Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, November 10, 2006
Jalak bali

Seribu Intan nomer 5

Burung yang cantik, begitu saya bergumam setiap kali melihat burung yang satu ini. Lihatlah daerah seputar matanya yang biru terang, bukan biru seperti habis digebuki, sangat kontras dengan warna tubuhnya yang putih salju. Warna hitam di ujung sayap dan ekor seolah menjadi aksen pemanis yang pas. Belum lagi jambulnya, yang sangat tidak Kopral Jono. Burung cantik menawan satu ini, di alam aslinya hanya bisa ditemukan di Pulau Bali, tidak ada di tempat lain di dunia. Jalak bali (Leucopsar rothschildi) tidak sekedar unik, tetapi sangat unik karena Jalak bali adalah satu-satunya jenis burung dalam marga Leucopsar yang masuk dalam keluarga jalak. Lebih dahsyat lagi, inilah jenis jalak yang paling langka (di alam) di dunia, bahkan mungkin sekarang sudah jadi salah satu burung paling langka di dunia.

Lha bagaimana ndak langka, walaupun berapa persisnya jumlahnya di alam ada beberapa versi dan data hasil sensus terbaru juga entah ada di mana, tetapi angka yang paling banyak diterima adalah di bawah 10 ekor (mohon koreksinya jika salah), bahkan pada tahun 2001 katanya jumlahnya tinggal 6 ekor lagi. Selain itu dari semua Jalak bali yang sekarang ada di alam, banyak yang berkeyakinan semuanya sudah pernah merasakan hidup dalam sangkar. Tak ada Jalak bali yang benar-benar pernah hidup bebas sejak menetas. Lha kok bisa? Itulah dia, suara burung ini boleh saja tak indah tetapi kecantikan tubuhnya adalah penyebab kesengsaraannya.

Burung ini diburu dengan gencar karena harganya yang sangat tinggi di pasaran yang seharusnya tak boleh ada. Secara resmi burung ini termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Memiliki tanpa ijin, hidup atau mati atau bahkan memiliki bagian-bagian tubuhnya saja bisa-bisa dapat hadiah kurungan 10 tahun penjara atau denda hingga seratus juta rupiah. Gentarkah para pemburu itu? Ijinkanlah saya untuk tersenyum-senyum saja sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali pusat rehabilitasi burung ini yang ada di Taman Nasional Bali Barat sana dijarah, penjaganya ditembaki, burung-burung yang akan dilepas kembali ke alam di angkut maling, dan sarang-sarang Jalak bali di alam dijarah.

Burung ini sendiri sebetulnya tak sulit untuk berkembang biak. Pada beberapa kebun binatang di Indonesia maupun di luar negri ada cukup banyak jumlahnya, sangat banyak malah. Sekali bertelur bisa mencapai 5 telur, walaupun seringnya sih hanya dua atau tiga butir saja yang dierami selama 21 hingga 28 hari. Lantas 20 harian kemudian sang anak burung sudah bisa berpisah dari induknya. Soal makan juga ndak rewel, Jalak bali bisa makan serangga, buah, biji dan bahkan madu kembang. Burung dalam kurungan kadang diberi makan pepaya, ya disantap juga.

Nah sekarang, itu aturan ndak boleh memelihara Jalak bali kok kayaknya ya cuma aturan saja, burungnya masih ada di pasar (walaupun disembunyikan), burungnya cantik, apa sampeyan lantas berminat mengandanginya di rumah? Baiklah, tak patuh hukum (karena ndak takut), tak ada rasa belas kasihan pada si burung, tapi apa sampeyan berani sama penyakit? Jalak bali diketahui bisa membawa atoxoplasmosis, haemochromatosis, cacar burung, dan cacing termasuk cacing pita. Masih ndak takut juga? Apakah pernah terpikir kemungkinan terburuk yang terjadi? Sampeyan ketangkep, masuk kurungan atau di denda berjuta-juta begitu dan cacingan.

Sudahlah, burungnya nyaris punah dan dikategorikan dalam kategori keterancaman tertinggi "Kritis" (Critically Endangered), ada banyak upaya yang harus dilakukan dan menurut saya upaya pertama adalah menjaga apa-apa yang tersisa di alam itu dari jarahan maling burung. Burungnya sendiri termasuk burung tahan banting, rumahnya di alam masih ada, makanannya masih ada juga, tinggal malingnya saja yang perlu dibedil .... sayangnya saya ndak boleh mbedil maling Jalak bali.

Photo oleh KW Leung diambil dari sini.


Posted at 12:00 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Thursday, November 09, 2006
Tetapi

Tetapi adalah kata yang sering saya hindari pemakaiannya, sangat hemat guna, terutama jika ada teman yang dengan sangat bersemangat  sedang mengemukakan idenya. Adalah kekejaman tak terperi jika ada teman yang sedang mengemukakan idenya lantas ditanggapi dengan "bagus sih, tetapi ....". Jika kata "tetapi" terlalu diumbar maka sebagai pengumbar, julukan sebagai orang yang bisanya protes bisa melekat erat. Tak sedap pula julukan itu. Lantas bagaimana caranya?

Coba ganti kata "tetapi" dengan "apalagi jika" dan perhatikan dua kalimat berikut. 1) "Idemu bagus, tetapi ....", 2) "Idemu bagus. Apalagi jika ...." .  Perhatikan tanda koma dan titik, sangat penting. Jika ditambah dengan keahlian bermain bahasa tubuh dan mimik muka, hasilnya akan luar biasa. Bayangkan ini, tahap pertama, saat mengucapkan kata "Idemu bagus." alis terangkat, ujung bibir ikut terangkat, mimik antusias. Lantas, pada tahap ke dua adalah saat diam, seolah berpikir, ibu jari dan telunjuk menempel di dagu dan jari-jari lainnya mengepal, cukup dua detik saja. Kemudian pada tahap ketiga dengan raut wajah yang serupa dengan tahap pertama, saatnya mengucapkan kata "Apalagi jika ..." dibarengi dengan telunjuk teracung dan ujung telunjuk berada pada posisi sejajar hidung. Mengikuti kata "Apalagi jika ..." adalah ide-ide anda.

Jika kata "Apalagi jika ..." ini digunakan secara beruntun dengan bijak, maka hasil akhirnya bisa jadi ide sampeyan yang akhirnya jadi, sementara ide teman tadi hilang ditelan kemegahan ide sampeyan. Lha lantas edannya lagi itu teman yang tadinya mengemukakan ide awal merasa turut memiliki produk jadinya dan bisa-bisa dia malah berterima kasih sampai bongkokan ke sampeyan. Dengan kata lain yang lebih langsung-langsung saja .... sampeyan sudah menyuruh orang melaksanakan apa yang sampeyan mau dan orang yang disuruh dengan riang gembira dan dipenuhi rasa terima kasih melakukannya.

Mind deception? mungkin saja, walaupun (*menghindari kata tetapi*) saya lebih suka memakai kata "friendly diversion". Dalam dunia organisasi atau kepanitiaan di Indonesia, kemampuan ini tampaknya diperlukan bagi orang-orang dengan posisi sebagai dewan penasehat atau dewan pengarah.


Posted at 08:59 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Delman

Tulisan ibu guru ini paling tidak sejenak membawa saya ke alam masa kecil pada saat saya begitu menikmati bertetirah di Bukit Gundaling, Brastagi di Sumatra Utara sana dengan delman. Naik delman dan berebut dengan adik saya untuk duduk di samping pak kusir. Agak besar sedikit, setiap kali kami ke Bandung atau Purwokerto, delman juga kerap ditunggangi, sekali lagi berebut dengan adik saya untuk memperoleh tempat duduk di samping pak kusir.

Kereta yang dihela oleh satu atau lebih kuda, beroda dua atau lebih, dengan kusir/sais yang memegang pecut/cambuk kecil sambil sesekali pak kusir berseru ck ck ck ck pada kudanya yang berkaca mata tanpa kaca itu. Lima orang bisa diangkut delman kecil, empat duduk di belakang pak kusir, satu lagi di sampingnya. Delman ada yang dilengkapi dengan penampung kotoran kuda ada pula yang tidak. Ada ember kecil berisi dedak yang selalu tergantung di delman dan ada bunyi-bunyian untuk menyatakan kehadiran delman pada pengguna jalan lain, pak kusir menginjaknya ... ding dong.

Di banyak tempat di kota-kota besar, delman sudah mulai menghilang. Kalaupun ada lebih banyak yang berfungsi bukan sebagai alat transportasi tetapi lebih sebagai kelengkapan berwisata atau kelengkapan acara lain seperti kawinan atau wisuda. Persis seperti apa yang pernah dinyanyikan dengan riang oleh Ivo Nilakreshna (tanya sama mbah sampeyan kalo ndak tau) pada suatu masa yang sudah lama tentang kusir delman / tukang sado:

tukang sado datang dari bekasi .... yahoi
masuk kota banyak bemo dan taksi
lagu ini lagu jakarte asli .... yahoi
nenek dengar inget jaman mude lagi

tukang sado narik ke tanah abang .... yaya
bermuatan sepasang pengantin baru
biar sumpah sungguh cinta dan sayang .... yaya
pasti lupa kalau ada yang baru


Bemo menggantikan delman dan lantas giliran bemo digantikan angkot, pernik dari masa kecil banyak yang sudah tergusur. Menjadi juragan delman di kota besar? siapa pula yang sekarang bermimpi untuk menggeluti profesi ini. Profesi yang pada suatu masa dulu bisa menyunting hati nyai kembang seperti di kisah Nyai Dasima-nya SM Ardan. Sami'un juragan delman dari Kwitang yang sudah beristri Hayati (yang bergelar setan ceki) bisa menarik hati (dan ditarik hatinya) oleh Dasima, seorang nyai dari Pejambon. Hanya saja ini dulu. Kalau sekarang? Tengok saja lanjutan dendang Ivo Nilakreshna tadi :

tukang sado narik dari pekojan .... yahoi
pulang-pulang dapet uang sekeranjang


beuh .... kelar ngrampok di mana bang?!

Foto diambil dari sini.


Posted at 01:04 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Wednesday, November 08, 2006
November

Orang Inggris adalah penggemar matahari, girang sangat jika matahari bersinar terang di negerinya dan lantas berkata "such a lovely day". Bisa dimengerti karena Inggris nyaris identik dengan kabut, dingin dan kesuraman. Bagi orang Inggris, matahari adalah kemewahan, tidak sebagaimana di Indonesia banyak orang yang lantas "menyumpahi" matahari yang bersinar terik, kecuali tukang es barang kali yang tersenyum girang jika matahari bersinar terik, sementara tukang bandreg dan wedang jahe mrengut bersungut-sungut. Walaupun mungkin terlalu ekstrim perbandingannya, kegilaan akan matahari bagi orang Inggris sama halnya dengan kegilaan akan salju bagi orang Indonesia. Salju di Indonesia? lho ada ternyata dan pemerintah Kota Bandung membawanya untuk memperingati ulang tahun kota tersebut yang ke-196, seperti yang ditulis di sini.

Kembali ke soal matahari di Inggris, sekarang ini matahari sudah sangat jarang muncul dan kalaupun muncul hanya sebentar saja. Musim panas sudah lewat dan saat ini musim gugur sudah tiba. Kesuraman November ini digambarkan oleh penyair Inggris dari jaman dahulu kala, Thomas Hood (1799 - 1845) yang menulis sebuah gubahan berjudul November, begini isinya :

No sun - no moon!
No morn - no noon -
No dawn - no dusk - no proper time of day.
No warmth, no cheerfulness, no healthful ease,
No comfortable feel in any member -
No shade, no shine, no butterflies, no bees,
No fruits, no flowers, no leaves, no birds! -
November!

Tidak sekelam itu sebenarnya, pagi tadi saya masih mendengar burung Robin bernyanyi. Walaupun demikian saya bisa berempati dengan Hood, musim panas di Inggris memang jauh lebih berwarna, orang Inggris yang tertutup seperti menjadi lebih ramah dan terbuka. Bicara soal "terbuka"-nya orang Inggris, saya jadi ingat seorang teman dari Indonesia yang mengirimkan pesan singkat pada saat musim panas yang lalu "ayo buruan ke taman, sepertinya susu ultra mau buka pabrik di sini", Nah lo .... 


Posted at 02:09 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Tuesday, November 07, 2006
Nama Itu

Baiklah .... tak sepatutnya saya mentertawakan nama orang, karena nama yang diberikan itu adalah harapan dari pemberi nama dan mestinya harapan itu bagus-bagus kan? Seperti doa malah, bukan kutukan atau sumpah serapah. Tapi kali ini saya kok ya ndak tahan juga. Begini dongeng pengantarnya. Pagi tadi saya bongkar-bongkar jurnal ilmiah di perpustakaan kantor, saya ingin mencari tahu beberapa hal yang berhubungan dengan Gelatik jawa (yang sudah mulai hilang dari Pulau Jawa), dan pertanian. Pokoknya semua yang berkata kunci sparrow, finch dan farming saya cari-cari. Ada dua tulisan yang bikin saya ngakak hingga mengundang pertanyaan banyak orang di kantor.

Tulisan pertama, ditulis dalam Bahasa Jerman, berjudul Mutationen bei Prachtfinken, ditulis dalam Haltung und Zucht. Tulisan kedua ditulis dalam Bahasa Inggris, berjudul Conservation and use of agro-biodiversity. Foto dari bagian atas dua tulisan saya pampangkan di sini.

   

Tulisan pertama ditulis oleh Helmut Fucker dan Norbert Fucker, sedangkan yang kedua ditulis oleh J.J. Hardon. Saya ndak bisa membayangkan jika harus memberikan presentasi kepada publik sambil bilang "according to Fucker and Fucker" atau nanya ke teman "do you have Hardon?"

Ada yang bilang apalah arti sebuah nama .... ya itu artinya.

Tambahan : Baru menemukan satu tulisan lagi berjudul Methane production in rock ptarmigan (Lagopus mutus), dan ditulis oleh Gasaway ... kok ya klop sih.


Posted at 07:22 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Masalah Merpati

Himbauan untuk tidak memberi makan burung itu terpasang di dinding kaca tempat menunggu bus di bandar udara Heathrow. Burung yang dimaksud adalah merpati (Columba livia). Orang Inggris yang terkenal ramah terhadap burung, kali ini terpaksa "main keras". Larangan untuk memberi makan merpati berlaku di Trafalgar Square, London, yang terkenal dengan kumpulan burung merpatinya. Larangan yang diberlakukan oleh Walikota London ini dulu sempat ditentang oleh kelompok Save the Trafalgar Square Pigeons, dan kelompok ini tetap memberi makan merpati di salah satu sudut Trafalgar Square yang merupakan wilayah kekuasaan Westminster City Council. Pemerintah London ndak bisa apa-apa, hingga akhirnya mereka mencapai kesepakatan bahwa merpati tetap boleh dikasih makan tetapi hanya satu kali se hari, pagi-pagi jam setengah delapan, sesudahnya merpati harus cari makan sendiri.  

Apa pasal larangan tersebut diberlakukan? Bukankah elok jika suatu kota dengan tamannya, atau pelatarannya untuk kasus Trafalgar Square, dipenuhi merpati, simbol perdamaian, simbol kesetiaan cinta. Merpatinya bisa saja elok, kesan yang ditimbulkan pada saat berada ditengah gerombolan merpati dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua bisa saja romantis, tetapi banyak merpati berarti banyak telek, kotorannya, dan ini jadi masalah.

Di alam, aslinya merpati itu bersarang di tebing-tebing dekat laut, lantas di kota gedung-gedung jangkung menggantikan fungsi tebing-tebing itu. Kotoran merpati bersifat asam, yang merusak dinding gedung-gedung di mana mereka membuat sarang. Makanan yang berlimpah membuat merpati rajin bersarang untuk bertelur dan mereka membuat sarangnya di dinding-dinding gedung itu.

Selain itu kotoran merpati juga menjadi sarana bagi menyebarnya beberapa penyakit, sebut saja Histoplasmosis dan Cryptococcosis sebagai salah dua contoh penyakitnya. Karena sebab-sebab itu, jumlah merpati harus dikendalikan dan larangan memberi makan hanya salah satu cara untuk mengurangi kecepatan berbiak mereka. Cara lain ya dijaring, diracun atau dibunuh dengan menempatkan musuh alaminya di sekitar daerah gerombolan merpati .... dengan menempatkan alap-alap. Ada pula cara lain untuk mencegah agar merpati tidak hinggap, dan lantas buang kotoran, di suatu tempat. Tempat itu dipasangi logam-logam yang disusun seperti duri landak.

Soal merpati sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan? hihihihi ... merpati itu kerjanya gonta-ganti pasangan je, ndak yang jantan ndak yang betina, sama saja.


Posted at 01:51 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, November 06, 2006
Rambut Hidung

Tiba di London pagi tadi jam lima pagi lebih sedikit waktu GMT disambut cuaca khas Inggris, dingin dan berkabut. Tubuh yang masih terbiasa dengan udara tropis yang hangatnya suam-suam kuku memaksa saya langsung membongkar isi koper begitu koper muncul di conveyor belt barang, untuk mengambil baju hangat serta tutup kepala. Maklum saja suhu di luar itu 3 derajat Celcius di atas titik beku, bandingkan dengan Bogor yang pada saat saya tinggalkan bersuhu sekitar 29 derajat Celcius. Tanpa baju hangat dan penutup kepala, saya bisa jadi es loli berjalan di luar sana pada saat menunggu bus.

Ada satu bagian tubuh saya yang sangat rentan terhadap serangan hawa dingin yang sedihnya tidak bisa ditutup. Hidung. Pada keadaan ekstrim darah bisa mengucur deras dari hidung saya jika suhu terlalu dingin (atau terlalu panas). Beruntung sekali saya memiliki hidung dengan rambut hidung yang lumayan gondrong, dan ini sangat membantu untuk menjaga rongga dalam hidung tetap hangat dan lembab sehingga pembuluh darah tidak pecah dan darah mengalir ke luar. Rambut hidung? kok bukan bulu hidung? Buat saya bulu itu ya seperti yang dimiliki oleh burung, dan yang ada di rongga hidung saya itu rambut.

Ada banyak orang yang dengan alasan estetika, mencukur atau mencabut rambut hidungnya, biar rapih katanya. Padahal rambut hidung itu berfungsi untuk menyaring partikel halus di udara agar tidak masuk ke paru-paru dan untuk menjaga kelembaban rongga dalam hidung. Partikel halus yang terperangkap di rambut hidung pada proses lanjutan akan diselaputi lendir, dan lendir yang mengering itulah yang dikenal dengan upil. Pada tahapan selanjutnya upil tadi dikeluarkan secara alami ataupun keluar dengan paksa (melalui proses ngupil) ... kotoran terbuang.

Lantas soal menjaga kelembaban hidung, begini ceritanya. Pada saat kita mengeluarkan nafas, udara yang mengandung air melewati rambut-rambut hidung, dan udara yang mengandung air itu sebagian terperangkap oleh rambut-rambut sehingga rongga hidung tetap lembab. Jika rambut hidung digunduli, uadar akan bablas langsung keluar tanpa hambatan dan akibatnya rongga hidung bisa kering kerontang. Dingin, kering, pecahlah pembuluh darah di rongga hidung dan darah bocor keluar ... mimisan.

Pagi tadi, saya tidak mimisan, terima kasih pada rambut hidung yang gondrong. Penggundulan paksa rambut hidung tampaknya tak cocok untuk saya. Tanpa rambut hidung saya bisa mimisan dahsyat dan .... bisa-bisa ndak punya upil.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 09:48 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Sunday, November 05, 2006
Foto-Foto Saja

Cuma mau majang foto ketemuan kemarin itu di Omah Sendok.

   
   
   
   

Posted at 09:39 pm by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Saturday, November 04, 2006
Gambar Malu-Malu

Monyet-monyet lucu bermain di tajuk-tajuk pohon, tangan, kaki dan ekornya bergantian memegang dahan. Mereka sedang lengah ... tiba-tiba mahluk terbang dengan panjang satu meter berbentang sayap 2 meter menyambar secepat sinar (*berlebihan*). Hari itu monyet-monyet itu kehilangan satu kawan main mereka, yang menjadi santapan siang sang burung perkasa, Elang Harpy (Harpy Eagle). Tak ada urusan dengan soal kejam-kejaman di cerita itu, ini adalah masalah bertahan hidup di belantara Amerika. Lengah di tajuk pohon disambar Harpy, lengah di tanah jadi santapan Jaguar, tak waspada di pinggiran kali ada buaya Caiman, berleha-leha di rawa bakal remuk dalam pelukan Anaconda.

Harpy Eagle (Harpia harpyja) adalah elang terbesar ke dua di dunia setelah Philippine Eagle (Pithecophaga jefferyi), dan dia adalah raja udara di Amerika Tengah dan Selatan mulai dari Mexico hingga ke Timur Laut Argentina. Burung betina lebih besar dari yang jantan dan mampu mengangkut mangsa hingga 6 kilogram . Tak hanya monyet yang menjadi makanannya, Coati yang imut hingga Sloth yang pemalas bakal dijadikan menu makannya jika tidak waspada.

Seperti hanya elang-elang besar lainnya, Harpy tak rajin bertelur, hanya satu saja setiap 2 hingga 3 tahun. Anaknya harus dijaga selama 6 bulan pertama dan masih diberinya makan hingga bulan ke 16 dan setelahnya, anak Harpy harus menjadi burung yang mandiri, cari makan sendiri, mencari pasangan dan melanjutkan kelangsungan keberadaan Harpy di muka bumi. Hanya saja, pohon-pohon besar untuk tempatnya bersarang dibabati, Harpy sendiri diburu dengan bedil dan sumpit dan burung raksasa ini makin tak mudah hidupnya. Dalam daftar burung-burung terancam punah di dunia, Harpy tak terdaftar, belum tepatnya, statusnya masih berada di ambang batas, mendekati terancam punah. Luasnya daerah sebaran dan hutan Amazon yang masih mampu tegak walaupun sudah doyong atau bahkan sudah bersih di sana-sini, seolah menjadi benteng bagi Harpy untuk tetap bertahan. 

Begitulah sedikit cerita soal Harpy. Lha saya ndobos soal burung yang tidak ada di Indonesia dan di luar hari Jum'at ini gara-gara dikirimi gambar Harpy oleh dokter hewan tukang komik, yang katanya kertasnya sudah dikuwel-kuwel mau dibuang. Tak banyak artis penggambar hewan apalagi gambar burung di Indonesia. Kalau hanya melukis burung untuk hiasan mungkin banyak, tetapi untuk kepentingan ilmiah dan untuk keperluan mengamati burung, bisa dihitung dengan sebelah jari-jari tangan. Seorang teman lain gambar burungnya malah nggilani pol detailnya dan saya yakin itu gambarnya sudah berkelas dunia. Hanya saja, para pelukis hewan begini masih malu-malu memajang hasil karyanya padahal ada banyak orang yang membutuhkan keahlian mereka itu.

Jika seorang pengamat burung (birdwatcher) pergi mengintip-intip burung (birdwatching) mereka selalu membawa buku panduan lapangan (field guide) yang berisi gambar-gambar burung dan ciri-ciri untuk mengenali burung yang dilihatnya. Tidak seperti kebanyakan negara lain yang memerlukan satu field guide untuk seluruh burung di negara itu, Indonesia memerlukan tiga, sangking banyaknya jumlah spesies burung yang ada di Indonesia. Tiga field guide yang paling banyak dipakai itu, semua gambar burungnya dilukis oleh orang bukan dari Indonesia dan ditulis juga bukan oleh orang Indonesia. Untuk buku yang digunakan di Indonesia bagian Barat, bukunya malah sudah tak ada lagi dijual di Indonesia, habis!!!

Lha kok orang Indonesia ndak ada yang bikin field guide? Alasannya klasik (bisa juga dibaca: basi), ndak punya modal (uang maksudnya). Tambahan lagi itu para tukang gambarnya ya masih malu-malu, malah ada yang mau membuang gambarnya. Sementara para penulis naskah untuk field guide? waaaah ini lebih parah lagi, malah sibuk ndobos ndak karu-karuan, termasuk ndobos soal kemalu-maluan para tukang nggambar burung itu.

Gambar oleh Tito.


Posted at 10:17 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Idola

Anak saya yang paling kecil sekarang punya idola baru, ini hasil ketemuan kemarin malam beberapa blogger di Omah Sendok yang lantas diteruskan di warung pinggir jalan di Menteng karena Omah Sendoknya sudah harus tutup (sudah terjadi dua kali dari dua kunjungan). Idola baru anak saya itu dua sekaligus, dan dua-duanya perempuan. Perlu digarisbawahi di sini bahwa hal tersebut bukan karena faktor keturunan, paling tidak dari sisi saya, entah kalau dari Ibunya. Saya dulu semasa kecil ya punya beberapa idola, tapi tidak pernah sekaligus dua. Sampai pagi tadi anak saya itu masih bercerita dengan bersemangat tentang bincang-bincangnya dengan dua idola barunya itu, dan dia menyebut mereka secara kolektif sebagai "tante yang asik".

Punya idola adalah kejadian yang lumrah, pada tingkat yang lebih tinggi idola lantas menjadi panutan yang sering ditiru habis-habisan dari mulai cara bicara hingga cara berdandan. Personifikasi, ingin seperti atau menjadi idolanya, paling tidak pada tampak luar. Katanya sih itu tahapan wajar pada saat manusia sedang mencari jati dirinya (kenapa namanya jati diri ya? bukan sengon diri, randu diri atau beringin diri?). Dalam dunia hiburan dan olah raga, para pelakunya sering kali dijadikan idola dan kehidupan sang pelaku lantas dibongkar habis-habisan untuk memenuhi rasa ingin tahu banyak orang. Para pengidola lantas memburu apa-apa yang ada kaitannya dengan sang idola yang sebagian merupakan hasil bongkar-bongkar kehidupan pribadi sang idola tadi. Untuk apa? ya untuk ditiru, untuk merasa dekat dan pada tataran tertinggi ... untuk menjadi. Untuk kasus anak saya tadi, saya berdoa dengan keras agar anak saya tidak lantas bergaya bicara dan berdandan seperti tante yang asik itu ... lha wong anak saya itu laki-laki je.


Lantas, bagaimana dengan dua tante asik itu tadi? Entahlah, walaupun tampaknya mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak saya yang selalu nempel itu. Mungkin juga mereka senang. Lho? senang?! ... iya lah secara anak saya itu brondong gitu loh, yang masih layak menerima cubitan dan ciuman gemas .... sedih gak sih gue? *meniru gaya bicara tante asik*


Posted at 03:36 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Next Page