Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Monday, November 06, 2006
Rambut Hidung

Tiba di London pagi tadi jam lima pagi lebih sedikit waktu GMT disambut cuaca khas Inggris, dingin dan berkabut. Tubuh yang masih terbiasa dengan udara tropis yang hangatnya suam-suam kuku memaksa saya langsung membongkar isi koper begitu koper muncul di conveyor belt barang, untuk mengambil baju hangat serta tutup kepala. Maklum saja suhu di luar itu 3 derajat Celcius di atas titik beku, bandingkan dengan Bogor yang pada saat saya tinggalkan bersuhu sekitar 29 derajat Celcius. Tanpa baju hangat dan penutup kepala, saya bisa jadi es loli berjalan di luar sana pada saat menunggu bus.

Ada satu bagian tubuh saya yang sangat rentan terhadap serangan hawa dingin yang sedihnya tidak bisa ditutup. Hidung. Pada keadaan ekstrim darah bisa mengucur deras dari hidung saya jika suhu terlalu dingin (atau terlalu panas). Beruntung sekali saya memiliki hidung dengan rambut hidung yang lumayan gondrong, dan ini sangat membantu untuk menjaga rongga dalam hidung tetap hangat dan lembab sehingga pembuluh darah tidak pecah dan darah mengalir ke luar. Rambut hidung? kok bukan bulu hidung? Buat saya bulu itu ya seperti yang dimiliki oleh burung, dan yang ada di rongga hidung saya itu rambut.

Ada banyak orang yang dengan alasan estetika, mencukur atau mencabut rambut hidungnya, biar rapih katanya. Padahal rambut hidung itu berfungsi untuk menyaring partikel halus di udara agar tidak masuk ke paru-paru dan untuk menjaga kelembaban rongga dalam hidung. Partikel halus yang terperangkap di rambut hidung pada proses lanjutan akan diselaputi lendir, dan lendir yang mengering itulah yang dikenal dengan upil. Pada tahapan selanjutnya upil tadi dikeluarkan secara alami ataupun keluar dengan paksa (melalui proses ngupil) ... kotoran terbuang.

Lantas soal menjaga kelembaban hidung, begini ceritanya. Pada saat kita mengeluarkan nafas, udara yang mengandung air melewati rambut-rambut hidung, dan udara yang mengandung air itu sebagian terperangkap oleh rambut-rambut sehingga rongga hidung tetap lembab. Jika rambut hidung digunduli, uadar akan bablas langsung keluar tanpa hambatan dan akibatnya rongga hidung bisa kering kerontang. Dingin, kering, pecahlah pembuluh darah di rongga hidung dan darah bocor keluar ... mimisan.

Pagi tadi, saya tidak mimisan, terima kasih pada rambut hidung yang gondrong. Penggundulan paksa rambut hidung tampaknya tak cocok untuk saya. Tanpa rambut hidung saya bisa mimisan dahsyat dan .... bisa-bisa ndak punya upil.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 09:48 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Sunday, November 05, 2006
Foto-Foto Saja

Cuma mau majang foto ketemuan kemarin itu di Omah Sendok.

   
   
   
   

Posted at 09:39 pm by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Saturday, November 04, 2006
Gambar Malu-Malu

Monyet-monyet lucu bermain di tajuk-tajuk pohon, tangan, kaki dan ekornya bergantian memegang dahan. Mereka sedang lengah ... tiba-tiba mahluk terbang dengan panjang satu meter berbentang sayap 2 meter menyambar secepat sinar (*berlebihan*). Hari itu monyet-monyet itu kehilangan satu kawan main mereka, yang menjadi santapan siang sang burung perkasa, Elang Harpy (Harpy Eagle). Tak ada urusan dengan soal kejam-kejaman di cerita itu, ini adalah masalah bertahan hidup di belantara Amerika. Lengah di tajuk pohon disambar Harpy, lengah di tanah jadi santapan Jaguar, tak waspada di pinggiran kali ada buaya Caiman, berleha-leha di rawa bakal remuk dalam pelukan Anaconda.

Harpy Eagle (Harpia harpyja) adalah elang terbesar ke dua di dunia setelah Philippine Eagle (Pithecophaga jefferyi), dan dia adalah raja udara di Amerika Tengah dan Selatan mulai dari Mexico hingga ke Timur Laut Argentina. Burung betina lebih besar dari yang jantan dan mampu mengangkut mangsa hingga 6 kilogram . Tak hanya monyet yang menjadi makanannya, Coati yang imut hingga Sloth yang pemalas bakal dijadikan menu makannya jika tidak waspada.

Seperti hanya elang-elang besar lainnya, Harpy tak rajin bertelur, hanya satu saja setiap 2 hingga 3 tahun. Anaknya harus dijaga selama 6 bulan pertama dan masih diberinya makan hingga bulan ke 16 dan setelahnya, anak Harpy harus menjadi burung yang mandiri, cari makan sendiri, mencari pasangan dan melanjutkan kelangsungan keberadaan Harpy di muka bumi. Hanya saja, pohon-pohon besar untuk tempatnya bersarang dibabati, Harpy sendiri diburu dengan bedil dan sumpit dan burung raksasa ini makin tak mudah hidupnya. Dalam daftar burung-burung terancam punah di dunia, Harpy tak terdaftar, belum tepatnya, statusnya masih berada di ambang batas, mendekati terancam punah. Luasnya daerah sebaran dan hutan Amazon yang masih mampu tegak walaupun sudah doyong atau bahkan sudah bersih di sana-sini, seolah menjadi benteng bagi Harpy untuk tetap bertahan. 

Begitulah sedikit cerita soal Harpy. Lha saya ndobos soal burung yang tidak ada di Indonesia dan di luar hari Jum'at ini gara-gara dikirimi gambar Harpy oleh dokter hewan tukang komik, yang katanya kertasnya sudah dikuwel-kuwel mau dibuang. Tak banyak artis penggambar hewan apalagi gambar burung di Indonesia. Kalau hanya melukis burung untuk hiasan mungkin banyak, tetapi untuk kepentingan ilmiah dan untuk keperluan mengamati burung, bisa dihitung dengan sebelah jari-jari tangan. Seorang teman lain gambar burungnya malah nggilani pol detailnya dan saya yakin itu gambarnya sudah berkelas dunia. Hanya saja, para pelukis hewan begini masih malu-malu memajang hasil karyanya padahal ada banyak orang yang membutuhkan keahlian mereka itu.

Jika seorang pengamat burung (birdwatcher) pergi mengintip-intip burung (birdwatching) mereka selalu membawa buku panduan lapangan (field guide) yang berisi gambar-gambar burung dan ciri-ciri untuk mengenali burung yang dilihatnya. Tidak seperti kebanyakan negara lain yang memerlukan satu field guide untuk seluruh burung di negara itu, Indonesia memerlukan tiga, sangking banyaknya jumlah spesies burung yang ada di Indonesia. Tiga field guide yang paling banyak dipakai itu, semua gambar burungnya dilukis oleh orang bukan dari Indonesia dan ditulis juga bukan oleh orang Indonesia. Untuk buku yang digunakan di Indonesia bagian Barat, bukunya malah sudah tak ada lagi dijual di Indonesia, habis!!!

Lha kok orang Indonesia ndak ada yang bikin field guide? Alasannya klasik (bisa juga dibaca: basi), ndak punya modal (uang maksudnya). Tambahan lagi itu para tukang gambarnya ya masih malu-malu, malah ada yang mau membuang gambarnya. Sementara para penulis naskah untuk field guide? waaaah ini lebih parah lagi, malah sibuk ndobos ndak karu-karuan, termasuk ndobos soal kemalu-maluan para tukang nggambar burung itu.

Gambar oleh Tito.


Posted at 10:17 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Idola

Anak saya yang paling kecil sekarang punya idola baru, ini hasil ketemuan kemarin malam beberapa blogger di Omah Sendok yang lantas diteruskan di warung pinggir jalan di Menteng karena Omah Sendoknya sudah harus tutup (sudah terjadi dua kali dari dua kunjungan). Idola baru anak saya itu dua sekaligus, dan dua-duanya perempuan. Perlu digarisbawahi di sini bahwa hal tersebut bukan karena faktor keturunan, paling tidak dari sisi saya, entah kalau dari Ibunya. Saya dulu semasa kecil ya punya beberapa idola, tapi tidak pernah sekaligus dua. Sampai pagi tadi anak saya itu masih bercerita dengan bersemangat tentang bincang-bincangnya dengan dua idola barunya itu, dan dia menyebut mereka secara kolektif sebagai "tante yang asik".

Punya idola adalah kejadian yang lumrah, pada tingkat yang lebih tinggi idola lantas menjadi panutan yang sering ditiru habis-habisan dari mulai cara bicara hingga cara berdandan. Personifikasi, ingin seperti atau menjadi idolanya, paling tidak pada tampak luar. Katanya sih itu tahapan wajar pada saat manusia sedang mencari jati dirinya (kenapa namanya jati diri ya? bukan sengon diri, randu diri atau beringin diri?). Dalam dunia hiburan dan olah raga, para pelakunya sering kali dijadikan idola dan kehidupan sang pelaku lantas dibongkar habis-habisan untuk memenuhi rasa ingin tahu banyak orang. Para pengidola lantas memburu apa-apa yang ada kaitannya dengan sang idola yang sebagian merupakan hasil bongkar-bongkar kehidupan pribadi sang idola tadi. Untuk apa? ya untuk ditiru, untuk merasa dekat dan pada tataran tertinggi ... untuk menjadi. Untuk kasus anak saya tadi, saya berdoa dengan keras agar anak saya tidak lantas bergaya bicara dan berdandan seperti tante yang asik itu ... lha wong anak saya itu laki-laki je.


Lantas, bagaimana dengan dua tante asik itu tadi? Entahlah, walaupun tampaknya mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak saya yang selalu nempel itu. Mungkin juga mereka senang. Lho? senang?! ... iya lah secara anak saya itu brondong gitu loh, yang masih layak menerima cubitan dan ciuman gemas .... sedih gak sih gue? *meniru gaya bicara tante asik*


Posted at 03:36 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, November 03, 2006
Perkici buru

Seribu Intan nomer 4

Burungnya bertubuh mungil, tak sampai sejengkal orang dewasa, hanya 16 cm saja dengan tubuh nyaris hijau seluruhnya, kecuali purutnya yang sedikit kekuningan, pangkal ekor bagian bawahnya berwarna merah dan jidatnya sedikit berwarna biru, yang membuatnya diberi nama Inggris Blue-fronted Lorikeet, diberi nama Indonesia Perkici buru dan bernama latin Charmosyna toxopei. Perkici termasuk dalam keluarga burung berparuh bengkok (Parrot) yang juga terdiri dari kakatua, nuri dan betet. Perkici buru hanya diketahui hidup di pulau kecil dengan reputasi besar, Pulau Buru.

Istimewanya lagi (dalam artian sedih) burung ini tidak pernah terlihat lagi secara pasti sejak pertama kali "ditemukan" oleh seorang penjelajah berkebangsaan Belanda pada tahun 1921. Penjelajah ini lahir pada tanggal 8 September 1894 di Tuban, Jawa Timur dan meninggal karena ditabrak mobil di Bandung pada tanggal 21 Maret 1951, Lambertus Johannes Toxopeus, yang semasa hidupnya pernah menjadi profesor zoology (ilmu hewan) di Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Sekedar catatan, Toxopeus bukan seorang ahli burung (ornithologist), dia dikenal sebagai ahli serangga terutama kupu-kupu.

Kembali ke Perkici buru, burung ini tampaknya hanya terdapat di sebelah Barat Sungai Rana di Pulau Buru, tak jauh dari lokasi yang dikunjungi oleh Toxopeus. Penduduk sekitar menamainya "utu papua" dan mereka mengatakan burung ini memakan madu dan serbuk sari terutama dari bunga pohon "hanimura". Informasi ini berasal dari pertengahan 1990-an (1995-1996) pada saat beberapa anak-anak muda Indonesia dan seorang dari Denmark menjelajahi Buru (Bung Yan, Bung David ... masih ingat kah ale dengan Kapalat Mada?). Burungnya sendiri tak kelihatan wujudnya.

Sebelumnya ada laporan penampakan burung ini di pantai Utara Pulau Buru bagian Barat, dari sekitar Teluk Bara dan Smiet sang pelapor mengatakan burungnya cukup umum di perkebunan, di hutan sekunder dan hutan primer. Hanya saja laporan Smiet ini lantas jadi bahan perdebatan sengit. Peneliti yang mengunjungi tempat di mana Smiet menjumpai burung ini, tak pernah melihat burung ini. Ada yang mengatakan bahwa Smiet hanya melihat satu ekor saja pada bulan November 1980, sementara seseorang bernama Forshaw meragukan hasil identifilasi Smiet dengan mengatakan apa yang dia lihat itu bukan Perkici buru tapi Perkici dagu-merah (Charmosyna placentis). Hanya saja Forshaw ya rada ngawur juga, karena dia menyangka Perkci dagu-merah itu ada di Pulau Buru. Lha kok bisa? Forshaw mengutip tulisan Bemmel, sementara Bemmel salah mengartikan tulisan Vorderman yang dikutipnya.  Vorderman itu diceritai oleh seorang dokter yang mendapatkan Perkici dagu-merah dari Pulau Amblan dekat Pulau Buru .... bukan dari Pulau Buru. Samalah seperti pertunjukan Srimulat di mana ada dua orang yang memandangi pohon cempedak lantas yang seorang berkata .... "ini kayaknya pohon nangka", yang lantas segera dibantah oleh yang satunya "weeee guoblog .... ini bukan nangka, ini tomat".

Bagaimana sekarang nasib dari burung yang lantas diberi status keterancaman tertinggi ini? (Critically Endangered). Entahlah, tampaknya Pulau Buru memang masih harus dijelajahi kembali. Tempat Toxopeus menangkap burung dengan getah di pohon yang sedang berbunga di sebelah Barat Danau Rana perlu didatangi lagi mumpung hutannya belum habis dibabati untuk keperluan lain. Ada laporan dari seorang pekerja di perusahaan penebangan kayu pada tahun 1998 yang mengatakan ada yang menangkap seekor burung paruh bengkok kecil berwana hijau di sebelah Barat Danau Rana dan laporan begini juga masih perlu diperiksa kebenarannya. Hanya saja tampaknya Perkici buru yang perlu buru-buru dicari lagi belum juga diburu buru-buru oleh para peneliti .... mudah-mudahan tidak buru-buru diburu para pemburu dan keburu punah dari Pulau Buru .... yang berarti juga punah dari muka bumi.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 01:11 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, November 02, 2006
Lha ... Ketemuan Lagi

Pengumuman ini saya copy dan saya paste secara semena-mena dari blognya Pecas Ndahe, walaupun sudah minta ijin dari yang punya blog tapi kok rasanya tetap saja semena-mena....biarlah, toh dia juga semena-mena mengata-ngatai saya sebagai blogger kondang. Begini katanya :

Ini woro-woro, Ki Sanak. Para bloggers kondang, selebiritis blog, memerintahkan saya mengundang teman-teman sekalian untuk kopdar sekaligus halal bihalal. Mumpung ini bulan baik, mumpung masih dalam suasana Lebaran. Maunya untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi. Catat nih ....

Waktu      : Jumat, 3 November 2006
Jam         : 19.00 waktu
Tempat    : Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan, (persisnya di belakang pom bensin Senopati).

NB: Tentu saja kita nanti "yar-we", alias bayar dewe-dewe .... Big Smile

Siapa saja blogger kondang itu? Ada Paman Tyo, Budi Putra, Didats, Puji, Sir Ndobos, dan para dayang jelita seperti Dinda, Atta, Eny, Rara.

Sampean bisa kenalan, gojek kere, atau minta tanda tangan ke mereka. Sebagai batur, peladen, nanti saya akan bantu-bantu melayani sampean semua, Ki Sanak. Jangan sampai ndak datang ya. Seperti tagline iklan rokok itu, Nggak ada loe nggak rame!

Sampai jumpa.


Posted at 06:09 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Burned-out

Sudah berapa tahun sampeyan kerja? Sudah berapa kantor yang sampeyan kerjai? Seberapa sering sampeyan gonta-ganti kerjaan? Pernah dihinggapi bosan yang teramat sangat? Dalam setahun, berapa lama sampeyan kerja? Apa ada cita-cita sampeyan buat kerja "secukupnya" saja? Lha kok nanya terus, kapan ndobosnya? Lho...tanya lagi kan?

Dibandingkan dengan kebanyakan orang saya termasuk amat sangat beruntung dengan yang namanya pekerjaan. Saya ndak pernah mengalami yang namanya bikin surat lamaran, riwayat hidup dan segala macam pernak-pernik untuk melamar pekerjaan ... karena memang saya ndak pernah melamar. Pekerjaan yang saya miliki sekarangpun kata banyak orang sangat menyenangkan, lha wong hobi kok dibayar. Selain itu, pekerjaan saya ini juga telah mengantar saya berkeliling ke banyak tempat di dunia dan lagi-lagi dibayari. Secara materi, apa yang saya dapatkan juga cukup.

Lantas, kenapa pula sekarang saya berkeinginan untuk mencoba hal baru? Sifat dasar manusia yang tak kenal puas? rumput di halaman tetangga lebih hijau? Lelah? Egois? Ada keinginan yang belum tercapai? Faktor kejiwaan akibat usia? Buat saya, tampaknya merupakan gabungan dari semua itu. Lantas sebagai alasan bela diri bernada narsis keluarlah kalimat "tempat yang ada sekarang terlalu sempit untuk saya bereksplorasi". Kemlinthi pol !!!

Keluar dari sebuah zona yang terbilang nyaman bukan berarti saya bebas dari kekhawatiran. Entah ganjil atau tidak, saya menikmati kekhawatiran itu. Saya yakin para petualang di masa lalu juga merasa begitu setiap kali mereka melangkahkan kaki menaiki kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat asing. Kekhawatiran yang dulu selalu menyertai saya setiap kali saya menapakkan kaki memasuki pintu pesawat yang akan membawa saya ke negara yang jauh. Semua seperti sudah hilang, semua seperti sudah jadi rutinitas biasa saja. Ingin sekali rasanya pulang ke rumah dan lantas bisa berkata "saya menemukan sesuatu yang baru, begini ceritanya .....", dan lantas saya ndobos secara antusias semalam suntuk.


Posted at 01:34 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Wednesday, November 01, 2006
Buku Itu

Membaca tulisan Paman Tyo yang diberi judul Arthur Rimbaud di kota Saya sungguh menggugah saya untuk mencari buku Orang Indonesia & Orang Prancis yang dijadikannya bahan tulisan itu. Maka begitu ada kesempatan bepergian ke toko buku, itulah buku yang pertama saya cari, dan saya mendapatkannya. Hanya saja kebiasaan lama saya untuk langsung melihat-lihat gambar dan foto di dalam buku sebelum membaca bukunya tidak juga hilang.

Berlama-lama memandangi gambar-gambar tua tentang Indonesia bagi saya adalah sebuah kesenangan. Walaupun dalam buku tersebut kesenangan saya itu agak terusik karena berbagai hal yang bagi kebanyakan pembaca mungkin bukanlah hal yang penting, hanya soal ketepatan saja.

Tengoklah peta Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya (hal. 54) yang katanya berasal dari tahun 1620 (Sumatra et la peninsule malaise vers 1620). Lha kok petanya bergaya Digital Chart of the World dari abad 20, bukan bergaya seperti peta Hindia-Timur yang ada pada hal. 136? Walaupun tulisan dibuat bergaya tua, tetapi penulisan "Aceh", "Banten" dan "Java" sungguh tak lazim untuk penulisan nama-nama tempat tersebut pada zaman itu. Atjeh atau Achen lebih pas untuk Aceh, Bantam atau Bantan lebih klop untuk Banten dan Iava adalah cara penulisan yang sering dipakai pada peta kuno, bukan Java.

Pada hal. 152 tertulis "Pada 1752 VOC menerbitkan dengan sengaja peta pulau Bali yang terbalik. Sumber: Buku Francois Balentijn". Lho ... ndak terbalik kok petanya. Ah mungkin saja penulisnya alpa untuk melihat gambar arah mata angin pada peta yang arah Utaranya menunjuk ke bawah, bukan ke atas seperti lazimnya peta modern. Masalah pada gambar peta di hal. 236 lain lagi, tertulis pada keterangan gambar "Borneo, Maluku, dan Filipina . (Nukilan dari salah satu peta karya Duval terbitan 1665". Bingung saya mencari mana Borneo dan Filipinanya di peta itu. Peta itu menggambarkan Pulau Sulawesi (CELEBES), Pulau Halmahera (GILOLO), Pulau Seram dan Pulau Irian (OS PAPVAS). Mungkin tertukar dengan gambar peta yang ada di hal. 238.

Foto pada hal. 448 diberi keterangan "Seusai berburu harimau di di Jawa". Harimau jawa (Panthera tigris) saat ini hanya beritanya yang masih terdengar ada di sana-sini. Sudah punah? entahlah. Pada saat foto tersebut dibuat, Harimau jawa memang masih kerap dilihat wujudnya dan sering pula diburu, hanya saja yang ada di foto itu bukan Harimau jawa, itu Macan tutul (Panthera pardus) yang sampai sekarangpun masih berkeliaran di hutan-hutan di Pulau Jawa yang sudah tak banyak sisanya.

Foto di hal. 470 yang diberi keterangan "Seperangkat gammelang (gamelan) di "harem" Jawa". Lha kok kostum penari dan bentuk gamelannya itu dari Siam? Gambar di hal. 467 diberi keterangan "Tarian Bayaderes (Bedoyo) malam kami tiba di Surakarta". He he he ... asik juga kalau ada tarian bedoyo model begitu.

Ndobos kok nyinyir begini. Mbok ya cerita bagian apa yang langsung dibaca dari buku itu. Dua bagian yang sudah selesai saya baca. Bagian pertama adalah "Herman Willem Daendels. Jenderal Pilihan Napoleon yang Menjadi Gubernur di Jawa (1808-1811)". Sampai sekarang saya masih ngebet buat menelusuri jalan Daendels dari Anyer sampai ke Panarukan, sembari nge-blog selama menelusuri jalan itu. Ada yang berminat menemani?

Bagian ke dua adalah "Raden Saleh, Seorang Pelukis Indonesia, Diterima di Paris oleh Raja Prancis, Louis-Philippe d'Orléans (1845-1848). Lukisan Raden Saleh yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro adalah salah satu lukisan kesukaan saya, walaupun saya belum pernah melihat lukisan aslinya. Hanya saja, lukisan tersebut tidak dipampangkan dalam buku ini. Malah ada lukisan yang selalu membuat saya tersenyum-senyum, "Berburu Singa di Jawa" yang katanya laku terjual di Cologne, Jerman, dengan harga 805.000 Euro. Apa harganya yang selangit itu yang bikin senyum? Bukan ... tapi sejak kapan di Jawa ada singa?

Lepas dari kecerewetan saya yang ndak perlu itu, senang sekali akhirnya saya bisa membaca buku ini. Untuk Paman Tyo, nanti kalau sudah rampung buku ini saya baca mungkin saya tertarik juga untuk membaca buku tentang Orang itu (Bacaan Selagi Prei), lha wong sekarang ini saya lagi prei kok.


Posted at 01:30 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Tuesday, October 31, 2006
Barat Timur Utara Selatan

Kalimat-kalimat promosi yang menjadikan "Barat" sebagai tolok ukur sering kali didengungkan. Kalimat bernada sanjungan juga demikian. Lantas "Barat" juga dijadikan padanan untuk kemajuan, modern. Produk jamu dari "Timur" mendadak jadi layak tenggak jika sudah mulai dikonsumsi di "Barat". Pokoknya kalau barang itu sudah ada stempel dari "Barat" mesti oye, ndak perlu ragu, ini ai punya barang bagus punya, tak mahal lagi, you bisa cek toko sebelah dah. Tambahan lagi, kagak malu-maluin, gengsi terjaga.

Mari kita bergeser mata angin. "Utara" adalah tempat yang menjadi simbol kemapanan hidup dan "Selatan" identik dengan tempat kemalangan hidup. Parameter seperti penghasilan per kepala per tahun lantas dijadikan tolok ukur kekayaan dan lantas kesejahteraan. Weiiittt ... sebentar, sebentar, kekayaan?! Lha apan waktu masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah dulu, guru-guru yang saya hormati dengan sungguh itu mengatakan betapa kayanya negara kita yang berlabel "Timur" dan "Selatan". Sangking kayanya, kalau ditanya kita itu punya apa sih sehingga dibilang kaya raya ndak umum, yang ditanya bingung juga dan lantas jawaban gampang yang disusul dengan pertanyaan keluar "apa-apa ada, itu ikan dan udang saja menghampiri dirimu (nyontek Koes Plus), kamu maunya apa?."

Pelabelan model begini, "Utara", "Selatan", "Barat" dan "Timur" memang penggebyah uyahan yang agak serampangan. Toh ada negara "Timur" dan "Selatan" yang juga kaya berdasarkan parameter kekayaan yang lumrah dipakai. Hanya saja yang kadang bikin saya ndak mudeng, itu "Utara", "Selatan", "Barat" dan "Timur" lha tengahnya di mana? Jika hendak mengikuti garis lintang dan bujur yang umum digunakan sekarang (medirian Greenwich), titik tengahnya bumi ada dua!!! Titik pertama adanya di lepas pantai Barat Afrika, sekitar 600-an kilometer sebelah Selatan Ghana atau sekitar 1000-an km sebelah Baratnya Gabon. Lantas, kalau dari titik itu dibor lurus sampai tembus ke titik ke dua, munculnya di suatu tempat di Lautan Teduh sana.

Lha...lantas saya ini mau ngomong apa toh? Ndak tahu juga, ini di depan saya ada peta dunia, atlas sederhana .... bumi rata. 


Posted at 02:48 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Monday, October 30, 2006
Ayo Dicicipi ... Sedikit Saja ...

Tiap kali lebaran ada satu hal yang "menyiksa" saya selain kemacetan lalu lintas *dalam gaya nyinyir*. Walaupun saya itu suka makan, apalagi sudah lama tak mengicipi masakan Indonesia, berat juga rasanya bolak-balik dipaksa makan hindangan standard lebaran sebangsanya opor ayam, sambel goreng ati, ketupat dan konco-konconya itu. Bukan karena saya kurang bersyukur padahal sudah diberi rejeki seperti itu, lagi pula toh tinggal menyuap saja. Akan tetapi, panjang usus saya itu bukannya tak berhingga seperti panjangnya kasih ibu kepada beta, rongga perut juga ada batasnya, walaupun lubang ikat pinggang sudah pindah dua lubang dan kalau mau tambah nyinyir, indra pengecap ini sampai hapal rasa makanan sebelum makanan masuk ke mulut.

Lantas, saya jadi menebak-nebak, bagaimana para peragawati, peragawan, foto model dan para insan wajib diet itu menyiasati lebaran. Bagaimana cara paling sopan untuk menolak hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah yang disambangi. Kalaupun akhirnya dengan jurus sejuta kelit, makanan bisa dihindari, lha minuman suguhan apa ya bisa juga tak disentuh? Perut asem dijejali kopi, kembung dijejali teh.

Sampeyan bagaimana? berapa kilogram makanan dan berapa liter air yang masuk perut dalam satu hari kunjungan?


Posted at 06:43 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page