusia sekarang giliran semut yang hingga sekarang menjadi ancaman terbesarnya. Semut gila berwarna kuning - Crazy Yellow Ant (Anoplolepis gracilipes) membuat burung ini "kesemutan", sarangnya dirambah dan anaknya disantap. Semut masuk ke Pulau Christmas karena dibawa manusia dan ternyata susah sangat diberantasnya karena semut satu ini mampu membentuk super-koloni, kagak ada matinya.

Tidak seperti manusia yang bisa bikin anak kapan mau dan kapan hasrat mengundang (lha kok lantas dibilang kecelakaan ya?), burung ini hanya berbiak dua tahun sekali dan anaknya juga cuma satu atau paling banyak dua sekali berbiak. Biasanya dimulai pada bulan Desember, burung jantan mulai memperlihatkan kejantanannya menarik betina dengan gelambir merah di lehernya yang diisi udara sehingga membentuk balon merah. Betina mulai bertelur sekitar bulan Maret hingga pertengahan Mei dan mengerami anaknya selama 40 harian. Anak yang menetas masih harus dirawat dan untuk burung, perawatan anak Cikalang christmas relatif lama, 15 bulan baru disapih. Pada masa-masa inilah burung sangat rentan terhadap serangan semut. Dirubung semut sampai mati ... sinetron horor Indonesia pernah bikin yang begini ndak ya?

Sudahlah, tak usahlah bicara soal kematian yang mengerikan, bicara soal makan saja. Makanan kegemaran burung ini adalah ikan terbang dan cumi-cumi, walaupun ia juga menyantap ikan jenis lain termasuk bangkai ikan. Jika menangkap ikan paling banter hanya kepalanya saja yang nyelup di air, biasanya hanya paruhnya saja. Burung ini juga memiliki kemampuan sebagaimana perompak lanun, tak segan-segan ia menyerang burung lain yang membawa ikan untuk merebut ikannya. Ikan yang terlepas dari paruh pemilik yang sah lantas disambar di udara.

Burung ini sering mencari makan di tempat-tempat yang jauh dari rumahnya, Seekor burung yang lantas diberi nama Lydia (mestinya betina ini) yang diberi pemancar untuk dapat dipantau pergerakannya dengan satelit menunjukan sejauh apa burung ini bisa terbang (lihat peta di bawah). Lho ... klayapan di Indonesia.


Tetapi teman-teman Lydia jauh lebih dahsyat kluyurannya. Cikalang christmas tercatat pernah dilihat di China bagian selatan, India, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei dan Indonesia. Kok ya jauh-jauh sih cari makan? (look who's talking). Walaupun mampu kluyuran jauh sebenarnya Cikalang christmas lebih suka mencari makan di dekat-dekat rumahnya saja. Sederhana saja masalahnya, lha siapa yang mau kluyuran jauh-jauh cari makan kalau di dekat rumahnya ada banyak makanan yang mudah diperoleh ... ya nggak ya nggak?

Foto © John Brodie-Good/Wildwings diambil dari sini.
Peta © Parks Australia diambil dari sini.


Posted at 05:20 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, October 19, 2006
Buceri LKMD

Menjadi orang yang fakir fashion, tak sadar mode, tidak modis , terkadang bikin ndak enak juga. Saya termasuk golongan itu dan sebagai warga dari sebuah negara di mana yang kasat mata itu jadi acuan, tersisih dari perhatian adalah konsekuensi. Soal lantas menjadi jengkel karena tersisih tergantung situasinya, karena ada kalanya saya tak ingin diganggu oleh tatapan, misalnya jika sedang buang hajat kecil di wc umum. Tetapi di saat lain, saya ingin ditatap, dipandang, diperhatikan dan tidak disepelekan. Tak elok rasanya jika saya sedang hendak membeli barang, penjaga barang dagangan sibuk bergunjing cekikikan dengan rekannya, walaupun saya sudah pasang posisi bergaya segagah Bima.

Disepelekan karena penampilan jamak saya alami. Manakala bepergian dan tiket di tangan bertuliskan "business class" dan saya mengantri tertib di lorong yang semestinya, entah kenapa saya selalu diminta untuk menunjukan tiket saya oleh sang penjaga antrian, sementara pengantri yang lain tidak. Manakala saya memasuki ruang tunggu keberangkatan di bandara yang penuh dengan makanan dan minuman gratis (juga sambungan internet gratis), kenapa saya harus selalu melalui proses ditatap dari ujung kepala hingga ujung kaki? setampan itukan saya? Tak mengapa jika tatapan itu dibarengi dengan senyum dikulum yang tulus, jengah rasanya jika dibarengi dengan kerutan di dahi dan ini yang paling sering terjadi.

"Dandananmu itu bukan untuk kelas yang dilayani, mbok dandan sana", begitu seorang teman pernah berpetuah. Maka pada suatu ketika petuah tersebut saya coba, walaupun ada rasa tak nyaman. Rambut tersisir rapih, baju berdasi, berjas gelap khas eksekutif muda, sepatu nan berkilau. Semua perhatian yang saya inginkan seolah datang menyerbu, tak ada yang menanyakan tiket di antrian, senyum ramah menyambut kedatangan saya di ruang tunggu, dan penjaga toko bebas bea itu cepat menghampiri. Nyaman? tidak juga, istri saya menatap dengan dahi berkerut sambil menyelidik "mau ke mana???"

Dua gaya penampilan dan keduanya berujung sama. Mungkin saya harus mengambil jalan tengah, tetap berdandan santai tetapi benahi bagian wajah. Rambut saya yang mulai ada warna hitamnya itu mungkin perlu diwarnai berbeda .... pirang misalnya? Ah ... nonanananias  tentunya akan senang memanggil saya buceri (bule ngecet sendiri) nantinya, dan komentar sumir sejenis seperti yang ditulis di sini dan saya disebut LKMD .... Londo Kok Mung nDhase.


Posted at 11:35 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Next Page